Home / Politik / Regenerasi Petani Terancam Putus, Tamba: Pertanian Jembrana Perlu Perhatian Khusus

Regenerasi Petani Terancam Putus, Tamba: Pertanian Jembrana Perlu Perhatian Khusus

Jembrana (KitaIndonesia.Com)- Bumi Makepung Jembrana semringah lantaran kini memiliki peralatan pertanian modern hibah dari Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) Indonesia. Tak hanya bantuan transplater alias mesin otomatis penanam benih padi, Jembrana juga menerima sumbangan teknologi pertanian lain seperti Seed Drill (mesin otomatis penanam berbagai jenis benih), Combine Harvester (alat pemanen padi yang dapat memotong buliran tanaman yang berdiri, merontokkan, dan langsung membersihkan gabah sambil berjalan di lahan sawah), Cultivator (mesin pengolahan tanah sekunder), dan Rotavator (mesin untuk mengolah tanah sebelum benih ditanam). Sayangnya, generasi muda Jembrana tidak mau lagi ke sawah.

Hal ini menjadi kegelisahan I Nengah Tamba. Bila ini dibiarkan dia takut lahan pertanian di Jembrana akan beralih fungsi. Dipilihnya Jembrana sebagai pilot project kabupaten lumbung beras Bali mengimbangi Tabanan pun terancam gagal. “76 kelian subak di kabupaten kami telah dilatih sekaligus meninggalkan sistem tanam padi mundur alias nandur. Sebagai gantinya, para ketua petani yang rata-rata berusia di atas 50 tahun itu diajak menanam padi maju ke depan. Dengan metode ini waktu menanam yang dibutuhkan oleh seorang petani hanya sehari untuk luas sawah 1 hektar. Terima kasih SOKSI,” ucapnya ditemui di Bale Subak Pangkung Jajung Kelurahan Baler Bale Agung baru-baru ini.

Merespons usia kelian subak yang rata-rata di atas 50 tahun dan ancaman putusnya regerasi petani, politisi Demokrat yang bercita-cita menjadikan Jembrana Kembali Jaya itu memandang sosialisasi “bertani bisa kaya” harus dimasifkan. “Bila dengan bertani seseorang bisa memperoleh keuntungan bahkan jadi kaya ya pasti generasi muda Jembrana pasti akan turun ke sawah lagi,” ucapnya. Tamba menunjukkan bukti nyata dan menyebut nama beberapa orang sukses dari bertani. Namun dia menekankan, penerapan teknologi pertanian merupakan hal mutlak untuk masa depan Jembrana yang lebih baik.

“Persoalan kita sekarang kan petani kita memiliki lahan sawah yang sempit. Juga berstatus petani penggarap. Hasil produksi pertanian selama ini juga tidak jelas. Siapa yang membeli? KUD kita? Belum tentu. Kalau sudah pasti dan harganya jelas dan jelas pembelinya siapa misalnya pemerintah, ya pasti siapapun mau jadi petani. Apalagi bila petani di Jembrana diajarkan managemen pertanian. Pasti hasilnya luar biasa,” tegasnya.

Tamba menekankan calon petani muda Jembrana harus didukung dengan kepastian hasil produksi serta fasilitas penunjang pertanian lainnya. “Kalau sekarang sepertinya kan berjalan bebas. Petani berjalan sendiri; berselanjar sendiri. Nggak ada guiding atau arahan yang jelas. Begitu harga jatuh, petani nggak tahu harus melakukan apa,” terangnya. Sikap konsisten pemerintah, sambung Tamba sangat dibutuhkan demi masa depan Jembrana.

“Selain sawah, pemerintah Jembrana juga memiliki kewajiban dan tanggung jawab menghijaukan kembali hutan. Saya pribadi memiliki cita-cita menjadikan Jembrana sebagai pusat ecotourism Pulau Dewata,” tegasnya. (KI6)

Check Also

Resmi Berlabuh di Partai Golkar, Nyoman Tirtawan: Kembali ke Kawitan

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Nyoman Tirtawan akhirnya memilih berlabuh ke Partai Golkar, setelah dipecat oleh Partai …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *