Home / Peristiwa / Nasional / Natal: Momentum Memperkuat Persaudaraan

Natal: Momentum Memperkuat Persaudaraan

Oleh: RD Stephanus Turibius Rahmat
Rohaniwan Keuskupan Ruteng

UMAT Kristiani seluruh dunia merayakan Natal tahun 2021, masih dalam suasana prihatin karena wabah virus corona. Virus ini telah menghentikan semua bentuk aktivitas manusia, baik aktivitas sosial, budaya, bahkan aktivitas keagamaan yang bersifat massal.

Semua kesibukan dan rutinitas manusia dipaksa berhenti, mobilitas yang tinggi dipaksa untuk diam, kebisingan dan hiruk pikuk dipaksa senyap. Segala rutinitas keseharian diputus mata rantainya, komunio atau persekutuan dalam mengungkapkan iman kepercayaan dipaksa ditiadakan.

Kita, masyarakat modern, terlempar ke keterasingan yang mengerikan. Harus diakui bahwa masyarakat modern sebagai entitas sosial yang tenggelam dalam rutinitas keseharian yang padat, yang selalu bergerak, tidak kenal diam.

Namun, saat ini, ketika Covid-19 memutuskan semua mata rantai rutinitas, kita seakan-akan didesak untuk menepi pada eksistensi dan terlempar kepada kesendirian. Kita tentu saja bisa memilih antara rasa takut atau kecemasan eksistensial.

Rasa takut menuntut kita untuk memperhatikan semua instruksi pemerintah dan tenaga kesehatan agar terhindar dari paparan Covid-19. Tetapi, manusia yang otentik bisa melampaui sekadar rasa takut menuju kepada kecemasan eksistensial.

Dengan berhentinya roda kesibukan dan berkurangnya mobilitas manusia, kita diajak supaya pulang ke rumah eksistensi kita, untuk merenungkan palung terdalam kehidupan ini.

Di sana, di ruang percakapan dengan eksistensi, kita mungkin akan menemukan bahwa di samping segala bentuk idealisme kemajuan dan arogansi kemewahan yang memaksa kita untuk terus bergerak, bising, hiruk-pikuk, tenggelam dalam rutinitas dan jadwal yang serba padat, eksistensi kita sesungguhnya rapuh dan terbatas.

Oleh rasa takut, kita tentu melawan Covid-19. Tetapi, oleh kecemasan eksistensial, ancaman Covid-19 membuat kita sadar akan kerapuhan eksistensi kita masing-masing.

Sebagai makhluk yang ber-Tuhan, kita juga merasa tidak memiliki daya atau kekuatan sendiri untuk melawan penyebaran virus ini. Atas dasar itulah, peristiwa mewabahnya Covid-19 ini menjadi saat bagi kita, orang-orang beriman untuk kembali ke dalam keheningan diri sendiri dan sambil belajar dari peristiwa yang mencemaskan dan menakutkan ini untuk tetap mengandalkan Tuhan.

Virus ini tidak harus membuat kita tenggelam dalam rasa takut yang akut. Kita harus optimis bahwa virus ini akan berakhir jika kita patuh pada protokol kesehatan.

Pandemi yang telah merenggut jutaan nyawa manusia, kehilangan pekerjaan, runtuhnya perekonomian telah mendorong kita untuk memperkuat semangat bela rasa (compassion), tolong menolong dan persaudaraan sejati.

Semangat ini telah mendorong Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) untuk mengeluarkan Pesan Natal Bersama Tahun 2021 supaya kita saling mengasihi dan menolong siapa pun yang membutuhkan.

Dengan tema “Cinta Kasih Kristus Yang Mengerakkan Persaudaraan” yang dikutip dari Surat Pertama Rasul Petrus 1: 22, di tengah perayaan Natal yang kembali dilaksanakan dalam pandemi Covid-19 ini, PGI dan KWI berpesan bahwa peringatan kelahiran Yesus membuat kita mencari jalan baru yang kreatif untuk tetap saling mengasihi meskipun dalam kekurangan, dan mencerminkan damai sejati.

Tema ini muncul dari beragam kondisi yang terjadi di Indonesia, mulai dari banyaknya kasus kematian akibat pandemi juga bencana alam yang mendera berbagai wilayah di tanah air. KWI berpikir jika tema Natal 2021 kali ini juga menyampaikan tentang pesan Paus Fransiskus terkait Fratelli Tutti atau “Kita Semua Bersaudara”.

Pandemi Covid-19 kembali menyadarkan bangsa Indonesia bahwa kita semua adalah saudari dan saudara yang berbeda dalam satu perahu dunia yang sedang menghadapi badai Covid-19. Dalam situasi ini, falsafah hidup persaudaraan sebagai karakter khas orang Indonesia menjadi semakin bermakna dan semakin mendesak untuk kita batinkan dan wujudkan.

Tema perayaan Natal tahun ini menantang setiap orang Kristiani untuk melakukan retrospeksi, introspeksi, dan proyeksi. Setiap orang Kristiani perlu meretrospeksi dan mengintrospeksi diri dengan terus bertanya: masihkah kita berusaha memelihara damai, persaudaraan dan persatuan dalam hidup bersama karena telah mengalami dan merasakan bahwa Allah ada, hadir, tinggal dan diam bersama kita, bekerja di dalam sejarah kehidupan kita?

Ataukah kita tidak henti-hentinya menebar ujaran kebencian (hate speech), kebohongan publik (hoaks), dan sikap anti sosial, serta keserakahan yang terungkap dalam berbagai macam bentuknya, yang dampaknya sangat buruk bagi kehidupan bersama bangsa Indonesia.

Pada momen perayaan Natal ini, semua orang Kristiani diajak untuk terus berusaha mencari inspirasi dan kekuatan iman dalam diri Yesus, Sang Imanuel. Dia telah lahir untuk meretas tembok atau sekat pemisah antar manusia dengan membangun jembatan cinta kasih, damai dan semangat persaudaraan dan persatuan.

Setiap orang Kristiani yang telah merayakan Natal perlu membuat proyeksi dan komitmen untuk tetap percaya bahwa Tuhan pasti akan selalu menyertai kita kapan dan di mana saja serta dalam situasi apapun hidup manusia. Kepercayaan itu mesti tampak dalam kehidupan yang nyata dengan hadir sebagai duta-duta cinta kasih, damai, persaudaraan dan persatuan dalam hidup bersama yang lain.

Kelahiran Yesus harus membawa transformasi bagi orang-orang Kristiani dalam cara hidup (modus vivendi) dan cara bertindak (modus operandi) setiap hari. Sebab, Dia lahir dan hadir untuk memperkuat persaudaraan dan persatuan di antara kita.

Atas dasar itulah, orang-orang Kristiani perlu memiliki resolusi untuk hidup selama tahun baru 2022. Ajakan untuk hidup saling mengasihi dan memperkuat persaudaraan sebagai komitmen hidup di tahun 2022 terinspirasi oleh pesan Paus Fransiskus yang tertulis dalam Ensiklik Fratelli Tuti (Saudara Semua).

Fratelli Tutti Atau Saudara Semua

PADA tanggal 3 Oktober 2020, Paus Fransiskus menandatangani Ensiklik “Fratelli Tutti” di Assisi, tempat kelahiran dan hidup St Fransiskus dari Assisi. Ensiklik ini dipublish pada tanggal 4 Oktober.

Paus mengungkapkan harapan bahwa dokumen yang mengusulkan dunia persaudaraan yang ideal ini akan mendorong kelahiran kembali aspirasi universal menuju persaudaraan dan persahabatan sosial.

Pandemi Covid-19 menjadi latar belakang lahirnya ensiklik ini. Kedaruratan kesehatan global telah membantu menunjukkan bahwa tidak seorangpun bisa menghadapi hidup sendirian dan bahwa waktunya sungguh-sungguh telah tiba akan mimpi sebagai satu keluarga umat manusia sebagai saudara dan saudari semua.

Fratelli Tutti diambil dari peringatan keenam dari 28 aturan yang dikeluarkan oleh Santo Fransiskus dari Assisi untuk diikuti oleh saudara-saudaranya. Berdasarkan aturan tersebut, Paus Fransiskus menawarkan sebuah cara hidup yang ditandai dengan cita rasa Injil kepada para pengikut Santo Fransiskus.

Paus Fransiskus merumuskan gagasan penting untuk menumbuhkan pesaudaraan dan persahabatan sosial, yaitu: Pertama, cinta yang melampaui batas.

Paus membuka Fratelli Tutti dengan menyerukan cinta yang melampaui batas geografis dan jarak. Santo Fransiskus selalu menabur benih perdamaian dan menemani saudara dan saudari yang paling hina kemanapun ia pergi selama hidupnya. Santo Fransiskus tidak mengobarkan perang kata-kata yang bertujuan untuk memaksakan doktrin, tetapi hanya menyebarkan kasih Tuhan.

Ensiklik ini mengacu pada ajaran-ajaran Gereja sebelumnya dan juga tulisan-tulisan St Thomas Aquinas, seorang Doktor Gereja. Paus juga mengutip Dokumen Persaudaraan Manusia yang ditandatanganinya dengan Imam Besar Universitas Al-Azhar, Ahmad Al-Tayyeb, di Abu Dhabi pada tahun 2019.

Ensiklik ini mengangkat dan mengembangkan beberapa tema besar yang diangkat dalam dokumen sebelumnya. Akan tetapi, Paus mengatakan bahwa dia tidak bermaksud menjadikan dokumen itu sebagai ajaran lengkap tentang cinta persaudaraan, melainkan untuk membantu visi baru persaudaraan dan persahabatan sosial yang tidak akan tinggal pada tingkat kata-kata.

Paus menulis bahwa pandemi virus corona, yang meletus secara tak terduga saat ia menulis ensiklik itu, menggarisbawahi fragmentasi dan ketidakmampuan negara-negara untuk bekerja sama. Oleh karena itu, Fratelli Tutti berkontribusi untuk kelahiran kembali aspirasi universal untuk persaudaraan sejati antara semua manusia (pria dan wanita).

Kedua, awan gelap di atas dunia yang tertutup. Bab satu dari dokumen itu berjudul Awan Gelap di Atas Dunia Tertutup, menyoroti munculnya nasionalisme yang buta ekstrem, penuh kebencian, dan agresif di beberapa negara, dan bentuk baru keegoisan dan hilangnya kesadaran sosial. Bab ini juga mencatat bahwa manusia menjadi semakin sendirian dari sebelumnya di dunia konsumerisme tanpa batas dan individualisme kosong, di mana rasa sejarah yang semakin hilang dan adanya dekonstruksionisme.

Paus Fransiskus menulis tentang hiperbola, ekstremisme, dan polarisasi yang telah menjadi alat politik di banyak negara. Paus menggambarkannya sebagai kehidupan politik tanpa debat yang sehat dan rencana jangka panjang melainkan teknik pemasaran licik yang bertujuan mendiskreditkan orang lain. Kita tumbuh semakin jauh dari satu sama lain. Suara-suara yang diangkat untuk membela lingkungan dibungkam dan diejek.

Paus mengulangi keprihatinannya atas masyarakat yang terbuang di mana bayi yang belum lahir dan orang lanjut usia tidak lagi dibutuhkan serta jenis pemborosan lainnya yang berkembang biak dengan sangat menyedihkan. Bab ini juga membahas ketidaksetaraan ekonomi dan seruan agar perempuan memiliki martabat dan hak yang sama dengan laki-laki.

Bagian ini menyoroti momok perdagangan manusia, perang, serangan teroris, penganiayaan rasial atau agama. Paus mengatakan situasi kekerasan saat ini sedikit demi sedikit membentuk perang dunia ketiga.

Adanya godaan untuk budaya membangun tembok dan rasa memiliki sebagai satu keluarga manusia yang memudar. Akibatnya, pencarian keadilan dan perdamaian tampaknya menjadi utopia yang ketinggalan zaman, yang diganti dengan globalisasi ketidakpedulian (globalization of indifference).

Paus Fransiskus mencatat bahwa pandemi virus corona memaksa orang untuk memulihkan kekhawatiran satu sama lain, tetapi juga memperingatkan bahwa konsumerisme individu dapat dengan cepat merosot menjadi bebas bagi semua yang akan menjadi lebih buruk daripada pandemi apa pun.

Paus mengkritik rezim politik populis tertentu yang mencegah migran masuk dengan segala cara, dan menyebabkan mentalitas xenofobia. Paus juga menyoroti pengawasan terus-menerus, kampanye kebencian dan kehancuran, dan hubungan digital, dan mengatakan bahwa itu semua tidak cukup untuk membangun jembatan dan bahwa teknologi digital sedang menyingkirkan orang dari kenyataan.

Oleh karena itu, Paus menegaskan bahwa membangun persaudaraan bergantung pada perjumpaan otentik dan riil.

Ketiga, teladan Orang Samaria yang baik hati. Bab 2 berjudul Orang Asing di Jalan. Paus mengutip perumpamaan Orang Samaria yang baik hati saat ia menyerukan kepada setiap orang untuk menjadi tetangga bagi orang lain dan mengatasi prasangka, kepentingan pribadi, hambatan sejarah dan budaya.

Ensiklik tersebut mengkritik mereka yang percaya bahwa menyembah Tuhan sudah cukup dan yang menganggap tidak perlu melakukan apa yang dituntut oleh imannya dari mereka. Paus menyoroti juga orang-orang yang memanipulasi dan menipu masyarakat dan hidup bermewah-mewah.

Paus Fransiskus menekankan pentingnya mengenal Kristus dalam diri mereka yang ditinggalkan atau dikucilkan. Paus mengatakan kadang-kadang bertanya-tanya mengapa butuh waktu lama bagi Gereja untuk dengan tegas mengutuk perbudakan dan berbagai bentuk kekerasan.

Bab Tiga, tentang membayangkan dan melahirkan dunia terbuka. Paus Fransiskus menulis tentang ke luar dari diri untuk menemukan keberadaan yang lebih penuh di dalam orang lain. Paus berbicara menentang rasisme sebagai virus yang bermutasi dengan cepat, yang bukannya menghilang, malah bersembunyi dan terus menunggu.

Paus juga meminta perhatian pada para penyandang disabilitas yang merasa seperti orang buangan yang tersembunyi di masyarakat. Paus tidak mengusulkan model globalisasi satu dimensi yang berusaha menghilangkan perbedaan, tetapi menganjurkan bahwa keluarga manusia harus belajar untuk hidup bersama dalam harmoni dan damai.

Kesetaraan tidak dicapai dengan pengakuan abstrak bahwa semua adalah sama, tetapi merupakan hasil dari pembinaan persaudaraan secara sadar dan hati-hati. Paus Fransiskus membedakan antara mereka yang lahir dalam keluarga yang stabil secara ekonomi yang hanya menuntut kebebasan mereka dan mereka yang lahir dalam kemiskinan yang tidak memiliki apa-apa.

Paus mengatakan bahwa hak asasi tidak memiliki batas, dan menyerukan etika dalam hubungan internasional, dan menarik perhatian pada beban hutang negara-negara miskin.

Ensiklik ini menegaskan bahwa pesta persaudaraan universal hanya akan bisa dirayakan ketika sistem sosial-ekonomi tidak lagi menghasilkan korban tunggal atau mengesampingkan mereka, dan ketika semua kebutuhan dasar terpenuhi, yang memungkinkan mereka untuk memberikan yang terbaik dari diri mereka sendiri.

Paus menekankan pentingnya solidaritas dan mengatakan perbedaan warna, agama, bakat, dan tempat lahir tidak dapat digunakan untuk membenarkan hak istimewa beberapa orang atas yang lain. Paus mengatakan hak atas milik pribadi harus disertai dengan prinsip subordinasi semua milik pribadi pada tujuan universal barang-barang di bumi, dan semua orang berhak menggunakannya.

Resolusi Tahun 2022

PANDEMI Covid-19 belum juga berakhir sampai pada awal tahun baru 2022. Bahkan kita dihadapkan pada varian omicron. Virus ini terus menggoncangkan banyak sendi kehidupan manusia.

Ada banyak krisis yang dihadapi. Kita seakan tidak berdaya dan jatuh tergeletak. Ada banyak kesesakan, kepahitan, kesedihan dan seolah-olah jurang keputusasaan terbuka lebar dihadapan setiap pribadi.

Oleh karena itu, di tengah situasi yang pekat ini, umat Kristiani diajak untuk belajar percaya kepada Tuhan. Belajar mengandalkan Tuhan. Tuhan kita adalah Tuhan yang turut merasakan penderitaan-penderitaan dan kelehaman-kelemahan kita.

Wabah Pandemi Covid-19 adalah masa gelap dalam ziarah hidup umat manusia. Natal mengajarkan kita untuk tetap menyalakan lilin harapan bersama kelahiran Sang Juru Selamat. Dia yang adalah terang sejati pasti akan menghalau kegelapan dunia ini dari pandemi Covid-19.

Kita berharap, tahun 2022 menjadi akhir dari semua masa gelap ini karena pandemi Covid-19. Kita berharap, akan segera menikmati pembebasan dari masa-masa sulit ini.

Kita semua mempunyai tanggungjawab untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19 ini. Oleh karena itu, ada tiga (3) resolusi atau komitmen yang perlu menjadi gerakan bersama pada tahun 2022.

Pertama, memperkuat persaudaraan. Natal adalah peristiwa solidaritas Allah terhadap manusia. Solidaritas Allah ini tampak nyata dalam diri Yesus Putra-Nya yang menjadi manusia. Dialah Imanuel. Allah beserta kita yang mengambil bagian dalam perjalanan sejarah umat manusia, termasuk sejarah kelam penderitaan.

Dengan itu, martabat manusia yang berdosa dipulihkan atau dibebaskan. Manusia menjadi pribadi yang merdeka atau tertebus.

Dalam situasi pandemi Covid-19 ini, setiap orang dipanggil untuk menjadi tetangga atau sesama bagi yang lain, memiliki semangat solidaritas, bela rasa (compassion) terhadap mereka yang terkena dampak langsung wabah ini. Kita harus memiliki spiritualitas cinta yang tanpa batas, yang dijiwai oleh semangat pesta persaudaraan universal.

Persaudaraan tersebut mendesak setiap orang untuk bersikap peduli terhadap yang lain terutama yang menderita lewat imajinasi, kreativitas, dedikasi, dan sikap dermawan. Persaudaraan tersebut tampak nyata dalam sikap subsidiaritas dan solidaritas. Sikap ini berawal dengan mengakui dan menerima kodrat kerentanan bersama.

Natal di tengah pandemi hendaknya menginspirasi kita untuk menjadi sakramen atau tanda kelihatan dari kehadiran Allah yang tak kelihatan di tengah dunia mengagungkan semangat individualisme.

Kedua, menyalakan lilin kebaikan dan semangat cinta kasih. Kita perlu menjadi seperti Orang Samaria yang baik hati, peduli dengan sesama. Setiap umat Kristiani supaya menjadikan perayaan Natal tahun 2021 sebagai momentum untuk menyalakan lilin kebaikan, sikap peduli, dan semangat cinta kasih.

Umat Kristiani perlu memiliki komitmen seperti ini di tengah pandemi Covid-19. Dalam menghadapi cobaan berat ini, umat Kristiani diharapkan agar tidak berputus asa. Tradisi menyalakan lilin di rumah menyadarkan setiap umat Kristiani supaya tidak mudah hilang harapan serta mampu melampaui kecemasan dan kekhawatiran.

Momentum perayaan Natal tahun 2021 sebagai puncak tumbuhnya cahaya kesadaran baru untuk terus menyalakan lilin-lilin kebaikan di dalam diri supaya mampu menjadi manusia yang hidup saling mencintai, mengasihi, dan peduli.

Cahaya lilin itu mengingatkan kita tentang kehadiran Tuhan yang selalu bersama kita, hadir di antara kita dan bekerja untuk pemuliaan diri umatnya. Seluruh umat Kristiani diharapkan untuk tidak kehilangan harapan dan terus menyalakan lilin-lilin dalam hati di mana pun berada melalui lilin-lilin kebaikan, memberi cahaya dalam kegelapan, membawa semangat baru bahwa Indonesia bisa pulih dan bangkit kembali.

Penyertaan Tuhan Yang Maha Pengasih memampukan seluruh umat Kristiani untuk melampaui segala kecemasan dan kekhawatiran, bertransformasi untuk menghadapi masa-masa yang sulit.

Ketiga, memperkokoh nasionalisme di tengah pudarnya semangat kebangsaan sebagai suatu bangsa dan negara. Paus Fransiskus menyebut situasi pudarnya rasa kebangsaan, hilangnya keadilan dan perdamain, ketidakpedulian global sebagai awan gelap di atas dunia yang tertutup.

Kondisi yang bangsa Indonesia alami saat ini tentu menyadarkan kita sebagai makhluk yang rentan di tengah berbagai kekuatan duniawi. Kesadaran ini selayaknya menjadi basis untuk memperkokoh nasionalisme dan rasa persatuan kita sebagai bangsa yang majemuk.

Perayaan Natal selalu membawa pesan persatuan dan kesatuan. Umat Kristiani sebagai bagian dari keseluruhan rakyat Indonesia perlu memperkokoh semangat nasionalisme.

Semangat nasionalisme ini menjadi begitu penting sebab seperti yang disampaikan oleh Paus Fransiskus bahwa dunia saat ini sedang berada dalam kondisi “globalization of indifference” atau globalisasi ketidakpedulian.

Kita harus menjadi orang-orang yang peduli dengan situasi kehidupan sekitar. Kondisi tersebut berdampak pada ketidakmampuan untuk berempati terhadap penderitaan orang lain.

Di tengah dunia seperti ini, Natal mendorong kita untuk menghidupi budaya bela rasa (compassion) dan belas kasih (mercy). Sikap bela rasa dan belas kasih yang autentik ditunjukkan Allah sendiri dalam peristiwa Natal.

Sebab dalam peristiwa Natal, Allah meninggalkan singgasana kekuasaan dan menunjukkan solidaritas-Nya yang radikal kepada manusia dengan mengambil bagian dalam ziarah hidup manusia. Allah turut hadir untuk merasakan penderitaan umat manusia dan bangsa Indonesia di tengah pandemi Covid-19.

Mari kita berziarah bersama di tahun 2022 ini dengan memperkuat semangat persaudaraan, subsidiaritas dan solidaritas, terus menyalakan lilin kebaikan, sikap peduli, dan cinta kasih, serta memperkokoh nasionalisme.

Resolusi atau komitmen seperti ini dibutuhkan dalam situasi dan kondisi bangsa kita yang sedang dilanda pandemic covid-19, semangat invidualisme, intoleransi, radikalisme serta globalisasi ketidakpedulian.

Sebab, sebagai warga bangsa, kita tentu tidak mungkin dapat menghadapi hidup sendirian. Kita merasa perlu bahwa waktunya sungguh-sungguh telah tiba akan mimpi sebagai satu keluarga umat manusia di mana kita adalah saudara dan saudari semua.

Selamat merayakan Natal 25 Desember 2021 bagi segenap umat Kristiani. Semoga cinta kasih Kristus mengerakkan persaudaraan di antara kita satu sama lain.***

Check Also

Laksmi Shari dari Bali Terpilih Sebagai Puteri Indonesia 2022

KitaIndonesia.Com – Laksmi Shari De Neefe Suardana terpilih sebagai Puteri Indonesia 2022 setelah menyisihkan puluhan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *