Home / Ekonomi / Tinggi Peluang Budidaya Porang di Manggarai Barat, Petani Rego Sudah Buktikan
Proses pembibitan porang di kediaman Basri Aloysius di Labuan Bajo. (istimewa)

Tinggi Peluang Budidaya Porang di Manggarai Barat, Petani Rego Sudah Buktikan

Labuan Bajo (KitaIndonesia.Com) – Porang, belakangan ini mendadak jadi tanaman paling diburu di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Umbi-umbian hutan yang selama ini tumbuh liar dan tak pernah dilirik itu, beberapa tahun belakangan mulai dibudidayakan oleh petani di sejumlah daerah di Bumi Komodo itu.

Salah satunya adalah di Desa Rego, Kecamatan Macang Pacar, Manggarai Barat. Bahkan menurut Basri Aloysius, ketua BUMDes Timbangraung Desa Rego, sudah ada sejumlah petani di desa itu yang menggantungkan hidup dari Porang.

“Dalam lima tahun terakhir ini, banyak warga di sekitar Kampung Rego tertolong hidupnya karena berburu mencari umbi tanaman ini di hutan,” kata Basri Aloysius, di Labuan Bajo, Rabu (11/12/2019).

Menurut dia, semula beberapa pembeli yang datang langsung dari Surabaya dan bahkan membuka gudang penampungan di Reo, Kabupaten Manggarai, yang membuka mata para petani di Rego untuk melirik tanaman yang dalam bahasa setempat disebut Wanga, ini. Tak sampai di situ, sebab para pembeli dari Surabaya juga menjalin kerja sama dengan agen lokal di Rego.

“Selama ini sudah beratus – ratus ton porang telah diantar-pulaukan ke Surabaya melalui Pelabuhan Kedindi, Reo. Agen lokal yang terus bekerja hingga hari ini di Rego, misalnya Vinsen Lim, Joni, Dorpi Piolin, dan lainnya,” papar Basri Aloysius, yang juga mantan anggota DPRD Provinsi NTT ini.

Dalam rentang waktu berjalan, imbuhnya, ada beberapa orang di Rego yang sudah serius membudidayakan porang. Mereka bahkan sudah menikmati hasil panen tanaman ini.

Bagi Basri Aloysius, dengan perkembangan di wilayah Rego ini, peluang budidaya porang sangat tinggi di Manggarai Barat. Apalagi dari hasil pengamatannya di wilayah Rego, rata-rata porang yang dibudidayakan di lahan seluas 1 hektare menghasilkan Rp 800 juta hingga Rp 900 juta.

“Secara ekonomi sangat prospektif. Sementara ketersediaan bibit di hutan – hutan juga hampir ada sebagian besar wilayah Kabupaten Manggarai Barat,” ujar mantan anggota DPRD Kabupaten Manggarai Barat ini.

Ia pun mengajak Pemkab Manggarai Barat dan Pemprov NTT untuk menyelamatkan ‘aset pemberian alam’ ini. Apalagi dari informasi di lapangan, banyak bibir porang yang sudah dijual ke Pulau Jawa, karena harga yang menggiurkan.

“Banyak yang masih tergolong bibit kabarnya terjual ke Jawa karena tergiur harga bibit yang rata – rata mencapai 150 ribu rupiah per kilogram. Karena itu, kami mengajak pemerintah kabupaten maupun provinsi, untuk menyelamatkan aset ini, sebelum terlanjur punah dan terjadi kelangkaan bibit tanaman,” kata Basri Aloysius.

Ia sendiri mengaku sudah mulai merintis usaha budidaya porang ini di wilayah Desa Rego. Basri Aloysius berharap, porang ini dibudidayakan serentak di Manggarai Barat, karena diyakini akan memberikan manfaat bagi usaha kesejahteraan masyarakat, khususnya petani.

“Semoga serentak kita bersama bergerak melalui serangkaian pendampingan, pemberdayaan dan sentuhan bantuan usaha untuk petani melalui pengadaan bibit tanaman porang ini,” ajak Basri Aloysius.

Diketahui, porang adalah jenis umbi – umbian hutan yang memiliki ciri batang tunggal bercorak belang hijau putih, dengan tampilan bunga mirip trompet. Porang dikenal dengan nama ilmiah amorphophallus muelleri. Di Jawa, sering dikenal dengan tanaman yang hampir mirip dengan porang, yakni iles – iles atau suweg.

Porang menjadi terkenal, setelah Paidi (37), yang ditayangkan Kompas, membuka mata dunia tentang kehebatan tanaman ini. Porang ini telah merubah Paidi dari seorang pemulung menjadi miliarder porang. Desa Kepel di Madiun, tempat asal Paidi, bahkan telah menjadi Pusat Studi Porang Indonesia. (KI4)

Check Also

Bali Terancam Krisis Listrik, Parta: PLN Harus Pikirkan Solusinya

Kuta (KitaIndonesia.Com) – Bali terancam mengalami krisis listrik mulai tahun 2021 mendatang. Hal tersebut akan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *