Home / Nusantara / Uskup Ruteng: Gereja Harus Hadir di Tengah Mereka yang Terlupakan
Uskup Ruteng, Mgr Siprianus Hormat, Pr. (kitaindonesia.com/itho umar)

Uskup Ruteng: Gereja Harus Hadir di Tengah Mereka yang Terlupakan

Labuan Bajo (KitaIndonesia.Com) – Gereja Katolik harus hadir di tengah masyarakat, terutama untuk membantu orang-orang yang sedang membutuhkan bantuan dan perhatian. Salah satu wujud nyata kehadiran gereja adalah dengan mendekatkan diri kepada orang-orang yang terlupakan di tengah masyarakat.

Demikian ditegaskan Uskup Ruteng Mgr Siprianus Hormat, Pr, saat mengunjungi Rumah Peduli Perempuan dan Anak JPIC Flores Barat, di Labuan Bajo, Minggu (05/07/2020). Pada kesempatan tersebut Uskup Siprianus berkesempatan menyerahkan bantuan untuk lembaga yang telah banyak menangani kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan itu.

Diakui Uskup Siprianus, belakangan ini perhatian dan bantuan terhadap sesama semakin memudar. Hal itu sebagai akibat dari adanya pergeseran nilai-nilai budaya, adat istiadat dan iman yang tergerus. Itu sebabnya, Uskup Siprianus menekankan pentingnya mewujudkan karya dengan mengedepankan pelayanan yang mengutamakan cinta, kasih serta perhatian yang besar.

“Karya ini coba kita wujud nyatakan pada kelompok-kelompok yang barangkali dalam kesehariannya banyak orang lupa, baik itu mungkin pemerintah, mungkin juga keluarga sendiri. Seperti rekan-rekan kita orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Kadang kadang dilepas, dipasung di satu rumah yang kadang-kadang kurang bermartabat. Tapi itulah, kehadiran kita memang bukan segala-galanya. Tapi kita ingin mengekspresikan bahwa mereka tidak sendirian. Pemberian kita juga mungkin tidak terlalu berarti, tapi hati kita mau dekat dengan mereka, cinta dan perhatian kita juga ada bersama dengan mereka,” ucapnya.

Uskup Siprianus juga menyinggung banyaknya kasus kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan dan anak yang sering terjadi di tengah masyarakat. Ia mengajak untuk melihat setiap persoalan secara obyektif, yang bersumber dari berbagai aspek, baik dari sisi kurangnya peran gereja atau peran masyarakat itu sendiri.

“Untuk bisa sampai mengendus apa yang menjadi bara api dari asap yang muncul ke permukaan ini, pasti butuh waktu. Supaya kita tidak hanya terjebak pada opini – opini publik. Kita mau bekerja melalui satu data yang obyektif. Darimana asal muasalnya, inikan pasti simpul yang muncul ke permukaan. Semua bentuk kekerasan itu atau semua semua masalah sosial yang ada, tentu kita akan mencoba mencari apa yang kurang. Dan itu pertama biasanya juga tidak akan fokus hanya pada sisi gereja saja,” urainya.

BACA JUGA:   NTB Tutup Akses, Lima Warga NTT Tertahan di Pelabuhan Padang Bai

“Inikan dari sisi masyarakatnya, apa yang kurang – lebih yang mungkin ada. Mungkin ada nilai – nilai budaya yang sudah berkurang atau mungkin juga ada nilai iman yang mulai luntur atau ada juga mungkin sekolah – sekolah yang tidak lagi menjadi basis pendidikan nilai, atau rumah juga barangkali sudah tidak lagi menjadi pendidikan iman,” imbuh Uskup Siprianus.

Ia juga menyoroti banyaknya polemik akan rencana pembangunan yang terjadi di tengah masyarakat Manggarai Raya. Uskup Siprianus menilai polemik yang terjadi sebagai salah satu bentuk hilangnya identitas budaya masyarakat.

“Gereja melihat ada pergeseran nilai di tengah masyarakat. Ketika identitas budaya seseorang sudah tidak ada lagi, maka nilai-nilai yang menjadi ‘bumi dipijak langit dijunjung’ itu hilang. Di mana orang dibesarkan, di mana budaya itu ditumbuhkan, harus direlokasi. Jadi adat kita sangat lain, konsepnya itu sangat holistik,” tandasnya.

Menurut dia, masyarakat tentu tidak bisa menafikan segala bentuk perkembangan. Hanya saja, akan sangat baik apabila semua itu ditempatkan bukan dalam pertimbangan satu aspek semata.

“Terkait dengan tambang juga sama. Bukan hanya soal kesejahteraan ekonomi yang mau diutamakan. Kalau soal kesejahteraan ekonomi, lalu kemudian orang dicabut dari identitas budaya. Dia lupa bahwa kita ini bukan robot, kita manusia yang dibentuk dengan nilai-nilai yang memang sejak di rumah kita sudah dididik local wisdom yang menyatakan ‘neka hemong e beo bate ka’eng, uma bate duat, lingko’n pe’ang, gendang one, wae bate teku, compang one’. Wisdom-wisdom seperti ini yang akhirnya mulai meluntur, karena memang identitas ini sudah mulai tidak dirasakan,” pungkas Uskup Siprianus. (KI-21)

Check Also

Warga Gorontalo Tutup Akses Jalan Simpang Pede

Labuan Bajo (KitaIndonesia.Com) – Warga Desa Gorontalo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *