Home / Hukum / Seorang Pria Tewas Dihakimi Massa, Togar Situmorang: Setop Pengadilan Jalanan!
Advokat senior Togar Situmorang, SH, MH, MAP. (istimewa)

Seorang Pria Tewas Dihakimi Massa, Togar Situmorang: Setop Pengadilan Jalanan!

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Sebuah video ‘pengadilan jalanan’ beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, tampak seorang pria tangannya diikat dan berontak. Saat berusaha melepaskan diri tersebut, terlihat beberapa pria berbadan tegap memukul pria malang itu.

Konon, aksi main hakim sendiri yang terjadi di Monumen Bom Bali Ground Zero Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (24/1/2020) itu, berujung meninggalnya pria yang dituduh mencuri helm tersebut. Sempat dirawat intensif di RSUP Sanglah, Denpasar, pria itu akhirnya tak tertolong dan meninggal dunia.

“Akibat peristiwa penganiayaan termasuk injakan terakhir di bagian leher kanan, pria yang dituduh mencuri helm itu langsung tak sadarkan diri. Pria tertuduh mencuri helm itu meninggal dunia dalam perawatan di RSUP Sanglah Denpasar, Sabtu, 25 Januari 2020,” jelas advokat senior Togar Situmorang, SH, MH, MAP, di Denpasar, Jumat (31/1/2020).

Advokat yang menerima penghargaan Indonesia Most Leading Award 2019 dan terpilih sebagai The Most Leading Lawyer In Satisfactory Performance Of The Year itu menyebut, tuduhan pencurian yang dialamatkan kepada pria malang tersebut, sesungguhnya masih perlu pembuktian. Apalagi dari rekaman CCTV di sepanjang Jalan Legian, Kuta, menunjukan pria tersebut linglung.

“Ada langkah hukum dari keluarga korban. Saat ini sedang dalam proses. Untuk identitas lengkap korban akan disampaikan setelah semuanya rampung,” tutur Togar Situmorang, yang juga Ketua POSSI Denpasar.

Ia berpandangan, cara main hakim sendiri yang berujung pada kematian korban, sangat tidak baik. Apalagi orang yang melakukan penganiayaan, belum tahu kebenarannya apakah benar pria tersebut mencuri atau tidak.

“Dan ingat bahwa Indonesia adalah negara hukum. Sebaiknya jika ada permasalahan yang menentang peraturan undang-undang, serahkan ke pihak kepolisian. Main hakim sendiri diartikan sebagai menghakimi orang lain tanpa mempedulikan hukum yang ada (biasanya dilakukan dengan pemukulan, penyiksaan, pembakaran, dan sebagainya),” urai Togar Situmorang.

Ketua Hukum RS dr Moedjito Dwidjosiswojo Jombang, Jawa Timur, ini menyebut, sanksi pidana bagi pelaku penganiayaan terdapat dalam Pasal 351 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Intinya bahwa luka berat atau mati (Pasal 351 KUHP, red), merupakan akibat yang tidak dimaksud oleh si pembuat. Apabila luka berat itu, dikenakan Pasal 354 KUHP (penganiayaan berat).

Sedangkan jika berujung kematian, maka perbuatan itu masuk pembunuhan (Pasal 338 KUHP), Pasal 338 KUHP (Ibid, hal 240), yang mengatakan bahwa kejahatan ini dinamakan makar mati atau pembunuhan. Di sini, perbuatan yang mengakibatkan kematian orang lain, sedangkan kematian itu disengaja, artinya termasuk dalam niatnya.

Pembunuhan, demikian Togar Situmorang, secara yuridis diatur dalam Pasal 338 KUHP, yang mengatakan bahwa: “Barang siapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain, karena bersalah telah melakukan pembunuhan”, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 15 tahun”.

“Tindak pidana pembunuhan merupakan kejahatan terhadap nyawa. Kita sebagai warga negara Indonesia, harus menghargai adanya undang-undang. Kalau setiap orang menggunakan cara main hakim sendiri menyelesaikan masalahnya, negara kita tidak akan memiliki toleransi antara satu dan yang lainnya. Jadi, setop pengadilan jalanan!” ujar advokat yang masuk daftar 100 Advokat Hebat versi Majalah Property&Bank itu.

“Semoga aparat kepolisian bisa memecahkan kasus ini dengan cepat dan segera mengambil tindakan kepada pelaku kekerasan,” pungkas Founder and CEO Law Firm Togar Situmorang yang beralamat di Jalan Tukad Citarum Nomor 5A Renon, Denpasar (pusat) dan Jalan Gatot Subroto Timur Nomor 22 Kesiman, Denpasar (cabang) itu. (KI4)

Check Also

Klien Togar Situmorang Perjuangkan Keadilan Restoratif, Polsek Kuta Utara Malah Abaikan Peraturan Kapolri?

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Penegakan hukum di negeri masih jauh dari harapan. Pasalnya, tak jarang instrumen …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *