Peristiwa

Overstay 513 Hari, Rudenim Denpasar Deportasi WNA Asal Tanzania

KitaIndonesia.Com – Setelah lebih dari 9 (sembilan) bulan didetensi di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Denpasar, seorang Warga Negara Asing (WNA) asal Tanzania berinisial GPN (29) bersama putrinya berinisial GKV (1) akhirnya dideportasi, Rabu 8 Juni 2022.

GPN memasuki wilayah Indonesia pertama kali melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, pada bulan Februari 2020 dengan memanfaatkan fasilitas Bebas Visa Kunjungan yang berlaku maksimal 30 (tiga puluh) hari dan tidak dapat diperpanjang.

Awalnya, GPN datang ke Indonesia bertujuan untuk mengajukan permohonan Visa RRT yang akan digunakannya untuk bekerja sebagai model.

Selanjutnya di Bali, GPN bertemu dengan seorang pria berwarga negara Bulgaria. Kemudian dari pertemuan keduanya, mengakibatkan kehamilan bagi GPN. Namun setelah 5 bulan bersama, pasangannya pulang ke Bulgaria untuk bekerja.

Karena terjebak situasi pandemi kala itu, banyak penerbangan tidak beroperasi. Belum lagi dirinya yang tengah hamil menyebabkan GPN tidak dapat meninggalkan wilayah Indonesia.

GPN pun diserahkan oleh Dinas Sosial Pemkab Gianyar, Bali, kepada pihak Imigrasi Denpasar pada bulan Agustus 2021 setelah beberapa hari dirawat di RS Jiwa Bangli.

Sebelum itu, GPN beserta anaknya diamankan oleh Satpol PP Kabupaten Gianyar karena ditemukan dalam kondisi terlantar dan depresi serta mengganggu kenyamanan dan keamanan masyarakat.

Sampai dengan diserahkan kepada pihak Imigrasi Denpasar, GPN telah melampaui masa ijin tinggal (overstay) selama 513 hari, dan atas tindakannya tersebut GPN dikenakan tindakan admininstrasi keimigrasian berupa deportasi oleh Imigrasi Denpasar.

Namun karena pendeportasian tidak dapat langsung dilaksanakan karena GPN belum mampu menyediakan tiket penerbangan, GPN dan GKV dipindahkan ke Rumah Detensi Imigrasi Denpasar untuk didetensi sambil menunggu pendeportasian.

Saat dikonfirmasi, Kepala Rudenim Denpasar Babay Baenullah mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan pendetensian kepada GPN beserta anaknya GKV.

Setelah tiket tersedia dan segala dokumen administrasi pendeportasian beres, GPN dan GKV akhirnya dideportasi dengan terlebih dahulu menjalani tes PCR dengan hasil negatif dan diperbolehkan bergabung dalam penerbangan sesuai dengan jadwal.

Pada tanggal 8 Juni 2022 dengan dikawal 2 (dua) petugas Rumah Detensi Imigrasi Denpasar dan penerapan protokol kesehatan yang ketat, GPN dan GKV diberangkatkan melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta pada Pukul 14.50 Wita dengan maskapai Oman Air WY 0850 tujuan Muscat, Oman.

Selanjutnya keesokan harinya, diterbangkan dengan penerbangan WY0163 Pukul 08.20 waktu setempat tujuan Instanbul, Turki, dan terakhir dengan penerbangan Turkish Airlines TK1029 Pukul 19.10 waktu setempat tujuan Sofia, Bulgaria.

GPN dan GKV diberangkatkan ke negara Bulgaria dengan pertimbangan penyatuan keluarga terhadap pasangan GPN sekaligus ayah GKV yang berwarga negara Bulgaria.

Sementara itu Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Bali, Anggiat Napitupulu, dalam keterangan tertulis di Denpasar mengatakan, GPN dan GKV dideportasi karena melanggar Pasal 78 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian.

“Setelah kami melaporkan pendeportasian, keputusan penangkalan lebih lanjut akan diputuskan Direktorat Jenderal Imigrasi dengan melihat dan mempertimbangkan seluruh kasusnya” pungkas Anggiat Napitupulu. (KI-02)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button