Home / Hukum / Togar Situmorang Beberkan Kejanggalan Kasus Dugaan Tindak Pidana Pencurian Oleh Tiga Mahasiswa
Advokat Togar Situmorang saat menerima kedatangan pihak keluarga kliennya. (istimewa)

Togar Situmorang Beberkan Kejanggalan Kasus Dugaan Tindak Pidana Pencurian Oleh Tiga Mahasiswa

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Tiga mahasiswa yang sedang berlibur ke Bali, dituduh melakukan tindak pidana pencurian dengan kekerasan sebagaimana diatur dalam Pasal 365 KUHP.

Ketiga mahasiswa tersebut masing-masing adalah RS, Y dan N. Ketiganya saat ini ditahan oleh pihak kejaksaan wilayah Badung, Bali.

Menghadapi kasus ini, orangtua RS meminta bantuan hukum advokat senior Togar Situmorang, SH, MH, MAP, CMed, CLA. Orangtua RS bahkan mendatangi Kantor Law Firm Togar Situmorang Cabang Denpasar di Jalan Gatot Subroto Timur Nomor 22, Denpasar Timur, Sabtu 8 Mei 2021.

“Puji Tuhan, ketiga klien kami yang adalah mahasiswa tersebut dalam keadaan sehat dan kasus mereka sudah dilimpahkan ke kejaksaan. Jadi tinggal menunggu jadwal untuk sidang pengadilan,” kata Togar Situmorang, usai menerima kedatangan orangtua RS.

Ia sangat berharap, pihak kejaksaan akan lebih jeli dan menggunakan hati nurani dalam menangani kasus ini. Apalagi, menurut Togar Situmorang, ada kejanggalan dalam kasus ini apabila mencermati kondisi yang terjadi di lapangan saat kejadian.

“Agak janggal, karena sesungguhnya klien kami yang sebenarnya menjadi korban. Jumlah klien kami hanya bertiga, sementara yang mengaku korban berjumlah lebih dari tujuh orang,” beber advokat kelahiran Jakarta ini.

Dikatakan, sekitar Pukul 03.00 dinihari, para mahasiswa ini sedang melewati ruas jalan di daerah Dalung, Badung. Saat itu, ada banyak orang yang berkumpul.

“Kan janggal juga, pada saat pembatasan jam kumpul atau aktifitas di masa pandemi Covid19, anak-anak itu malah berkumpul,” ujar Togar Situmorang.

Bukan itu saja, pada dini hari itu mobil ketiga mahasiswa ini diserempet dan disambut dengan kata-kata yang menghina. Mereka juga ditantang duel oleh kelompok yang berjumlah tujuh orang lebih tersebut.

“Fakta bahwa jumlah mereka tidak seimbang. Lalu terjadi perkelahian. Ujungnya, ketujuh orang yang nongkrong dini hari jam 3 pagi tersebut lari tunggang langgan. Mereka kabur dengan meninggalkan kendaraan berupa motor yang terparkir dan kunci masih nyantol,” jelas Togar Situmorang, mengutip keterangan orangtua RS.

Dalam kasus tersebut, imbuhnya, sama sekali tidak ada niat mencuri dari para mahasiswa. Bahkan ketiga mahasiswa ini sempat berteriak mengingatkan motor kelompok tujuh orang itu jangan ditinggalkan di lokasi.

“Ini kan sangat janggal jika malah klien kami yang dilaporkan oleh seorang ibu berinisial P, yang tidak ada saat kejadian tersebut di lokasi. Apalagi klien kami juga dituduh melakukan perbuatan kriminal pencurian dengan pemberatan,” tandas Togar Situmorang.

Advokat berdarah Batak ini lalu membeberkan kejanggalan lain berupa narasi yang dibangun dalam pemberitaan sebuah media online. Ia menilai pemberitaan tersebut sangat liar serta tanpa melakukan konfirmasi kepada ketiga mahasiswa.

Kami sangat menyayangkan pemberitaan yang sangat liar tanpa adanya klarifikasi. Apalagi klien kami dianggap sebagai begal. Padahal latar belakang klien kami dan keluarga mereka tidak pernah melakukan tindakan pidana selama ini,” ucapnya.

Pemberitaan tersebut dinilai sangat tidak berimbang. Pemberitaan tidak menyoroti anak-anak bawah umur yang bergerombol dan berkerumun di masa pembatasan saat pandemi Covid-19.

“Pemberitaan itu cenderung mengarah pada tindakan pencemaran nama baik alias pembodohan ke masyarakat alias hoaks,” tegas Togar Situmorang.

Di sisi lain, dalam pemberitaan media online itu juga disebutkan bahwa ketiga mahasiswa ini melakukan pembegalan kepada seorang ibu dan anak. Ibu tersebut diberitakan mengalami luka dan dijahit dengan 18 jahitan.

Merasa anaknya tidak memiliki karakter demikian, orang tua RS lalu mendatangi keluarga korban, bernama Pak Agus. Mereka diterima dengan baik oleh Pak Agus. Bahkan keluarga Pak Agus juga berjanji akan membicarakan hal ini kepada keluarga lain, untuk bertemu kembali.

Keesokan harinya orangtua RS juga menemui pelapor dan ibu berinisial “P”. Faktanya kondisi P dalam kondisi sehat walafiat tanpa ada luka sama sekali. Sangat berbeda dengan pemberitaan yang menyebut bahwa luka P dijahit dengan 18 jahitan.

Tidak ada penganiayaan berat. Justru RS dkk kena pukul dan banyak sekali memar disekitar wajah. Mata Y biru sampai hitam. RS ada sulutan rokok kiri kanan, rahang,” urai Togar Situmorang, mengutip penjelasan orangtua RS.

Mencermati berbagai kejanggalan ini, Togar Situmorang akan mengambil langkah terkait pemberitaan ini.

Kami melihat pemberitaan di media tersebut sangat ngawur dan entah berasal dari mana sumber berita pembuatannya. Entah keterangan siapa yang diminta. Mungkin juga ada rekayasa dari si Pelapor. Tentu kami tidak akan diam dan akan melakukan tindakan hukum guna mendapatkan sumber dan mengklarifikasinya,” tegas Togar Situmorang.

Selanjutnya terkait penggunaan Pasal 365 KUHP untuk kasus ini, ia menilai bahwa hal itu terlalu berlebihan dan tidak tepat. Sebab ketiga mahasiswa tidak ada niat sama sekali untuk mencuri apalagi sampai niat berkelahi. Karena kedatangan mereka ke Pulau Bali hanya untuk berlibur.

Semoga proses penegakan hukum terhadap klien kami bisa berjalan dengan baik. Semoga pada tahap persidangan nanti semua kejadian bisa dibuka secara terang benderang. Tentunya kami sebagai Penasehat Hukum yang sudah ditunjuk menyelesaikan kasus ini, akan mengawal sampai tuntas guna lahirnya suatu keadilan,” pungkas CEO & Founder Law Firm Togar Situmorang yang berkantor pusat di Jalan Tukad Citarum Nomor 5A, Renon, Denpasar Selatan, ini. (KI-01)

Check Also

Diduga Cemarkan Nama Baik, Istri Zainal Tayeb dan Salah Satu Media Online Disomasi

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Diduga mencemarkan nama baik melalui media online, istri dari terdakwa Zainal Tayeb, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *