Home / Ekonomi / Lima Tahun Terkatung-katung, Geo Dipa Energi Optimistis Proyek Geothermal Wae Sano Bisa Jalan
Plt Direktur PT Geo Dipa Energi, Riki Firmandha Ibrahim. (istimewa)

Lima Tahun Terkatung-katung, Geo Dipa Energi Optimistis Proyek Geothermal Wae Sano Bisa Jalan

Labuan Bajo (KitaIndonesia.Com) – Proyek eksplorasi geothermal Wae Sano merupakan salah satu proyek pengembangan panas bumi yang menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikenal dengan nama Proyek Pengeboran Pemerintah atau Government Drilling (GEUDPP).

Megaproyek yang mendapat pendanaan dari pemberi dana internasional ini pada awalnya merupakan penugasan kepada PT SMI, salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah Kementerian Keuangan RI.

Namun sejak tahun 2021, penugasan ini dilanjutkan kepada PT Geo Dipa Energi (Persero). Perusahaan baru ini optimistis, eksplorasi geothermal Wae Sano akan berjalan, meskipun selama lima tahun terakhir terseok-seok karena penolakan warga.

Optimisme ini karena beberapa alasan, sebagaimana disampaikan Plt Direktur PT Geo Dipa Energi (Persero), Riki Firmandha Ibrahim, melalui keterangan resmi yang diterima kitaindonesia.com di Labuan Bajo, Kamis 16 Desember 2021.

Pertama, proyek panas bumi di Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini tak merusak lingkungan. Sebab proyek geothermal Wae Sano ini tunduk pada standar pengelolaan lingkungan dan sosial yang digariskan oleh Bank Dunia.

“Secara ketat proyek ini harus melaksanakan berbagai kajian mengenai dampak pengeboran dan kegiatan eksplorasi geothermal Wae Sano dan melakukan mitigasi terhadap dampak tersebut baik secara lingkungan maupun sosial,” jelas Riki Firmandha.

Apabila proyek melakukan pelanggaran, kata dia, maka dipastikan pendanaan akan dihentikan oleh pihak bank. Dengan demikian, maka proyek sangat berhati-hati dalam menjalankan kegiatan pengeboran, karena berkaitan langsung dengan keberlanjutan pendanaan proyek.

“Jadi jelas, kegiatan yang akan dikerjakan di Kampung Lempe, tentunya akan sangat aman dan menjaga kelestarian lingkungan serta menjaga ruang hidup masyarakat kampung tersebut,” tandasnya.

Kedua, eksplorasi proyek Wae Sano tidak merelokasi warga sekitar. Pasalnya, proyek ini telah melakukan penyesuaian desain teknis dengan memindahkan titik pengeboran menjauh dari wilayah pemukiman warga.

“Sehingga tidak perlu ada relokasi, sebagaimana banyak dikhawatirkan,” ujar Riki Firmandha.

Ia menyebut, secara teknis proyek eksplorasi geothermal Wae Sano telah melakukan perubahan pada desain teknis, di mana titik pengeboran tidak lagi dimulai dari titik pengeboran well pad B di Dusun Nunang, lantaran adanya keberatan masyarakat Dusun Nunang mengenai rencana pemboran yang dirasakan terlalu dekat dengan pemukiman.

Berdasarkan perubahan desain teknis, proyek eksplorasi akan dimulai dari titik pengeboran/ well pad A yang berjarak cukup jauh dari pemukiman warga.

Sedianya, titik pengeboran B akan dimanfaatkan untuk demo plot percontohan kegiatan pertanian sebagai bagian dari benefit sharing program atau program berbagi manfaat untuk warga Wae Sano.

Dengan dipindahkannya titik pengeboran ke well pad A, demikian Riki Firmandha, maka titik pengeboran berada di luar Nunang dan berada jauh dari pemukiman.

“Jadi, seharusnya warga tidak lagi menolak geothermal, dikarenakan sekarang jaraknya sudah jauh dari pemukiman dan wilayah yang diprotes masyarakat akan digunakan untuk area percontohan pemberdayaan masyarakat,” ucapnya.

Ketiga, ada kegiatan pemberdayaan masyarakat. Menurut Riki Firmandha, proyek geothermal tidak hanya mendatangkan manfaat untuk pergantian dari sumber energi yang tidak ramah lingkungan seperti batu bara menjadi energi bersih seperti panas bumi/ geothermal.

“Namun, proyek eksplorasi Wae Sano juga mendatangkan manfaat lain melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat,” papar Riki Firmandha Ibrahim.

Keempat, Komite Bersama Panas Bumi Indonesia melakukan 3 (tiga) pendekatan. Di antaranya membentuk kelembagaan bersama untuk proyek Wae Sano yang melibatkan semua unsur terkait seperti Kementerian Keuangan, Kementerian ESDM, PT SMI dan PT Geo Dipa Energi.

Selanjutnya, melakukan analisa gap terhadap kajian yang telah dilakukan sebelumnya dan memperkuat kajian-kajian yang diperlukan bilamana belum pernah dilakukan.

Selain itu, menyusun MoU untuk membangun kerja sama kemitraan bersama Keuskupan Ruteng guna bersama-sama membantu mendengar dan mengatasi keberatan masyarakat penolak di Wae Sano.

Menurut Riki Firmandha, sepanjang tahun 2020 sampai dengan tahun 2021, pihaknya telah melakukan pengelolaan bidang sosial.

Untuk masyarakat adat Wae Sano misalnya, melakukan Free Prior Inform Concern (FPIC) agar proyek dapat diterima secara menyeluruh oleh masyarakat adat Desa Wae Sano dan dapat bekerja sama untuk melaksanakan rencana aksi yang tertuang dalam CDP.

Selanjutnya melaksanakan rencana aksi dalam CDP (Community Development Plan) masyarakat adat dengan proyek, optimalisasi peran panitia kampung untuk menyampaikan keluhan kepada proyek dalam kerangka GRM, serta memonitor perubahan-perubahan sikap masyarakat sebagai bagian dari proses evaluasi stakeholder engagement.

Hal lain yang dilakukan adalah membangun pusat informasi di tingkat desa. Mendirikan dan mengelola pusat informasi tentang kegiatan eksplorasi panas bumi di Desa Wae Sano.

Adapun untuk stakeholder di luar masyarakat adat, dilakukan diseminasi informasi. Kegiatan yang dilakukan antara lain sirkulasi informasi tentang kegiatan eksplorasi panas bumi, mitigasi risiko, pengelolaan sosial dan lingkungan, pelaksanaan CDP dan dampaknya bagi livelihood masyarakat.

“Bentuk diseminasi antara lain workshop, pembuatan poster, leaflet, spanduk. Juga pemanfaatan media sosial untuk diseminasi informasi panas bumi Wae Sano,” papar Riki Firmandha.

Hal lain adalah mengajak keterlibatan (involve) dan berkolaborasi dengan Keuskupan Ruteng dalam pelaksanaan CDP. Juga melibatkan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat sebagai mitra diseminasi informasi mengenai kinerja proyek bagi pemangku kepentingan.

“Keseluruhan pendekatan pengelolaan bidang sosial ini dilakukan secara sinergis dan terpadu melibatkan seluruh pemangku kepentingan terkait dan tentunya ini memerlukan waktu serta tenaga agar dapat terlaksana dengan baik,” ucapnya.

Kelima, Wae Sano memiliki sumber energi yang besar. Berdasarkan data 3G, hasil perhitungan sumber daya hipotesis tim Geo Dipa Energi didapatkan perkiraan sumber daya panas bumi yang bisa dimanfaatkan dari lapangan Wae Sano berkisar 44MW (P50).

Adapun keterjangkauan energi listrik tentunya bergantung pada program PLN dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) di wilayah NTT dan sekitarnya.

“Namun, berdasarkan informasi yang ada baik dari PLN dan pemerintah daerah Manggarai Barat, program penyediaan tenaga listrik ini sangat diharapkan dalam waktu dekat untuk menunjang program wisata premium di Labuan Bajo dan sekitarnya,” kata Riki Firmandha.

Keenam, proyek eksplorasi panas bumi Wae Sano adalah wujud nyata kerja untuk mengurangi emisi karbon.

Menurut Riki Firmandha, saat ini dunia sedang menghadapi perubahan iklim. Pemerintah Indonesia sendiri saat ini mencanangkan tiga strategi untuk mengurangi emisi karbon Indonesia. Salah satunya pembangunan rendah karbon.

Selanjutnya, transfer energi dari energi tidak ramah lingkungan yaitu batu bara dan bahan bakar fosil menjadi energi bersih seperti panas bumi atau geothermal, tenaga air, matahari dan angin. Berikutnya adalah pengelolaan sampah untuk mengurangi karbon.

“Proyek eksplorasi panas bumi Wae Sano adalah wujud nyata kerja untuk mengurangi emisi karbon Indonesia, di mana energi panas bumi merupakan sumber energi bersih dan rendah karbon serta ramah lingkungan,” urai Riki Firmandha.

Ia pun mengajak masyarakat dan pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, untuk mengambil peran aktif dalam mengatasi kenaikan suhu bumi menjadi 2 derajat akibat adanya perubahan iklim.

“Kenaikan suhu bumi ini dapat mengakibatkan bencana iklim dan kemanusiaan di seluruh belahan dunia karena risiko meningkatnya penyakit berbasis lingkungan, kegagalan panen, cuaca ekstrim, dan yang paling berbahaya adalah suhu panas akan meningkat sampai lebih dari 50 derajat sehingga manusia sulit untuk bertahan hidup,” tandasnya.

Dari keenam poin ini, Riki Firmandha berkeyakinan bahwa proyek geothermal Wae Sano akan berjalan. Ia juga optimistis, secara perlahan masyarakat akan menyadari betapa pentingnya geothermal Wae Sano bagi daerah ini khususnya dan Indonesia umumnya.

Diketahui, selama lima tahun belakangan ini, proyek pengembangan geothermal Wae Sano tak kunjung terealisasi.

Padahal, sejumlah pihak telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU), baik antara perusahaan dengan pemerintah maupun perusahaan dengan Gereja Katolik Keuskupan Ruteng.

Terkatung-katungnya pelaksanaan proyek geothermal Wae Sano karena adanya penolakan warga atas kehadiran geothermal yang merupakan energi baru, rendah karbon dan ramah lingkungan itu.

Kelompok penolak geothermal beralasan, kehadiran geothermal dapat merusak lingkungan, bahkan kemungkinan mereka direlokasi. (KI-01)

Check Also

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Edy Priyono, 1 April 2022 /Dok. ksp.go.id

Kenaikan PPN Hingga 11 Persen Disebut Untuk Kurangi Ketimpangan Ekonomi

KitaIndonesia.Com – Mulai 1 April 2022, pemerintah menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 10% menjadi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *