Home / Pendidikan / Punya Karakter Berbeda, Ini Kemampuan yang Mesti Dimiliki Guru Generasi Alpha
Ilustrasi Generasi Alpha (Ist)

Punya Karakter Berbeda, Ini Kemampuan yang Mesti Dimiliki Guru Generasi Alpha

Raja Ampat (KitaIndonesia.Com) – Setiap generasi punya ciri dan karakteristik yang berbeda. Banyak orang mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah generasi boomer, baby boomer, milenial, hingga generasi alfa yang dikenal dekat dengan dunia digital.

Tapi, setiap generasi tadi punya ciri khasnya tersendiri. Dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital wilayah, Raja Ampat, Papua Barat, Rabu, (22/09/2021), Alaika Abdullah, Virtual Assistant & Digital Content Creator, untuk itu mengatakan bahwa pendekatan dalam mengajar antara generasi boomer dan generasi alpha bisa jadi sangat berbeda.

“Generasi alpha ini berbeda, mereka biasanya tidak suka mengikuti aturan yang kaku, dan karena itu juga tidak bisa diprediksi,” ujar Alaika.

Alaika juga mengatakan bahwa masa kecil generasi alpha berbeda dengan generasi sebelumnya. Menurut alaika generasi alpha sudah melek digital atau digital native sejak usia dini.

“Mereka juga menjadi generasi paling terdidik, dan juga paham teknologi. Dunia artificial intelligence sudah menjadi realitas mereka,” kata dia.

Oleh sebab itu pembelajaran menjadi sangat personal bagi mereka. Butuh pendekatan yang berbeda antara satu anak dan juga anak yang lainnya.

“Makanya guru atau pengajar bagi generasi alpha itu harus kreatif. Artinya bisa menemukan cara-cara baru untuk memberikan pelajaran ke mereka. Guru juga harus punya kemampuan publik speaking yang baik,” kata dia.

Selain itu, guru atau pengajar juga mesti punya modal pemikiran yang terbuka. Ini karena generasi alpha punya pola pikir yang kritis.

“Karena muridnya punya ciritcal thingking, jadi juga harus inovatif daalam mendesain kelas-kelas. Selain itu juga perlu mempunyai kemampuan ice breaking agar pola pengajaran tidak monoton dan membosankan,” kata dia.

Selain itu, lebih lanjut Alaika juga mengatakan bahwa guru harus mampu menjadi sahabat bagi anak atau murid generasi alpha. Dalam proses pengajaran guru hanya menjadi fasilitator dan bukan satu arah.

Dalam kesempatan yang sama, Chris Jatender, ST. MMSI, Kaprodi Tehnik Informatika STTI STIENI, juga memaparkan tentang perbedaan antara hacker dan juga cracker. Ia mengatakan bahwa masyarkat masih banyak yang sering keliru mendefinisikan keduanya.

Selain mereka berdua juga hadir, Fahmi Macap, Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Raja Ampat, dan Sri Rahma Dani sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (KI7)

Check Also

Dies Natalis STAH DNJ, Ari Dwipayana: Pendidikan Harus Membentuk Manusia Seutuhnya

Jakarta (KitaIndonesia.Com) – Koordinator Staf Khusus Presiden RI Anak Agung Gede Ngurah Ari Dwipayana, menyampaikan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *