Home / Peristiwa / Nasional / Membajak Momentum Krisis

Membajak Momentum Krisis

Oleh: RD Stephanus Turibius Rahmat
(Dosen Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng)

PERINGATAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Kemerdekaan Indonesia pada tahun 2020 mengangkat tema besar “Indonesia Maju”. Tema ini merupakan representasi dari Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tema Indonesia Maju disempurnakan dengan penambahan logo “Bangga Buatan Indonesia” sebagai upaya menumbuhkan kecintaan warga negara pada produk dalam negeri. Tema Indonesia Maju diambil dari slogan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin di kabinet periode 2019-2024.

Bangsa Indonesia jika ingin maju, maka harus berani menghadapi tantangan dan kesulitan, bangsa dengan buatan Indonesia sendiri, serta mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Tantangan dan kesulitan yang paling dirasakan saat ini oleh bangsa Indonesia dan seluruh dunia adalah dampak pandemi Covid-19.

Pandemi ini telah melumpuhkan aktivitas sosial, budaya, dll. Covid-19 telah melahirkan sejumlah krisis dalam seluruh dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara. Di tengah kenyataan serba krisis ini, bangsa Indonesia harus berani mengambil jalan yang bersifat revolusioner dan transformatif untuk menghadapi krisis multisektor akibat pandemi ini.

Atas dasar itulah, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, ketika menyampaikan pidato pada Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia dan Sidang Bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Dalam Rangka HUT Ke-75 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Jumat, 14 Agustus 2020, menegaskan bahwa krisis memberikan momentum bagi bangsa Indonesia untuk mengejar ketertinggalan, untuk melakukan transformasi besar, dengan melaksanakan strategi besar.

Sebagai warga negara Indonesia, mari kita pecahkan masalah fundamental yang dihadapi saat ini. Kita harus berani melakukan lompatan besar untuk kemajuan bangsa yang lebih signifikan. Kita harus membajak momentum krisis ini. Kita harus serentak dan serempak memanfaatkan momentum ini menuju suatu perubahan yang lebih baik.

Kita harus berjuang sekuat tenaga untuk menjadikan Indonesia setara dengan negara-negara maju. Kita berupaya dengan memanfaatkan segala potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam yang dimiliki untuk menjadikan Indonesia Maju sesuai dengan cita-cita kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.

Perayaan HUT RI yang ke-75 tahun ini menjadi momentum retrospeksi, introspeksi dan proyeksi bagi segenap anak bangsa untuk kemajuan Indonesia. Sejalan dengan tema perayaan tahun ini “Indonesia Maju”, kita diajak untuk berani menghadapi krisis yang terjadi saat ini.

Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar harus berpikir solutif, berhati teduh, serta bertindak etis dalam menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa saat ini, termasuk krisis akibat pandemi Covid-19. Kita harus sepakat dengan Presiden Jokowi untuk membajak momentum krisis, supaya bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju, berdaulat dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa yang lain.

Membajak Momentum Krisis

PIDATO Presiden Jokowi tentang langkah strategis mengatasi krisis bangsa telah mendorong Media Indonesia untuk berdiskusi bersama dalam sebuah tajuk Editorial Media Indonesia “Membajak Momentum Krisis”, pada hari Sabtu, 15 Agustus 2020 (https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/).

Menjadi bangsa yang besar seperti Indonesia memang tidak pernah luput dari badai atau gelora gelombang tantangan dan kesulitan. Tantangan dan kesulitan yang dihadapi harus disikapi dengan langkah solutif yang kreatif dan produktif. Seperti ada pepatah bijak menyebutkan bahwa pelaut ulung bukan lahir dari lautan yang tenang. Demikian pula dengan bangsa Indonesia, tidak akan menjadi bangsa yang tangguh jika tidak mampu menaklukkan segala tantangan, seberat apa pun tantangan itu.

Kini, seperti halnya negara-negara lain di seluruh penjuru dunia, bangsa Indonesia sedang menghadapi tantangan berat, bahkan superberat. Akibat pandemi Covid-19, badai krisis melanda yang bermula dari krisis kesehatan kemudian merambah ke mana-mana. Krisis bersifat multidimensi. Krisis ekonomi tidak lagi dapat dihindari dan krisis sosial pasti menanti.

Sejumlah negara bahkan sudah terperosok ke jurang resesi. Kendati belum masuk kategori resesi, negeri Indonesia juga dalam situasi sangat sulit. Krisis memang menyusahkan, tetapi di balik krisis tersimpan kesempatan atau peluang bagi bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang gemilang, tangguh, dan maju.

Krisis yang dialami saat ini menjadi ujian dan tempaan, agar bangsa Indonesia tidak menjadi bangsa yang cengeng, bukan bangsa yang rapuh. Prinsip inilah yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dalam pidatonya di Sidang Tahunan MPR dan sidang bersama DPR-DPD di Gedung Parlemen Senayan, pada tanggal 14 Agustus 2020 yang lalu.

Menurut Presiden, akibat wabah corona, kondisi bangsa Indonesia memang tidak bagus, tetapi bukan berarti sebagai warga bangsa Indonesia, kita cukup dengan meratapinya. Presiden justru menekankan pentingnya kita sebagai warga bangsa Indonesia untuk membajak momentum krisis menjadi kebangkitan baru.

Momen krisis kiranya menjadi saat untuk berbenah diri dan menjalankan strategi besar di bidang ekonomi, hukum, pemerintahan, kebudayaan, hingga kesehatan dan pendidikan.

Pada saat berpidato, Presiden menyuarakan pentingnya membajak momentum krisis. Krisis pantang membuat kita pesimistis, apalagi berputus asa, tetapi harus menjadi pemantik bagi kita untuk menyalakan api semangat untuk melakukan lompatan-lompatan besar, upaya-upaya yang bersifat revolusioner dan transformatif.

Momentum krisis, menjadi jalan bagi kita untuk menemukan dan menjalankan strategi-strategi besar bangsa. Krisis akibat ekspansi Covid-19 ialah momentum untuk mengatasi ketertinggalan dari negara-negara lain.

Kita mengamini bahwa krisis tidak boleh menjadi akhir dari eksistensi bangsa Indonesia. Akan tetapi, krisis dapat diatasi jika kita, bangsa Indonesia, mampu menyikapinya dengan baik. Krisis bisa membuat bangsa ini semakin tangguh, kuat dan maju, jika kita mau dan mampu membuat terobosan-terobosan baru untuk mengatasi setiap persoalan.

Sebaliknya, krisis dapat membuat Republik ini betul-betul terpuruk, jika kita bersikap dan bekerja biasa-biasa saja seolah-olah tidak ada apa-apa. Kita hanya akan mampu melewati krisis, jika satu pemahaman dan satu perasaan bahwa situasi memang luar biasa gawat. Dengan begitu, kita semua mempunyai satu kemauan untuk melakukan upaya-upaya yang luar biasa.

Kita harus mengakui bahwa kita belum bersatu untuk mengatasi krisis ini. Kita tidak memilik sense of crisis. Akibatnya, kita merasa biasa-biasa saja berhadapan dengan krisis yang tengah dihadapi saat ini. Bahkan sikap seperti ini muncul pada level pengambil kebijakan untuk mengatasi krisis seperti pembantu-pembantu Presiden. Tidak heran, jika beberapa kali Presiden mengumbar kemarahan ke ruang publik karena belum semua jajarannya bekerja maksimal.

Warga masyarakat juga memiliki sikap sama yakni acuh tak acuh dengan upaya bangsa untuk mengatasi krisis akibat pandemi Covid-19. Warga masyarakat tidak peduli dengan himbauan-himbauan untuk menjaga jarak, mengenakan masker, sebagai salah satu upaya untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19. Masyarakat tetap saja lalai dan tidak patuh terhadap protokol kesehatan sebagai instrumen paling penting saat ini agar Covid-19 tidak menyebar ke mana-mana dan menyerang setiap manusia.

Kita sepakat dengan ajakan Presiden untuk membajak momentum krisis demi melakukan lompatan-lompatan besar. Mau tidak mau, suka tidak suka, semua pihak mesti memahami bahwa saat ini Indonesia sedang dalam kondisi luar biasa, sehingga harus bersedia mengubah kebiasaan hidup.

Tanpa kesadaran seluruh anak bangsa, ajakan Presiden ini menjadi sia-sia dan tidak bermakna. Jika segenap komponen anak bangsa tidak memiliki kesadaran untuk berubah, tidak patuh pada protokol kesehatan, bersikap acuh tak acuh berhadapan dengan krisis yang nyata di depan mata, maka jangankan lompatan besar yang terjadi, untuk lepas atau bebas dari krisis yang dialami saat mungkin menjadi sesuatu yang mustahil.

Perayaan HUT ke-75 RI tahun ini kiranya menjadi momentum kebangkitan bagi segenap warga bangsa Indonesia. Kita bangkit dari kemunduran dan ketertinggalan cara berpikir. Bangkit dari sikap tidak peduli dan tidak sadar bahwa kita sedang berada dalam krisis yang luar biasa. Kita bangkit dan bersatu serta memiliki sense of crisis untuk mengatasi bersama krisis multisektor yang dialami saat ini akibat pandemi Covid-19.

Kita merayakan HUT ke-75 RI tahun ini tentu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kita merayakannya dalam keheningan di tengah keluarga, kelompok-kelompok kecil, dll. Tetapi hal ini tidak mengurangi makna atau substansi perayaan HUT RI.

Ketika kita merayakannya dalam keheningan, tanpa suasana yang gegap gempita, kita justru diajak untuk melakukan retrospeksi, introspeksi, dan proyeksi prihal apa yang sudah kita buat dan yang akan kita buat untuk mengatasi krisis ini. Pada pundak kita sebagai anak bangsa dititipkan harapan untuk secara terus-menerus berjuang memajukan bangsa Indonesia.

Kita tidak boleh diam, acuh tak acuh terhadap situasi krisis yang dihadapi saat ini. Kita harus memiliki sense of crisis supaya mampu berpikir dan bertindak ekstraordinary mengatasi krisis multidimensi yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

Selamat merayakan HUT ke-75 RI bagi segenap warga negara Indonesia. Selamat berjuang untuk bersama untuk Indonesia Maju. ***

Check Also

KMHDI Akan Gelar Rakernas di Bogor

Jakarta (KitaIndonesia.Com) – Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) akan menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *