Home / Peristiwa / Nasional / Supadma Rudana: Kebudayaan Ujung Tombak Perekat Persatuan
Putu Supadma Rudana saat menghadiri acara Malam Budaya 'Wayang Warisan Budaya Dunia dari Indonesia', di Museum Rudana, Ubud. (istimewa)

Supadma Rudana: Kebudayaan Ujung Tombak Perekat Persatuan

Gianyar (KitaIndonesia.Com) – Anggota Fraksi Demokrat DPR RI yang juga Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) Putu Supadma Rudana (PSR), terus membuktikan kecintaannya terhadap seni dan kebudayaan. Salah satunya, dengan terus menggaungkan pelestarian seni dan budaya melalui berbagai cara.

Hal itu dilakukan Supadma Rudana, mengingat kebudayaan merupakan alat perekat persatuan. Selain itu, kebudayaan juga merupakan alat diplomasi bangsa.

“Ketika kita bicara kebudayaan sebagai ujung tombak perekat persatuan, saya apresiasi tokoh pendiri museum, para pelaku seni budaya, pengelola museum, dalam hal ini masyarakat seni budaya yang berkomitmen melakukan pengabdian dan pelestarian dengan kecintaan terhadap seni dan budaya itu sendiri,” tutur Supadma Rudana.

Ia mengatakan hal itu saat ditemui disela-sela menghadiri undangan selaku Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI), dalam acara Malam Budaya ‘Wayang Warisan Budaya Dunia dari Indonesia” di Museum Rudana, Desa Peliatan, Ubud, Kabupaten Gianyar, Jumat (20/2/2019) malam.

Dikatakan, sebagai salah satu kader dari museum dan kader masyarakat budaya, dirinya melihat jabatan itu hanya sementara. Bahkan politik itu juga sementara.

“Sukma saya ada di seni, ada di budaya,” tandas Supadma Rudana, yang pada periode 2014-2019 duduk sebagai anggota Komisi X DPR RI membidangi pariwisata, pendidikan, pemuda olahraga, adat – budaya serta ekonomi kreatif ini.

Mantan Ketua Departemen Seni dan Budaya DPP Partai Demokrat ini melihat, kondisi bangsa Indonesia saat ini mengalami tantangan besar dalam pelestarian kebudayaan. Tantangan tersebut salah satunya adalah terkait fenomena pembajakan budaya.

“Kebudayaan adalah ujung tombak perekat persatuan. Dengan berbagai yang saya sampaikan kondisi sekarang jelas, saya hadir sebagai sosok, sebagai orang yang mencintai budaya. Jabatan saya di Ketua Umum Museum, jabatan saya di Wakil Ketua BKSAP, jabatan di Waksekjen Demokrat, adalah jabatan sementara semuanya. Tetapi cinta saya, ketulusan saya, kecintaan saya kepada seni budaya, untuk museum, itu begitu besar. Karena itu komitmen saya, bagaimana ke depan museum dan kebudayaan ini terus tergaung dengan baik dan mulia,” tegasnya.

Supadma Rudana menambahkan, esensi perjuangan bangsa dalam seni dan kebudayaan adalah ketahanan dan pemersatu bangsa. Dalam malam budaya tersebut, juga menggunakan media Wayang, di mana banyak filosofi Mahabrata, Ramayana yang berisi pengabdian luar biasa.

“Ramayana menunjukkan kesucian yang abadi. Ketika Dewi Sita divonis salah, dia berani menunjukan keberaniannya dan mengorbankan dirinya ke peleburan dari atma menjadi paramatma. Komitmen ini artinya bahwa kita harus mampu mengabdi tulus, dan saya mengabdi tulus untuk kebudayaan,” ucapnya.

Supadma Rudana pun melontarkan apresiasinya karena banyak tokoh-tokoh yang hadir dalam pagelaran budaya di Museum Rudana kali ini. Mulai dari pakar Wayang Prof Dr Darmoko, akademisi dari Institut Seni Indonesia (ISI), hingga pemilik Museum se-Indonesia yang jumlahnya 380 museum.

“Mereka tunjukan keberpihakan kepada kecintaan dengan budaya. Mereka ini sesungguhnya pejuang-pejuang yang punya komitmen,” pungkas Supadma Rudana. (KI4)

Check Also

Work From Bali Akan Diluncurkan Juli 2021

Jakarta (KitaIndonesia.Com) – Kebijakan Work From Bali (WFB) akan diluncurkan pada kuartal ketiga atau Juli …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *