Home / Hukum / Manfaatkan Korban yang Buta Aksara, Esti Yuliani Sempat Berikan BG Blong Kepada Korban

Manfaatkan Korban yang Buta Aksara, Esti Yuliani Sempat Berikan BG Blong Kepada Korban

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Sidang kasus dugaan tindak pidana penggelapan dan pemalsuan dokumen jual beli tanah yang menyeret notaris Agus Satoto (53) kembali digelar Pengadilan Negeri (PN) Denpasar dengan agenda mendengar keterangan saksi.

Adapun saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dewa Anom Rai yakni dua saksi yang disebut mengetahui proses jual beli tanah bernama I Nyoman Sara dan I Nyoman Wara, serta dua saksi korban bernama I Nyoman Mudiana dan I Made Landa.

“Apakah saksi pernah melihat proses penandatanganan jual beli antara saksi korban dengan Esti Yuliani (terdakwa berkas terpisah),” tanya jaksa kepada saksi I Nyoman Sara, Selasa (21/7/2020) di PN Denpasar.

“Melihat, tapi saya tidak membaca surat yang ditandatangani,” jawab Nyoman Sara yang merupakan makelar dalam jual beli tanah tersebut.

“Apakah saudara saksi melihat surat yang digunakan berisi kop atau logo,” tanya jaksa kembali.

“Saya tidak melihat ada logo pak Jaksa,” jawab saksi dengan tegas di hadapan majelis hakim yang dipimpin I Wayan Gede Rumega.

Jaksa kemudian menanyakan terkait proses pembayaran. Di sana saksi mengaku mengetahui ada pembayaran yang dilakukan terdakwa Esti dengan menggunakan BG (bilyet giro).

“Saat itu diberi BG (bilyet giro) Rp1 miliar untuk membayar. Namun BG yang diberikan tidak ada isinya dan dikembalikan lagi ke ibu Esti,” paparnya.

Di tempat yang sama saksi korban, I Made Landa mengatakan, setelah BG dikembalikan karena kosong, Esti mengatakan agar korban menunggu hingga satu minggu.

“Disuruh menunggu tapi tidak ada kelanjutannya,” ucapnya polos.

Kasus yang menyeret Agus Satoto duduk menjadi pesakitan di kursi pengadilan bermula dari adanya transaksi jual beli tanah antara I Wayan Rumpiak, I Wayan Satih, I Made Landa, dan I Made Ramia dengan terdakwa Esti Yuliani.

Agus Satoto dan Esti Yuliani kemudian diduga melakukan tindak pidana penggelapan atau membuat surat autektik palsu atau memalsukan surat autektik SHM No.2933 dan SHM No.2941.

Tindak pidana penggelapan terjadi pada tanggal 22 Pebruari 2017 dan tindak pidana membuat surat autektik palsu atau memalsukan surat autektik terjadi pada 23 Desember 2016 di Kantor Notaris Agus Satoto.

Kedua terdakwa membuat dua Perjanjian Ikatan Jual Beli (PIJB) yang isinya tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

Mirisnya, hal itu dilakukan kedua terdakwa setelah mengetahui para korban tidak bisa membaca dan menulis alias buta aksara. Akibatnya, korban menderita kerugian sebesar Rp9,5 miliar. (K15)

Check Also

Sasar Perempuan, Pelaku Perampasan Diciduk Polisi

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Pria bernama Aloisius Gonzaga Tasi (39) dibekuk petugas kepolisian dari Polsek Denpasar. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *