Home / Politik / Pilkada Teluk Bintuni, Golkar dan PPP Patahkan Hasrat Petahana Jadi Calon Tunggal
Pasangan Ali Ibrahim Bauw - Yohanis Manibuy digadang - gadang sebagai penantang petahana pada Pilkada Teluk Bintuni, Papua Barat, 2020 mendatang. (istimewa)

Pilkada Teluk Bintuni, Golkar dan PPP Patahkan Hasrat Petahana Jadi Calon Tunggal

Bintuni (KitaIndonesia.Com) – Dinamika politik jelang Pilkada Teluk Bintuni 2020, semakin menarik. Pasalnya, skenario pasangan calon petahana Petrus Kasihiw-Matret Kokop untuk melawan kotak kosong dengan menarik dukungan seluruh partai politik di Teluk Bintuni, justru terancam kandas.

Hal tersebut menyusul manuver politik Partai Golkar dan PPP di salah satu kabupaten di Provinsi Papua Barat itu, yang tengah membangun kekuatan untuk menantang incumbent. DPC PPP Kabupaten Teluk Bintuni misalnya, Selasa (11/2/2020), secara resmi mengumumkan Keputusan DPP PPP Tentang Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Teluk Bintuni.

Adalah pasangan Ali Ibrahim Bauw – Yohanis Manibuy, yang diusung PPP pada Pilkada Teluk Bintuni 2020 mendatang. Penunjukan pasangan Ali Ibrahim Bauw – Yohanis Manibuy ini bahkan sudah final.

“Keputusan ini bersifat final dikeluarkan oleh DPP, agar DPC dapat mematuhi keputusan ini,” ujar Ketua DPC PPP Kabupaten Teluk Bintuni, Joko Lingara, didampingi Sekretaris Tamiruddin, dalam keterangan pers di SP IV Distrik Manimeri, sembari menunjukkan SK DPP PPP Nomor 004/SK/DPP/C/I/2020 tertanggal 24 Januari 2020.

Menurut Joko Lingara, DPP PPP mengeluarkan rekomendasi atas dasar pertimbangan elektabilitas dan visi misi pasangan Ali Ibrahim Bauw – Yohanis Manibuy.

“Jadi PPP Bintuni mengusung Ali Bauw dan Anisto di Pilkada 2020 karena elektabilitas mereka berdua tinggi dan mempunyai semangat dalam membesarkan partai ini,” ucapnya.

Pasangan Ali Ibrahim Bauw – Yohanis Manibuy menerima SK DPP PPP. (istimewa)

Sementara itu sebelumnya, Senin (10/2/2020), empat pasangan bakal calon bupati danwakil bupati Teluk Bintuni mengikuti tahapan penjaringan di internal Partai Golkar. Keempat pasangan tersebut adalah Ir Harlina Husain dan Ayor Kosepa, Erwin Beddu Nawawi dan Modesta Manibuy, Ali Ibrahim Bauw dan Yohanis Manibuy, serta Markus Maboro dan Muh Tiakoly.

Keempat pasangan calon ini telah mengikuti tahapan penjaringan di internal partai berlambang pohon beringin itu, mulai dari pengambilan formulir pendaftaran yang dimulai sejak tanggal 6 Februari 2020 hingga pengembalian formulir pada tanggal 7 – 8 Februari 2020 lalu.

Secara bergantian, keempat pasangan calon ini memaparkan visi dan misi di hadapan fungsionaris DPD II Partai Golkar Kabupaten Teluk Bintuni dan perwakilan pengurus DPD I Partai Golkar Provinsi Papua Barat. Pemaparan visi dan misi tersebut dilakukan dalam Rapat Pleno Diperluas yang diikuti 24 Komdis (Komisariat Distrik) se-Teluk Bintuni, di Resto Tobe, Bintuni.

Dari empat pasangan calon ini, duet Ali Ibrahim Bauw – Yohanis Manibuy yang dikenal dengan Paket AYO digadang – gadang lebih berpeluang, karena sudah mengantongi rekomendasi dari PPP. Sebab meski memiliki 5 kursi DPRD Kabupaten Teluk Bintuni dan bisa mengusung sendiri pasangan calon, Partai Golkar tetap membutuhkan dukungan partai politik lainnya untuk menghadapi kekuatan petahana.

Pasangan Ali Ibrahim Bauw – Yohanis Manibuy saat paparkan visi dan misi di hadapan fungsionaris DPD II Partai Golkar Kabupaten Teluk Bintuni dan DPD I Partai Golkar Provinsi Papua Barat. (istimewa)

Di sisi lain, dari informasi yang dihimpun di lapangan, pasangan calon petahana Petrus Kasihiw-Matret Kokop sesungguhnya tengah berjuang membangun koalisi besar menghadapi Pilkada Teluk Bintuni 2020 mendatang. Incumbent melakukan lobi – lobi politik, bahkan untuk mendapatkan rekomendasi dari seluruh partai politik yang ada.

Skenario melawan kotak kosong ini, konon didorong karena ambisi petahana untuk mempertahankan tahta. Di sisi lain, pengalaman pahit Petrus Kasihiw-Matret Kokop pada Pilkada 2015 lalu membuat skenario calon tunggal ini cukup gencar.

Diketahui pada Pilkada Teluk Bintuni 2015 lalu, KPUD menetapkan 3 pasangan calon yakni Agustinus Manibuy-Rahman Urbun nomor urut (1) diusung PKB, PKS, PAN, Demokrat, PKPI, dan PBB), Petrus Kasihiw-Matret Kokop nomor urut (2) diusung Partai NasDem dan Hanura, serta pasangan Daniel Asmorom-Yohanis Manibuy nomor urut (3) diusung Partai Golkar, PPP, PDIP, dan Partai Gerindra.

Berdasarkan rekapitulasi perhitungan suara KPUD, menempatkan pasangan Daniel Asmorom-Yohanis Manibuy pada peringkat pertama dengan perolehan 17.067 suara, disusul pasangan Petrus Kasihiw-Matret Kokop di peringkat kedua dengan 17.060 suara. Adapun pasangan Agustinus Manibuy-Rahman Urbun hanya meraup 7.609 suara.

Dengan hasil ini, perolehan suara antara paslon nomor urut 3 dan paslon nomor urut 2 hanya terpaut 7 suara. Merasa punya legal standing untuk membawa hasil ini pada sengketa Mahkamah Konstitusi (MK), pasangan Petrus Kasihiw-Matret Kokop bergerak cepat mendaftarkan permohonan sengketa ke MK.

Alasan dalam pokok permohonan, Pemohon merasa dirugikan dengan perolehan suara di Distrik Moskona Utara sebesar 242 suara yang tersebar di 4 TPS. Menurut Pemohon, suara mereka dipindahkan kepada pihak terkait oleh ketua penyelengggara tingkat Distrik. Namun pihak terkait punya argumentasi lain, bahwa suara pihak terkaitlah yang sesungguhnya dipindahkan pada saat penghitungan di tingkat TPS kepada Pemohon, sehingga dilakukan pembetulan pada rekapitulasi tingkat Distrik.

Dengan berbagai argumentasi lainnya, intinya permohonan Pemohon dikabulkan MK. Singkat cerita, MK memutuskan Pemungutan Suara Ulang (PSU) pada TPS Moyeba. PSU ini dilakukan dalam pengawasan ketat Bawaslu dan pengawalan ekstra oleh kepolisian. Bahkan saat pelaksanaan PSU 19 Maret 2016, anggota KPU RI yang kini menjadi Ketua KPU RI Arief Budiman turun lanngsung ke TPS.

Masyarakat Hukum Adat bersikukuh mempertahankkan eksistensi dan tradisinya, kepala suku dan beberapa perwakilan suku dengan pakaian adat lengkap memberikan seluruh suara kepada pihak terkait dan menyerahkan hasilnya untuk diisi dalam formulir oleh petugas TPS. Praktik ini lazim disebut pemilihan dengan sistem Noken dan diakui oleh MK untuk daerah-daerah pegunungan Papua. Untuk wilayah Papua Barat sendiri, praktik ini dikenal dengan kesepakatan adat.

Hasil PSU kemudian dibawa ke MK untuk mendapat putusan keabsahannya. Namun, MK berpendapat lain. MK membatalkan perolehan suara hasil PSU dan perolehan suara 3 TPS lain di Distrik Moskona Utara. Imbas putusan ini, Pemohon berbalik unggul 743 suara.

Singkat cerita, pemohon kemudian ditetapkan oleh KPUD Kabupaten Teluk Bintuni sebagai pasangan bupati-wakil bupati terpilih. Selanjutnya, Petrus Kasihiw-Matret Kokop dilantik sebagai bupati dan wakil bupati Teluk Bintuni masa bakti 2015-2020. (KI4)

Check Also

Julie Laiskodat Apresiasi Kehadiran Politician Academy di NTT

LABUAN BAJO TERKINI – Anggota Fraksi NasDem DPR RI Julie Sutrisno Laiskodat, mengapresiasi kehadiran Lembaga …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *