Home / Nusantara / Mabar Larang Hotel dan Restoran Gunakan Produk Olahan Daging Babi dari Timor dan Bali
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Manggarai Barat, drh Theresia Primadona Asmon. (istimewa)

Mabar Larang Hotel dan Restoran Gunakan Produk Olahan Daging Babi dari Timor dan Bali

Labuan Bajo (KitaIndonesia.Com) – Selain virus corona, masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia juga sedang mewaspadai ancaman virus demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF). Bahkan Pemkab Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), melarang hotel dan restoran di Labuan Bajo untuk menggunakan produk olahan babi dari Pulau Timor dan Bali.

Larangan tersebut dilakukan menyusul adanya laporan terkait 2.983 babi di lima kabupaten dan kota di NTT (Belu, Malaka, Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, Kabupaten Kupang dan Kota Kupang) yang mati akibat wabah ASF. Bahkan pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan status siaga satu virus demam babi Afrika ini.

“Kami sudah mengeluarkan surat larangan bagi restoran dan hotel yang selama ini menyediakan produk olahan babi, untuk tidak menerima produk olahan daging babi dari Pulau Timor atau Bali,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Manggarai Barat, drh Theresia Primadona Asmon, di Labuan Bajo, Selasa (3/3/2020).

Menurut alumni IPB itu, selama ini ada beberapa hotel dan restoran di Labuan Bajo yang menerima produk olahan daging babi dari Kupang, seperti se’i babi setengah jadi. Demikian halnya dengan Bali, yang secara rutin memasok daging babi ke beberapa hotel.

“Jadi kita melakukan pencegahan terhadap penyebaran virus demam babi Afrika ini, salah satunya dengan melarang penggunaan produk olahan daging babi dari Bali dan Pulau Timor,” ujar Ney Asmon, sapaan akrab Theresia Primadona Asmon.

Selain itu, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Manggarai Barat juga menghimbau para peternak babi di wilayah itu untuk lebih memperhatikan kebersihan kandang babi. Demikian halnya dengan penggunaan pakan babi, agar mendapat perhatian khusus.

“Kami sudah petakan potensi dari penyakit ini. Salah satunya, kontak langsung dengan babi hidup atau produk olahan babi yang tertular. Contohnya kalau babi sakit, kontak dengan apa saja, misalnya manusia, kandang, pakaian. Jika terkena kontak, maka babi yang awalnya sehat pasti akan sakit dan mati. Karena itu, kandang harus dijaga oleh pemiliknya. Jangan biarkan orang lain leluasa untuk ke luar dan masuk,” tutur Ney Asmon.

Khusus pakan, mantan Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat ini mendorong peternak agar tidak mengumpulkan sisa makanan dari hotel dan restoran. Ada baiknya peternak menggunakan pakan olahan sendiri.

“Potensi lain penyebaran virus ini datang dari produk olahan. Seperti abise daging segar, daging olahan, se’i. Itu virusnya sangat kuat. Jadi kemungkinan untuk penularan dari produk olahan sangat tinggi. Apalagi kebiasaan kita untuk menggunakan pakan babi dari hasil limbah atau sisa makanan hotel dan restoran. Jadi untuk sementara, penggunaan pakan dari sisa makanan hotel dan restoran dihentikan dulu,” tandasnya, sembari menambahkan bahwa penyakit ini tidak zoonozis atau menular ke manusia tetapi sangat fatal bagi babi karena 100 persen menyebabkan kematian pada babi.

Pada kesempatan tersebut, Ney Asmon berharap adanya pertemuan para kepala daerah se-daratan Flores guna membahas masalah ini. Sinergi dari setiap kabupaten di Pulau Flores dibutuhkan, dalam mencegah masuknya virus demam babi Afrika ini.

“Pertemuan itu juga penting untuk membahas kebijakan ekonomi yang harus diambil terkait pemasaran daging babi di Pulau Flores,” ujar alumni SMA Negeri 1 Ruteng itu. (KI21)

Check Also

Ajak Masyarakat Vaksin dan Jaga Imun, Togar Situmorang: Jangan Remehkan Virus Corona!

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Hampir dua tahun dunia dirundung bencana wabah virus corona. Virus yang berasal …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *