Home / Nusantara / Nyoman Tirtawan: Bali Tak Perlu TPA, Pemerintah Cukup Lakukan Ini…
Nyoman Tirtawan. (istimewa)

Nyoman Tirtawan: Bali Tak Perlu TPA, Pemerintah Cukup Lakukan Ini…

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Aktivis lingkungan Nyoman Tirtawan menegaskan bahwa Bali sesungguhnya tak perlu tempat pembuangan akhir (TPA). Bali hanya perlu mengelola sampah secara benar.

“Bali tidak perlu TPA. Bali tidak perlu membuang sampah. Bali harus mengelola sampah,” kata Tirtawan, di Denpasar, Jumat 25 Juni 2021.

Mantan anggota DPRD Provinsi Bali ini menegaskan hal tersebut merespons gaduh berkepanjangan terkait lokasi TPA di Bali, khususnya Bali selatan. Apalagi Pemkot Denpasar sempat melarang pemkab lainnya untuk membuang sampah di TPA Suwung.

Menurut Tirtawan, sesungguhnya mengelola sampah tak terlalu sulit. Pemerintah daerah di Bali, kata dia, cukup mewajibkan setiap rumah tangga di Bali untuk memisahkan sampah di kediaman masing-masing.

“Seperti di rumah kami, tidak sulit memilah sendiri sampah. Sampah organik yang jumlahnya 60 persen tinggal diolah dijadikan kompos. Sementara sampah plastik yang jumlahnya sekitar 30 persen bisa didaur ulang. Sisanya 10 persen yang residu, tidak bisa didaur ulang, bisa dijadikan untuk pembangkit listrik,” ujar Tirtawan.

“Jadi sampah harus dikelola dan digunakan untuk kompos, daur ulang dan sumber energi,” imbuhnya.

Hal ini, imbuhnya, pasti bisa dilakukan oleh pemerintah di Bali. Pemerintah bisa mengaturnya melalui regulasi, dengan membuat sanksi yang tegas berupa denda bagi rumah tangga yang tidak memilah sampahnya.

“Selama pandemi Covid-19, pemerintah membuat aturan mewajibkan semua orang mengenakan masker. Yang tidak pakai masker ya didenda. Siapa yang mau didenda? Pasti orang memilih untuk pakai masker,” tandasnya.

“Nah, kenapa tidak dibuatkan aturan serupa soal sampah? Yang tidak memilah sampah di rumah ya didenda. Saya yakin masyarakat akan patuh jika ada aturan yang tegas,” imbuh Tirtawan.

Character Building dan Wawasan Wiyata Mandala

Menariknya terkait pengelolaan sampah ini, Tirtawan juga menyinggung soal character building dan wawasan wiyata mandala. Selama ini, Tirtawan menilai pemerintah mengabaikan hal tersebut.

“Satu hal yang diabaikan pemerintah adalah character building. Pemerintah seharusnya bisa menjadikan sekolah sebagai pusat wawasan dan praktik lingkungan atau wiyata mandala,” tutur Tirtawan.

Ia menyontohkan, apabila di Bali ada satu juta siswa yang membersihkan lingkungan setiap hari Jumat/ Sabtu maka Bali akan bersih.

Bukan itu saja. Sebanyak Rp500 miliar anggaran untuk membersihkan sampah juga bisa ‘diselamatkan’. Hitungannya, 1 juta siswa kali upah Rp10 ribu dikalikan 4 kali dalam sebulan dikalikan 12 (setahun) sama dengan Rp 480 miliar.

“Dan yang paling keren Bali bisa membentuk karakter generasi atau SDM yang aware atau cinta dan peduli lingkungan. Bali bersih-indah dan sangat kompetitif menyambut persaingan pariwisata internasional. Jika jorok, gak internasional namanya,” tandas Tirtawan.

Ia optimistis jika gubernur, bupati dan wali kota di Bali melakukan hal ini, maka Bali akan benar-benar bebas sampah. Bali juga bisa menjadi provinsi percontohan dalam mengelola sampah.

“Saya berharap baik gubernur, bupati dan wali kota di Bali berani melakukan hal ini,” pungkas Tirtawan. (KI-01)

Check Also

Ajak Masyarakat Vaksin dan Jaga Imun, Togar Situmorang: Jangan Remehkan Virus Corona!

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Hampir dua tahun dunia dirundung bencana wabah virus corona. Virus yang berasal …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *