Home / Opini / Paskah di Tengah Badai Covid-19

Paskah di Tengah Badai Covid-19

Oleh: RD Stephanus Turibius Rahmat
(Dosen UNIKA Indonesia Santu Paulus Ruteng) 

MEDIA resmi Vatican, Vaticannews.va (https://www.vaticannews.va), mengumumkan keputusan Paus Fransiskus tentang Paskah tahun 2020 ini yang akan dirayakan tanpa kehadiran umat. Paus Fransiskus mengambil keputusan yang terbilang sulit ini karena belum pernah terjadi sebelumnya bahwa melangsungkan semua acara Pekan Suci, mulai dari perayaan Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci hingga Minggu Paskah, akan dirayakan tanpa kehadiran umat atau audiens.

Memang tidak ada pilihan lain. Vatikan mengambil langkah demikian, sebagai salah satu upaya untuk menghindari kumpulan massa guna mencegah penyebaran virus corona (Covid-19) semakin meluas. Situasi darurat kesehatan masyarakat global saat ini menjadi argumen rasional bahwa semua Perayaan Liturgi Paskah akan berlangsung tanpa kehadiran fisik umat.

Pekan Suci kali ini akan terasa sangat berbeda bagi umat Kristen di seluruh dunia karena tidak ada seorang pun yang diizinkan menghadiri seluruh rangkaian perayaan Paskah. Semua Keuskupan yang berada di bawah Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), mengikuti keputusan Paus Fransiskus ini. Selain itu, keuskupan-keuskupan di Indonesia patuh terhadap instruksi pemerintah melalui Surat Keputusan Kepala Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 13 A Tahun 2020 Tentang Perpanjangan Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah Penyakit Akibat Virus Corona di Indonesia.

Dalam poin kedua disebutkan: “Perpanjangan status keadaan tertentu sebagaimana dimaksud dalam diktum ke satu berlaku selama 91 hari terhitung sejak 29 Februari 2020 sampai dengan 29 Mei 2020”. Semua keuskupan mengikuti keputusan ini, sebagai salah satu langkah untuk terlibat secara aktif memutus mata rantai penyebaran virus ini.

Keputusan ini berimplikasi pada bentuk pelaksanaan perayaan Pekan Paskah tahun 2020 yang berlangsung dari perayaan Minggu Palma (5 April), Kamis Putih (9 April), Jumat Agung (10 April), Malam Paskah (11 April) dan Hari Raya Paskah (12 April). Langkah ini memang menuntut pengorbanan. Pimpinan Gereja Katolik dan seluruh umat harus rela mengorbankan segalanya, termasuk perayaan Paskah yang biasanya dihadiri ribuan umat, demi prinsip kemanusiaan yang lebih penting yakni keselamatan atau kebaikan semua orang.

Walaupun demikian, kita tetap merayakan Paskah dalam keheningan batin di rumah atau komunitas masing-masing. Paskah, kebangkitan Tuhan Yesus, tetap menjadi momen terpenting dan menentukan dalam sejarah kehidupan beriman kita. Makna Paskah tidak akan pernah hilang, betapapun kita merayakannya secara individu di rumah masing-masing.

Paskah tetap merupakan perayaan kebangkitan kita semua. Gereja pun tidak pernah punah ketika segenap umat merayakan ekaristi di rumah masing-masing. Alam maut pun tidak pernah menghancurkan gereja. Sebab, gereja bukan hanya sebatas gedung. Gereja sesungguhnya adalah Umat Allah yang percaya dan merayakan imannya dengan sungguh.

Segenap umat Kristiani sudah berada di penghujung masa Prapaskah. Gereja Kristen Katolik mengawali perayaan liturgi Pekan Suci dengan merayakan Hari Raya Minggu Palma. Liturgi hari Minggu Palma membawa umat Kristiani untuk mengalami dan merasakan sosok Tuhan Yesus yang setia berkorban untuk manusia. Selama sepekan, seluruh warga gereja mengenang secara kronologis prosesi Tuhan Yesus memasuki Kota Yerusalem pada hari Minggu Palma, perjamuan malam terakhir pada hari Kamis Putih, sengsara dan wafat Yesus di kayu salib pada hari Jumat Agung, dan akhirnya mengenang kebangkitan Yesus dari maut pada hari Sabtu Suci dan Minggu Paskah.

Berdasarkan kronologi peristiwa ini, menjadi jelas bahwa sesungguhnya perayaan liturgi hari Minggu Palma sebagai persiapan perayaan liturgi Tri Hari Suci (Paskah). Yesus memasuki Yerusalem untuk dinobatkan sebagai Raja Israel (Mesias) oleh Allah melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Perjalanan Yesus memasuki Yerusalem adalah persiapan penobatan-Nya sebagai Raja Israel pada waktu kebangkitan-Nya. Karena itu, peristiwa Yesus memasuki Yerusalem hanya dapat dimaknai dalam terang kebangkitan-Nya.

Yesus digelari raja bukan karena duduk di singgasana kemewahan kekuasaan atau memiliki kuasa atau popularitas diri yang luar biasa. Akan tetapi, Tuhan Yesus mendapat gelar raja karena telah berjuang mengorbankan diri dengan melewati jalan salib penderitaan dan wafat di salib, untuk menebus dosa manusia.Yesus menang atas kematian dan mengalami kebangkitan karena kesetiaan-Nya pada kehendak Allah.

Yesus memaknai penderitaan salib sebagai tanda kemuliaan, sebab di balik salib ada kemenangan kebangkitan. Yesus tidak memandang salib sebagai simbol kehinaan dan kekalahan atas kuasa dosa manusia. Yesus berkorban tanpa pamrih. Pengorban Yesus menumbuhkan semangat rela berkorban dalam diri setiap pengikut-Nya.

Paskah Yesus: Ajakan Untuk Berkorban

SECARA Alkitabiah, berkorban berarti mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, sebab itu adalah ibadah yang sejati (Bdk. Roma 12:1). Hal ini sejalan dengan penjelasan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa Kemdikbud, 2016) bahwa berkorban berarti menyatakan kebaktian, kesetiaan; menjadi korban; menderita dan memberikan sesuatu sebagai korban.

Berdasarkan kedua arti ini, maka berkorban selalu bermakna memberi diri untuk kepentingan atau kebaikan orang lain (bonum commune). Berkorban selalu berarti melakukan sesuatu tanpa pamrih. Kitab Suci dengan sangat indah menggambarkan realitas berkorban yang berdimensi liberatif atau membebaskan, yang dilakukan oleh hamba Tuhan.

Kitab Nabi Yesaya (Bdk. Yesaya 50:4-7) merupakan lagu ketiga dari keempat lagu hamba Tuhan yang terdapat dalam Kitab Yesaya. Sama dengan ketiga lagu hamba Tuhan lainnya, lagu ketiga ini juga melukiskan suka – duka hamba Tuhan dalam melaksanakan perutusan-Nya yakni untuk memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu, menderita dan sengsara. Dalam melaksanakan perutusan khusus ini, hamba Tuhan taat sepenuhnya kepada kehendak Allah, seperti ketaatan seorang murid kepada gurunya. Meski mendapat banyak perlawanan dari para musuh, hamba Tuhan tetap setia melaksanakan perutusan-Nya, sebab Ia yakin bahwa Tuhan Allah pasti akan menolong Dia.

Ketaatan hamba Tuhan seperti ini terungkap jelas dalam sikap tegar Yesus memasuki Yerusalem. Yesus mengetahui dengan pasti bahwa Yerusalem menjadi locus (tempat) di mana Ia akan ditangkap dan disalibkan. Kisah ini terungkap jelas dalam Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi (Bdk. Filipi 2:6-11). Penggalan kisah ini merupakan lagu tentang Yesus Kristus. Lagu ini terdiri dari empat bait, yang masing-masing menonjolkan keistimewaaan Yesus Kristus.

Pertama, Filipi 6-7a menonjolkan pengosongan diri Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah sudi mengambil rupa seorang hamba. Kedua, Filipi 7b-8 mengungkapkan perendahan diri Yesus Kristus, yang dalam keadaan sebagai manusia, sudi merendahkan diri dan taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Ketiga, Filipi 9 mengemukakan tentang peninggian diri Yesus Kristus, yang oleh Allah dikaruniai nama di atas segala nama. Keempat, Filipi 10-11 mengangkat perihal pemuliaan diri Yesus Kristus, yang disembah dan diakui oleh segala ciptaan.

Dengan demikian, lagu tentang Yesus Kristus ini menempatkan kematian Yesus Kristus di kayu salib pada pusat permenungan. Kematian Yesus di salib adalah titik terendah diri-Nya, dan sekaligus dasar peningggian dan pemuliaan diri-Nya. Menurut rencana Allah, Yesus Kristus memang harus mati di kayu salib dan kemudian bangkit dari mati, supaya segala lutut bertekuk dan segala lidah mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan.

Kisah sengsara Yesus Kristus (Kisah Passio) sebagaimana tertulis dalam Injil Mateus (Bdk. Matius 26:14-27:66) mau menampilkan narasi pemuliaan Yesus sebagai Raja Israel (Mesias) dengan jalan penghinaan. Penginjil Mateus telah memaklumkan Yesus sebagai Raja Israel dalam kisah prosesi Yesus memasuki Yerusalem. Selanjutnya, Mateus secara terus-menerus mamaklumkan Yesus sebagai Raja Israel dalam kisah pengadilan Yesus oleh Mahkamah Agama dan Pilatus, kisah pengolok-olokan Yesus oleh para serdadu, kisah penyaliban Yesus, dan kisah kematian Yesus.

Penegasan dan pengakuan tentang Yesus sebagai Raja Israel justru ke luar dari mulut Imam Besar Kayafas, para anggota Mahkamah Agama, Wali Negeri Pilatus, para serdadu, dan orang banyak. Bahkan tulisan yang terpasang pada kayu salib Yesus, yang sebetulnya dimaksudkan sebagai penghinaan, tetapi justru dengan tegas tertulis “Inilah Yesus Raja Orang Yahudi”.

Akhirnya, pada waktu kematian Yesus, kepala pasukan dan para prajurit secara resmi memaklumkan Yesus dengan berkata: “Sungguh, Ia ini adalah anak Allah”. Dengan demikian, penghinaan yang dialami Yesus dalam pengadilan, penolakan, penyaliban dan kematian secara paradoks, justru menjadi pemuliaan bagi diri Yesus demi keselamatan manusia. Karya keselamatan yang dilaksanakan Yesus tidak terbatas pada suatu tempat ataupun suatu saat. Manusia segala masa dimanapun dihidupkan-Nya, termasuk kita yang hidup di sini dan saat ini (hic et nunc).

Kita yang hidup saat ini dan bukan menjadi saksi mata atas seluruh peristiwa hidup Yesus, diingatkan supaya terbuka untuk belajar hidup dalam solidaritas dengan sesama sebagaimana yang telah ditunjukkan Tuhan Yesus. Setiap bentuk penderitaan dan tantangan yang kita alami karena berjuang membela kebenaran dan keadilan, berkorban untuk orang lain, mesti dimaknai dalam penderitaan Kristus. Dengan itu, kita mendapat kekuatan untuk menjalankan semua bentuk penderitaan untuk kebaikan hidup bersama. Penderitaan yang kita alami benar-benar menjadi jalan kepada kebahagiaan dan keselamatan. Ketika kita tidak berdaya dalam penderitaan, maka itulah saat terindah untuk merasakan kekuatan kehendak Allah.

Demikianlah setiap orang Kristen mengikuti jejak Yesus, Sang Guru, yakni setiap hari dalam seluruh kehidupan dan pengbadian berusaha untuk melakukan kehendak Tuhan. Pengorbanan Yesus mengajarkan kita untuk bertumbuh dalam semangat rela berkorban. Kita harus belajar untuk berkorban tanpa pamrih dalam kehidupan bersama dengan yang lain.

Mari kita memasuki Pekan Suci (Pekan sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan) dengan mengosongkan diri dari semangat dan hal-hal duniawi yang cenderung merusak (destruktif) persekutuan hidup bersama. Kita membangun komitmen dan resolusi untuk melakukan hal-hal yang konstruktif (membangun) dengan memperkuat persekutuan dan persaudaraan. Kita perlu belajar pada kesetiaan Yesus untuk berkorban. Kita bertekad supaya dengan mata dan hati terbuka, belajar dari Yesus, dari jalan yang ditempuh-Nya yakni jalan kesetiaan, jalan ketaatan kepada kehendak Allah, jalan kasih dan pemberian diri sampai akhir dan tanpa batas. Kita berjanji untuk berjalan bersama Yesus sampai akhir hidup kita.

Kisah Leonardo da Vinci, Sebuah Permenungan

Kisah inpiratif berikut, kiranya meneguhkan komitmen kita untuk berjalan bersama Yesus serta mau bertumbuh dalam semangat rela berkorban.

Seorang pelukis terkenal di Roma pada zaman dahulu, yakni Leonardo da Vinci, banyak sekali melukis di gereja-gereja, katedral-katedral dan di banyak tempat di Eropa. Suatu ketika, Leonardo diminta untuk melukis peristiwa perjamuan malam terakhir untuk Kapela Sixtina di Roma.

Tetapi untuk melukis, ia memerlukan figur-figur untuk membantunya melukis. Ia mencari orang-orang yang bisa dijadikan sebagai model untuk menggambar Yesus dan juga untuk menggambar murid-murid Yesus.

Ketika dia mencari seseorang untuk menjadi model untuk melukis wajah Yesus, katanya ia agak kesulitan untuk menemukannya. Model itu harus memancarkan sifat-sifat Yesus. Namun sesudah ia mencari dan terus mencari, akhirnya ia bisa menemukan orang untuk menjadi model Yesus. Selanjutnya, ia cukup gampang untuk menemukan orang-orang yang bisa dijadikan model untuk menggambar wajah rasul Petrus, Yohanes, Yakobus dan lain-lain.

Namun, ketika ia hendak melukis wajah Yudas Iskariot, sekali lagi ia mengalami kesulitan, bahkan lebih sulit dari mencari model untuk Yesus. Ia membutuhkan wajah dan sikap yang menunjukkan pengkhianatan, keserakahan, egoisme, kebencian dan sebagainya. Ia membutuhkan bertahun-tahun untuk mencari wajah seperti itu. Akhirnya, dia menemukan wajah seperti itu di ruang pengadilan. Seorang terdakwa di pengadilan dituduh sebagai pembunuh, penipu dan pengkhianat. Segera saja ia dibawa ke Kapela Sixtina untuk dilukis wajahnya menjadi wajah Yudas Iskariot dalam gambar Perjamuan Terakhir.

Namun sangat mengherankan, sebab tiba-tiba penjahat itu menangis. Leonardo yang sedang melukis dengan serius sangat terkejut. Ia bertanya kepada penjahat itu: “Mengapa Anda menangis?” Sambil tersedu-sedu, orang itu menjawab: “Apakah Anda telah lupa pada saya? Saya juga pernah Anda minta untuk datang ke sini beberapa tahun lalu. Waktu itu saya menjadi model untuk Yesus!”. Leonardo da Vinci pun menjadi tercengang.

Kita terkadang bisa tampil menjadi model bagi Yesus, tetapi tidak jarang juga menjadi model pengkhianat bagi-Nya. Kita bisa saja tampil dengan aneka wajah yang kadang bisa mengelabui mata orang, sebagai orang yang baik dan kurang baik.

Kisah hidup Yesus yang tertulis dalam Kitab Suci merupakan peringatan bagi kita, supaya memeriksa diri dan hidup kita. Bagaimana sikap kita terhadap Tuhan yang sudah mencintai kita dengan pelbagai karunia dan rahmat? Apakah kita cukup berjuang untuk menanggapi kasih setia-Nya? Ataukah kita sering mengkhianati-Nya dengan dosa-dosa?

Iman Tak Harus Luntur, Mesti Semakin Berkobar

Kita akan masuk dalam hari-hari suci untuk mengenang hidup Yesus, saat terakhir hidup-Nya dan kebangkitan-Nya dari maut. Pada hari-hari suci ini, kita diajak untuk membaharui kembali cinta bakti kita kepada Yesus, yang adalah raja dan penyelamat.

Dahulu, Ia telah disoraki di Yerusalem. Pada zaman ini, kita menyoraki Dia dalam Liturgi Hari Minggu Palem. Kita bermadah “Christus Vincit, Alleluia” atas kebangkitan-Nya pada hari Raya Paskah.

Kita merayakan paskah tahun 2020 ini di tengah badai Covid-19. Iman kita tidak harus luntur karena virus ini. Iman kita akan Kristus yang bangkit, mestinya semakin berkobar. Kristus sudah mengalahkan kematian dengan mengalami kemulian kebangkitan. Kita juga percaya bahwa Kristus yang bangkit, akan memberi semangat baru bagi umat-Nya untuk tidak putus asa atau tidak merasa seakan Tuhan tidak peduli dengan situasi hidup manusia saat ini.

Semangat baru yang dianugerahkan Tuhan itu menjadi roh bagi kita untuk melawan penyebaran virus ini dengan cara yang benar, seperti mematuhi dengan seksama protokol pencegahan penyebaran Covid-19 yang dikeluarkan pemerintah. Kita harus tetap tinggal di rumah (stay at home), bekerja dari rumah (work from home), berdoa dari rumah (pray from home), menjaga jarak dalam interaksi (social and pcysical distancing), menjaga kesehatan (imunitas diri) dengan makan yang sehat dan istirahat yang cukup.

Semua upaya positif ini tentu perlu diimbangi dengan ketekunan kita dalam berdoa. Kita percaya bahwa Tuhan Yesus yang telah bangkit akan menolong kita, supaya bebas dari badai Covid-19. Dengan demikian, perayaan Paskah tetap menjadi perayaan suka cita yang menyelamatkan kita semua.

Semoga hidup kita pun menjadi pujian dan sorakan hosanna serta alleluia bagi Yesus Sang Raja dan berusaha semakin beriman, semakin menaruh harapan surgawi pada-Nya. Mudah-mudahan hidup kita selanjutnya sungguh merupakan wujud nyata dari keikutsertaan kita pada jalan Yesus.

Yesus mengajak kita untuk menjadi hamba yang setia, taat dan bukannya menjadi pengkhianat terhadap kehidupan sesama. Kita berjanji untuk menyalibkan semua nafsu jahat yang ada dalam diri kita, bersama korban Yesus di salib. Kita berkomitmen untuk menguburkan segala bentuk egoisme diri, semangat ingat diri. Dengan demikian, kita pada akhirnya boleh mengalami kemuliaan kebangkitan sebagai orang-orang tertebus.

Memang jalan salib Tuhan adalah jalan untuk menguburkan segala manusia lama hidup kita yang bergelimang dosa, jalan untuk meraih hidup baru yang penuh kemuliaan. Kita mau berjanji untuk setia berjalan bersama Yesus dalam suka dan duka hidup kita. Kita harus konsisten dengan janji ini, untuk terus mau berjalan bersama Yesus. Kita mau mencintai Yesus dengan sungguh. Ketika kita memutuskan untuk berjalan bersama Yesus, kita sesungguhnya mau menumbuhkan semangat rela berkorban tanpa pamrih.

Kita harus berani ke luar dari zona nyaman atau kemapanan hidup kita (out of the box). Ke luar dari kemapanan hidup yang cenderung menjadi egois, tidak mau berbagi dengan orang lain. Kita harus ke luar dari semangat ingat diri untuk semakin bersolider, berbela rasa dengan orang lain. Ke luar dari merasa diri paling sukses, hebat, paling suci atau tidak berdosa. Belajarlah pada Yesus yang selalu bersikap rendah hati, rela berkorban tanpa pamrih bahkan sampai wafat di salib. Tuhan selalu hadir dan ikut campur tangan di dalam situasi manusia, tetapi sekalipun demikian merasa selalu terdorong untuk tetap datang dan tetap percaya kepada Dia.

Saat pencobaan di tengah badai Covid-19 ini adalah momentum bagi kita untuk memilih. Bukan waktu penghakiman diri sendiri, tetapi penghakiman kita bersama. Waktu bagi kita untuk memilih apa yang penting dan apa yang berlalu. Waktu bagi kita untuk memisahkan apa yang perlu dari apa yang tidak perlu dalam hidup ini. Saat ini adalah waktu untuk mengembalikan hidup kita ke jalur yang benar, yang berkenan untuk kita sendiri, untuk Tuhan, dan untuk sesama manusia.

Marilah kita sebagai putra-putri Allah belajar menerima dan mencintai situasi pandemik Covid -19 dengan melihat, merasakan, dan mengalami kehadiran Kasih Tuhan yang bangkit, hidup dan menyelamatkan. Semoga rahmat Paskah Kristus yang kita rayakan dalam kesendirian di rumah keluarga atau komunitas masing-masing, memberikan hidup dan harapan yang baru bagi ziarah perjalanan iman kita.

Kita menjaga kesehatan dan memelihara kehidupan bersama. Kita diajak untuk semakian mengarahkan hati kepada Tuhan dan mengandalkan Dia, Gembala yang baik, yang selalu menjaga dan melindungi kita (Bdk. Mazmur 23). Kita saling mendoakan dalam perlindungan Bunda Maria, Bunda Umat Beriman agar badai dalam bentuk wabah Covid-19 ini segera berakhir. Selamat merayakan Paskah 2020 untuk segenap umat Kristiani. ***

Check Also

Perempuan, Lingkungan dan Iklim Dunia

Oleh: Rizka Septiana Institut Komunikasi dan Bisnis The London School of Public Relations – Jakarta …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *