Home / Peristiwa / Nasional / Sambut Tri Hari Suci Paskah, Togar Situmorang: Momentum Meluruskan Hati yang Bengkok

Sambut Tri Hari Suci Paskah, Togar Situmorang: Momentum Meluruskan Hati yang Bengkok

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Kamis Putih, Jumat Agung dan Paskah merupakan momen Tri Hari Suci yang ditunggu-tunggu oleh umat Kristiani, khususnya umat Katolik, selain Natal.

Sama seperti tahun lalu, pelaksanaan ritus Tri Hari Suci tahun ini tentu dilaksanakan dengan sederhana. Maklum, hingga saat ini dunia masih bergumul dengan pandemi Covid-19.

Bukan itu saja. Momen Tri Hari Suci kali ini juga sedikit diwarnai kecemasan, menyusul adanya teror bom bunuh diri yang terjadi di depan Gereja Katedral Makassar pada Minggu Palma serta penyerangan ke Mabes Polri pada 31 Maret 2021.

Terkait hal ini, advokat senior yang juga pengamat kebijakan publik Togar Situmorang, SH, CMed, MH, MAP, CLA, berharap agar seluruh umat Kristiani tetap menyambut Paskah dengan penuh syukur dan tetap menaati arahan pemerintah serta para pemuka agama.

“Pemerintah bersama para pemuka agama tentu sudah memikirkan apa yang terbaik bagi kita semua. Dan meskipun kita tidak bisa melaksanakan Misa di Gereja, bukan berati akan mengurangi makna dari perayaan suci ini,” tutur Togar Situmorang, di Denpasar, Kamis (1/4/2021).

Melihat pandemi ini, masyarakat harus bersama-sama memutus penyebaran virus corona. Salah satu caranya adalah menjaga jarak aman dan menghindari tempat keramaian,” imbuh Ketua Hukum RS dr Moedjito Dwidjosiswojo, Jombang, Jawa Timur ini.

Sementara itu terkait kecemasan akan dua aksi teror yang terjadi berdekatan dalam pekan ini, Togar Situmorang mengajak umat untuk tetap mawas diri dan senantiasa waspada. Ia meyakini, pihak keamanan akan sangat maksimal dalam menjaga lingkungan gereja di seluruh Indonesia.

“Semua harus tetap mawas diri dan berhati-hati. Mari kita maknai perayaan suci ini dengan hikmat. Setiap umat harus saling mencintai. Antarsesama saling mencintai, tidak ada lagi permusuhan, tidak ada lagi mementingkan diri. Kasih menjadi hukum baru menggantikan hukum lama. Semua hukum lama, seluruh kejahatan, setiap tindakan negatif akan dikuburkan pada hari Jumat Agung,” ajaknya.

Dengan begitu, menurut dia, semua akan dapat ikut “bangkit” bersama Kristus pada hari Paskah dengan mengenakan ‘baju baru’, hidup saling mengasihi. Tidak boleh lagi ada dendam, benci, ego, dan iri hati. Semua mesti saling berbagi, berbelarasa, dan berdamai.

Betapa indah hidup saling mengasihi. Ini akan menjadi energi tak terkalahkan sebagai modal membangun bangsa. Sebaliknya, perpecahan dan perselisihan hanya akan menjadi energi negatif dan kontraproduktif dalam membangun,” kata Togar Situmorang.

Segenap umat Kristiani, imbuhnya, harus mampu memanfaatkan ‘Perjamuan Terakhir’ sebagai momen mendalami ‘perintah baru’. Menyelami sejauh mana selama ini sudah mengasihi sesama. Sejauh mana selama ini umat Kristiani berada di garda depan membangun persaudaraan, mengembangkan perdamaian dan meluruskan hati yang bengkok.

Hati yang bengkok karena penuh berisi hal-hal negatif harus diluruskan dengan mengelaborasi perintah baru. Jangan hanya mengasihi orang yang mencintai kita, umat harus mencintai juga mereka yang membenci dan memusuhi kita,” ajaknya.

“Kami dari Keluarga Besar Togar Situmorang Law Firm Denpasar menghaturkan ‘Selamat  menjalankan rangkaian Ibadah Kamis Putih, Jumat Agung dan Minggu Paskah. Semoga selalu sehat. Semoga damai sejahtera menyertai keluarga. Amin,” pungkas CEO & Founder Law Firm Togar Situmorang yang berkantor pusat di Jalan Tukad Citarum Nomor 5A, Renon, Denpasar Selatan, serta cabang di Denpasar, Jakarta, Cirebon, Kalimantan Barat dan Bandung ini.

Diketahui, dalam tradisi Kristiani khususnya Katolik, Tri Hari Suci dimulai dengan Kamis Putih. Secara umum, Kamis Putih merupakan peringatan akan Perjamuan Malam Terakhir Yesus bersama kedua belas Rasul. Ritus ‘pembasuhan kaki’ yang merupakan ajaran untuk melayani adalah salah satu peringatan penting di Hari Kamis Putih.

Selanjutnya Jumat Agung merupakan merupakan hari peringatan sengsara, penyaliban, dan wafat Yesus Kristus. Ritus ‘jalan salib’ dan ‘cium salib’ untuk mengenang kisah sengsara Yesus diperingati pada Jumat Agung ini.

Kemudian Malam Paskah atau sering disebut Sabtu Suci merupakan memperingati kebangkitan Yesus. Ritus ‘cahaya lilin’ dilakukan di Malam Paskah sebagai menyambut kebangkitan Yesus.

Selanjutnya ada Minggu Paskah. Ini merupakan perayaan kebangkitan Yesus, perayaan kemenangan atas dosa dan maut. (KI-01)

Check Also

BNPB Ingatkan 30 Daerah Waspadai Potensi Bibit Siklon Tropis 94W

Jakarta (KitaIndonesia.Com) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan 30 daerah di Indonesia untuk mewaspadai …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *