Home / Nusantara / Laksanakan Nyepi, Suasana Bali Hening
Sejumlah pecalang Banjar Kertapala, Denpasar, melakukan patroli saat Hari Suci Nyepi di lingkungan setempat, Rabu (25/3/2020). (antara)

Laksanakan Nyepi, Suasana Bali Hening

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Masyarakat Bali melaksanakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1942, Rabu (25/3/2020) sejak Pukul 06.00 Wita. Berbagai aktivitas sehari-hari masyarakat Bali pun dihentikan selama 24 jam, hingga Kamis (26/3/2020) Pukul 06.00 Wita.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, di Hari Raya Nyepi suasana Bali menjadi hening. Tak ada hiruk-pikuk seperti biasanya di destinasi wisata internasional itu.

Semua masyarakat Bali melewati waktu sepanjang 24 jam hanya di rumah saja, dan menjalankan Catur Brata Penyepian (amati geni atau tidak menggunakan dan atau menghidupkan api; amati karya atau tidak bekerja; amati lelungan atau tidak boleh berpergian; dan amati lelanguan atau tidak mengumbar hawa nafsu/ tidak menikmati hiburan).

Sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Antara, hanya beberapa petugas keamanan adat atau pecalang, yang berjaga-jaga di sekitar wilayah masing-masing. Mereka tampak melakukan patroli. Sementara masyarakat, semuanya berdiam diri di rumah.

Made Arik, salah satu Pecalang Banjar Kertapala, Kota Denpasar, mengatakan, para pecalang akan bertugas dan siaga selama 24 jam. Dalam menjalankan tugas adat itu, pihaknya sebelumnya sudah menerima arahan dan koordinasi dengan petugas keamanan lainnya, antara lain Polri dan TNI.

“Kami bertugas selama pelaksanaan Nyepi untuk menjaga keamanan lingkungan. Memang saat Hari Nyepi pengamanan lebih ketat dibanding hari-hari biasa, termasuk juga melakukan patroli di lingkungan sejak pagi hingga besok pagi,” jelas Arik, yang didampingi Kelian Banjar Kertapala Wayan Sukanadi bersama Sekretaris Komang Suparta.

Ia menjelaskan, patroli oleh pecalang lebih ketat akan dilakukan Rabu malam. Sebab, semua lampu penerangan jalan dipadamkan, termasuk di rumah-rumah warga. Hal itu, sebagai bentuk implementasi dari pelaksanaan “Catur Brata Penyepian”.

“Hal itulah tanggung jawab kami selaku pecalang adat untuk siaga berjaga-jaga untuk memberikan keamanan terhadap masyarakat dalam melaksanakan ‘Catur Brata Penyepian’,” ucapnya. (KI10)

Check Also

Budaya Literasi Merosot Picu Maraknya Hoaks dan Radikalisme

Ruteng (KitaIndonesia.Com) – Fenomena maraknya kasus ujaran kebencian serta hoaks hingga tumbuh suburnya radikalisme dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *