Home / Hukum / Oknum Perawat Diduga Cabuli Pasien Covid-19, Togar Situmorang: Penindakan Hukum Masih Lemah
Advokat senior Togar Situmorang, SH, MH, MAP, CLA. (istimewa)

Oknum Perawat Diduga Cabuli Pasien Covid-19, Togar Situmorang: Penindakan Hukum Masih Lemah

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Advokat senior Togar Situmorang, SH, MH, MAP, CLA menyoroti berbagai kasus mesum antara pasien positif Covid-19 dan tenaga kesehatan atau perawat di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet, yang masih saja terjadi.

Menurut dia, sejak RSD Wisma Atlet dijadikan tempat khusus penderita Covid-19, selalu saja ada kabar mesum beredar. Salah satunya adalah heboh dugaan mesum sesama jenis di rumah sakit tersebut. Kasus ini mencuat setelah ada pengakuan pasien dalam cuitan di media sosial Twitter. Intinya, sebagaimana pengakuan pasien, mereka melakukan perbuatan mesum di dalam kamar mandi.

“Dalam kasus ini, ancaman hukumannya adalah Pasal 36 UU Pornografi, Pasal 45 ayat 1, dan Pasal 27 ayat 1 UU ITE, dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara,” kata Togar Situmorang, di Denpasar, Senin (28/12/2020).

Ia menjelaskan, RSD Wisma Atlet di Kemayoran, Jakarta Pusat, merupakan rumah sakit darurat yang diperuntukkan bagi pasien Covid-19 tanpa gejala atau dengan gejala ringan. Namun belakangan seiring dengan terus melonjaknya angka kasus Covid-19, rumah sakit darurat tersebut tak lagi menerima pasien tanpa gejala.

“Dari berbagai pemberitaan di media, di mana dugaan kasus mesum sering terjadi di RSD Wisma Atlet, maka jelas kurangnya penindakan hukum terhadap pelaku, terutama dugaan terhadap tenaga kesehatan yang melakukan mesum atau pelecehan seksual kepada pasien. Ini menjadi pertanyaan besar, terkait kinerja serta keamanan di tempat tersebut,” ujar Togar Situmorang.

Advokat berdarah Batak itu sangat menyayangkan kejadian seperti ini bisa terjadi di RSD Wisma Atlet. Apalagi saat ini dunia masih fokus menangani wabah virus corona.

“Kita semua masih prihatin dengan pandemi ini, namun justru diciderai dengan kasus mesum seperti itu. Dan saya pribadi berpendapat bahwa peristiwa pelecehan oleh perawat tersebut merupakan pelanggaran sumpah perawat, kode etik perawat sekaligus pelanggaran hukum pidana,” tandasnya.

Pelaku pencabulan terhadap orang yang sedang tidak berdaya, demikian Togar Situmorang, bisa dikenai Pasal 290 ayat 1 KUHP dengan ancaman 7 tahun kurungan. Selain itu, sebagai sebuah profesi, perilaku perawat di rumah sakit juga diatur dalam Kode Etik Keperawatan.

“Dimana disebutkan bahwa perawat harus menunjukkan perilaku profesional serta senantiasa menjunjung tinggi nama baik profesi,” ucapnya.

Ia pun mempertanyakan keberadaan CCTV di RSD Wisma Atlet Kemayoran. Demikian halnya dengan sumber daya manusia (SDM) para tenaga kesehatan yang bekerja.

“Lalu, bagaimana dengan penindakan hukumnya, apakah sampai ke arah pidana? Atau hanya berupa pecat atau ada hal lain agar bisa membuat jera para predator seks tersebut?” tanya advokat yang dijuluki Panglima Hukum itu.

Togar menambahkan, pelecehan terhadap pasien merupakan pelanggaran kode etik berat. Sanksinya bisa berupa pemecatan sebagai anggota organisasi profesi, rekomendasi pencabutan izin perawat ke pemerintah daerah, dan menyerahkan ke aparat penegak hukum.

“Kalau memang ada unsur kesengajaan bahkan perencanaan, bisa digolongkan kasus cukup berat, karena perawat tidak boleh seperti itu,” tegas Togar Situmorang.

Selaku Ketua Hukum dari RS dr Moedjito Dwidjosiswojo Jombang Jawa Timur, Togar Situmorang menyebut sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk mencegah pelecehan seksual terhadap pasien. Pertama, rumah sakit perlu membuat sistem yang komprehensif untuk memastikan pasien tidak sendirian jelang atau usai dianestesi (pembiusan). Apalagi dalam kondisi dibius, seorang pasien tidak berdaya melakukan apa pun.

“Harus ada sistem yang memungkinkan pasien atau perawat tidak hanya seorang diri di sana,” tuturnya.

Kedua, rumah sakit harus menjadikan pertimbangan moral dan pembinaan etika sebelum mempekerjakan dokter maupun perawat. Ini penting, karena setiap pasien telah mempercayakan nasibnya kepada dokter atau perawat untuk diambil tindakan medis. Jangan sampai kepercayaan itu disalahgunakan.

Ketiga, pasien berhak ditemani orang yang memiliki ikatan keluarga langsung dengannya. Seperti misalnya orangtua  menemani anaknya, suami menemani istrinya. Apalagi ada tindakan yang menyangkut privasi, misalnya membuka anggota tubuh sensitif seperti saat melahirkan.

Keempat, Togar Situmorang meminta para korban para korban berani bersuara apabila mengalami tindakan pelecehan. Ini penting, mengingat Law Firm Togar Situmorang pernah menangani kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan tenaga kesehatan RSD Wisma Atlet terhadap pasien, seorang anak perempuan dibawah umur. Kasus ini tidak terekspos karena permintaan keluarga korban.

“Informasi dari pihak RSD Wisma Atlet, pelaku sudah dipecat. Apakah bijak pihak RSD hanya sebatas memecat pelaku, tanpa memikirkan akibat psikis korban yang mengalami shock atau trauma?” tandas Togar Situmorang, yang juga Dewan Pembina DPP Forum Batak Intelektual (FBI).

Menurut Togar Situmorang, dalam hal perawat bersikap tidak profesional melalui bentuk pelecehan terhadap pasien, sehingga merusak nama baik profesi, maka izin praktik perawat tersebut dapat dicabut dan dapat dikeluarkan dari organisasi keperawatan.

“Implikasinya, akan sulit bagi perawat tersebut untuk kembali bekerja sebagai perawat. Karena itu, tolong sebelum bertindak, dipikirkan dulu akibatnya. Dan perawat atau dokter itu merupakan suatu profesi yang mulia, jadi jaga marwah perawat atau dokter dengan menjaga tingkah laku kita di masyarakat,” pungkas CEO & Founder Law Firm Togar Situmorang yang beralamat di Jalan Tukad Citarum Nomor 5A, Renon; Jalan Gatot Subroto Timur Nomor 22, Denpasar; Jalan Malboro Teuku Umar Barat Nomor 10, Denpasar; Gedung Piccadilly Jalan Kemang Selatan Raya 99, Jakarta; Jalan Srengseng Raya Nomor 69 RT 05 RW 06, Lantai Dasar Blok A Nomor 12, Srengseng Junction, Jakarta; Jalan Trans Kalimantan Nomor 3-4, Sungai Ambawang – Pontianak, Kalimantan Barat; Jalan Ki Bagus Rangin Nomor 160 dan Jalan Duku Blok Musholla Baitunnur Nomor 160 RT/RW 007/ 001 Desa Budur, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon 45167, ini. (KI-01)

Check Also

Law Firm Togar Situmorang Kembali Menangkan Perkara, Pengadilan Eksekusi Villa di Batu Layar

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Kerja keras Law Firm Togar Situmorang kembali berbuah manis. Kantor hukum yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *