Home / Hukum / Leasing ‘Rampas’ Kendaraan dari Debitur, Togar Situmorang: Itu Pidana Murni
Advokat senior Togar Situmorang, SH, CMed, MH, MAP, CLA, saat berdiskusi dengan kliennya. (istimewa)

Leasing ‘Rampas’ Kendaraan dari Debitur, Togar Situmorang: Itu Pidana Murni

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Pandemi Covid-19 telah memberikan dampak buruk bagi masyarakat. Hampir seluruh lapisan masyarakat merasakan dampak kondisi ini, tak terkecuali mereka yang berkecimpung di lingkungan pariwisata, terutama yang melakukan kredit mobil di finance atau leasing.

Sebelum wabah corona, mereka sesungguhnya tak kesulitan untuk membayar kredit. Namun di tengah situasi saat ini, jangankan untuk membayar cicilan, untuk makan saja mereka kesulitan.

Memahami kondisi ini, pemerintah memberikan relaksasi mengenai pembayaran di semua lembaga pembiayaan, termasuk finance. Sayangnya, tidak semua lembaga pembiayaan menghormati kebijakan ini. Masih ada saja yang nakal, dan tidak mengikuti arahan dari pemerintah. Mereka tidak jarang melakukan tindakan melanggar hukum dengan cara merampas kendaraan dari debitur di tengah jalan.

Hal ini pula yang dialami salah satu klien dari Law Firm Togar Situmorang, Muhhamad Nazir. Mobil yang dikredit Nazir, justru diambil paksa oleh orang-orang yang mengaku suruhan pihak leasing.

Nazir pun menceritrakan kronologis peristiwa ini. Dikatakan, pada tanggal 8 Desember 2019 sekitar Pukul 21.00 WIB, kendaraan miliknya yang masih berstatus kredit melintas di Sidoarjo, Jawa Timur. Ketika tiba di depan Kantor Dispora Sidoarjo, mobil yang dikemudikan sopir Nazir tersebut dihentikan oleh dua orang yang mengaku colector dari salah satu finance.

“Keduanya juga masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, keduanya meminta sopir menunjukkan STNK, dan langsung disita,” ungkap Nazir.

Sopir kemudian diarahkan ke suatu tempat, yang diketahui sebagai Pasar Wisata Sedati Sidoarjo. Saat itu, sopir menghubungi Nazir.

“Setelah dihubungi sopir, saya segera menyusul ke tempat tersebut. Saat saya datang dengan istri saya di tempat tersebut, sudah banyak orang dan menahan mobil saya dengan cara ngeblok atau memarkir mobil mereka di belakang mobil saya. Jadi, saya tidak bisa membawa mobil ke luar dari tempat tersebut,” urai Nazir.

Nazir lalu mendekati mereka, dan menanyakan maksud dan tujuan penahanan kendaraan tersebut. Hanya saja, mereka justru menawarkan sejumlah uang jika menginginkan mobil tersebut diambil.

“Informasi dari mereka, kalau mereka ditugaskan oleh salah satu finance tempat saya melakukan kredit untuk mengambil mobil saya, karena sudah lebih 6 bulan tidak ada pembayaran. Saya sudah menjelaskan bahwa kami masih negosiasi tentang relaksasi dan menunjukkan surat kuasa dari Kantor Hukum Togar Situmorang. Tetapi mereka tetap tidak menghiraukan karena sudah mendapat surat tugas dari finance tersebut,” ucapnya.

Lantaran mentok, Nazir meninggalkan orang-orang tersebut dan mobil, dan langsung menuju Kantor Polres Sidoarjo. Nazir berniat melaporkan perampasan dan pemerasan. Namun karena data yang diminta polisi tentang kepemilikan mobil belum lengkap, maka laporan tersebut ditolak.

“Saat itu sudah Pukul 2 pagi tanggal 9 Desember 2019. Jadi kami kembali pulang sambil menunggu pagi dan mengumpulkan surat-surat mobil guna melanjutkan laporan ke Polres Sidoarjo. Pada pukul 5 pagi tanggal 9 Desember 2019, saya mendapat informasi bahwa mobil sudah tidak ada di lokasi. Saat itu juga kami kembali mendatangi lokasi dan memastikan kalau benar-benar mobil sudah tidak ada. Lalu saya kembali melanjutkan mengumpulkan data-data dan mendatangi Polres Sidoarjo untuk membuat laporan. Kami diterima oleh petugas dan dibuatkan laporan polisi secara resmi,” jelas Nazir.

Dikonfirmasi secara terpisah, advokat senior Togar Situmorang, SH, CMed, MH, MAP, CLA, menyayangkan adanya kejadian yang menimpa kliennya. Apalagi mereka yang melakukan perampasan justru menggunakan kendaraan yang berlogo Ormas Batak.

“Terkait kasus penarikan mobil yang terjadi di Sidoarjo, karena sudah dilaporkan di wilayah hukum Polres Sidoarjo, diduga oleh oknum debt collector dari satu leasing tertentu dengan menggunakan mobil tertera ada logo Ormas Batak, tentu sangat kita sayangkan,” ujar advokat berdarah Batak ini.

Menurut dia, penarikan secara paksa jelas bertentangan dengan aturan hukum. Apalagi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1169/ KMK070/ 1991, sangat jelas mengatur tentang kegiatan sewa guna usaha di mana setiap transaksi sewa guna usaha itu adalah perjanjian yang harus ditaati dan diikuti dengan semacam Perjanjian Fidusia.

“Yang jelas, itu pidana murni dan polisi harus segera bergerak. Ingat bahwa secara hukum, Perjanjian Fidusia itu tidak berlaku untuk eksekutorial dan dianggap itu sebagai utang piutang biasa, sehingga leasing tidak berwenang melakukan eksekusi seperti penarikan mobil,” tandas Togar Situmorang.

Ia lalu merujuk Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia. Berdasarkan hal tersebut, eksekusi bisa dilakukan namun harus melalui putusan Pengadilan.

“Kita sangat sayangkan masih adanya oknum yang mengambil paksa mobil klien kami dari sopir yang pada saat itu sedang menjalankan tugas dari pimpinannya, yaitu klien kami,” tegas advokat yang sering disapa “Panglima Hukum” ini.

Togar Situmorang pun meminta kepada pihak kepolisian, agar menindak tegas para pelaku yang dilaporkan kliennya di Polres Sidoharjo. Sebab, aturan hukum terkait hal seperti ini sudah jelas.

“Laporan Polisinya dengan Nomor LPB/409/ XII/ 2020/ Jatim dan sudah jelas di mana alat buktinya ditaruh, di tempat balai lelang. Klien kami juga akan mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum ke Pengadilan Negeri Denpasar, karena kontraknya kan di Denpasar dan itu terkait pengambilan mobil secara paksa,” kata Togar Situmorang.

“Di samping itu juga akan memberitahukan Surat Perlindungan Hukum ke Presiden RI, dan ditembuskan ke OJK, Polda Jatim, Kapolri, Bank Indonesia, Ombusman RI,” pungkas CEO & Founder Law Firm Togar Situmorang yang berkantor pusat di Jalan Tukad Citarum Nomor 5A, Renon, Denpasar; serta kantor cabang masing-masing di Jalan Gatot Subroto Timur Nomor 22 Denpasar Timur; Jalan Malboro Teuku Umar Barat Nomor 10, Denpasar Barat; Gedung Piccadilly Jalan Kemang Selatan Raya 99, Jakarta Selatan; Jalan Trans Kalimantan Nomor 3-4, Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat; serta Jalan Duku Blok Musholla Baitunnur Nomor 160 RT/ RW 007/ 001 Desa Budur, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat itu. (KI-01)

Check Also

Tinggal di Malang Malah Digugat di Denpasar, Ibu Rumah Tangga Ini Minta Bantuan Law Firm Togar Situmorang

Tinggal di Malang Malah Digugat di Denpasar (KitaIndonesia.com) – Seorang ibu rumah tangga yang tinggal …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *