Home / Peristiwa / Nasional / Virus Corona Semakin Ganas, PSR: Segera Lakukan Lockdown!
Anggota Fraksi Demokrat DPR RI Putu Supadma Rudana (kanan) bersama Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, dalam sebuah kesempatan. (istimewa)

Virus Corona Semakin Ganas, PSR: Segera Lakukan Lockdown!

Jakarta (KitaIndonesia.Com) – Anggota Komisi VI DPR RI Putu Supadma Rudana (PSR) mengusulkan agar lockdown atau menyetop sementara kunjungan wisatawan mancanegara segera dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Pasalnya, penyebaran pandemi virus corona semakin ganas dan sulit dikendalikan.

PSR mengingatkan, jumlah pasien positif terjangkit virus corona di Indonesia terus bertambah menjadi 134 orang per Senin (16/3/2020). Itu artinya, ada peningkatan 17 kasus dibandingkan Minggu (15/3/2020), yang berjumlah 117 kasus positif.

Anggota Fraksi Demokrat DPR RI ini mencontohkan beberapa negara yang telah melakukan lockdown, untuk memotong rantai penyebaran virus corona jenis baru (Covid-19) ini. Yang terbaru, Malaysia melakukan lockdown hingga 31 Maret dan Prancis melakukan lockdown selama 15 hari.

“Saya melihat, social distancing yang disarankan pemerintah kurang efektif. Masyarakat tetap ke luar rumah, dan justru malah menimbulkan keramaian yang mempermudah penyebaran virus di tempat umum ataupun sarana transportasi,” kata PSR, dalam keterangan persnya, di Jakarta, Selasa (17/3/2020).

“Antrean yang menumpuk, masyarakat diliburkan (di rumah) malah pergi berlibur, perusahaan yang masih memperkerjakan karyawannya, ini artinya pemerintah belum berhasil mengontrol masyarakatnya untuk melakukan “perang dengan corona”. Saran saya, segera lockdown. Saya tidak tidak rela jika Presiden, Wapres dan Menteri lainnya juga terkena corona,” imbuh politikus Partai Demokrat asal Gianyar, Bali ini.

PSR yang juga Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen DPR RI ini menggarisbawahi, lockdown jangan sampai dipahami secara berlebihan oleh pemerintah. Sebab, lockdown mempunyai tiga kategori, masing-masing total lockdown, partial lockdown, dan local lockdown.

Pertama, lockdown total seperti di Spanyol, Prancis dan beberapa negara di Eropa. Total lockdown menyerupai shutdown dan pihak keamanan menjaga tiap sudut agar masyarakat tidak ke luar rumah.

“Jika ke luar rumah pun, hanya untuk membeli kebutuhan kesehatan dan kebutuhan pokok, itupun sangat dibatasi jumlahnya perkeluarga,” jelas PSR.

Kedua, ada partial lockdown yang  sudah dilakukan di Indonesia. Sekolah ditutup, perguruan tinggi ditutup, banyak instansi meliburkan para pekerjanya dengan bekerja di rumah, penutupan tempat – tempat hiburan, hingga tempat keramaian seperti dilakukan Pemprov DKI Jakarta yang menutup Ancol, Kota Tua, Museum dan pembatalan berbagai kegiatan yang melibatkan orang banyak.

Ketiga, local lockdown bisa dimaknai sebagai kondisi di mana perorangan mengisolasi diri, keluarga tidak bepergian hanya di rumah, satu kawasan di-lockdown, satu desa di – lockdown, ataupun satu area di – lockdown.

“Jadi pemerintah Jokowi jangan ‘over reaction‘ dengan kata lockdown,” tandas anggota DPR RI dua periode ini.

PSR menambahkan, ketiga kategori lockdown ini memerlukan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Ia lalu mencontoh Pemprov DKI Jakarta dan pemerintah pusat, terkait hal ini.

“Pemprov DKI Jakarta mengambil sikap proaktif, cepat. Tapi pemerintah pusat terkesan gagap dan lambat. sehinggaS kedua belah pihak tidak dapat bersinergi dan sinkronisasi dan terjadilah kondisi dimana masyarakat yang dirugikan karena lemahnya koordinasi. Disinilah peran Presiden menjadi ‘dirijen’ agar melakukan orchestrasi nasional dalam menangkal pandemi corona ini,” pungkas PSR. (KI4)

Check Also

Instruksi Kapolri kepada Kapolda dan Kapolres: Tindak Tegas Anggota yang Melanggar Aturan

Jakarta (KitaIndonesia.Com) – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menginstruksikan secara tegas kepada seluruh jajarannya untuk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *