Home / Nusantara / KMHDI: Banjir di Kalsel Akibat Kerusakan Ekologi
Kondisi banjir yang merendam salah satu daerah di Kalimantan Selatan. (istimewa)

KMHDI: Banjir di Kalsel Akibat Kerusakan Ekologi

Banjarmasin (KitaIndonesia.Com) – Borneo dikenal sebagai paru-paru dunia. Maklum, di pulau ini masih terhampar hutan hijau. Hanya saja memasuki tahun 2021, sebagian daerah itu direndam banjir parah.

Kalimantan Selatan (Kalsel) dilaporkan sebagai daerah dengan kondisi banjir terparah. Sebanyak 11 kota dan kabupaten serta lebih dari 58 kecamatan terdampak banjir di Kalsel, akibat hujan dengan intensitas sedang dan tinggi sejak tanggal 9 Januari 2021.

Ketinggian air di beberapa titik di daerah itu bervariasi, bahkan ada yang lebih dari 3 meter. Data hingga 16 Januari 2021 Pukul 10.00 WIB, ada 27.111 rumah yang terendam banjir dan 112.709 warga mengungsi.

Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor, bahkan sudah mengumumkan wilayahnya berstatus tanggap darurat bencana banjir. Hal tersebut disampaikan melalui Surat Pernyataan Nomor 360/ 038/ BPBD/ 2021 tertanggal 14 Januari 2021.

Bencana alam parah di Kalsel ini, mendapat catatan khusus dari KMHDI (Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia). Dalam analisis KMHDI, ada banyak faktor yang memicu terjadinya banjir parah di sebagian Tanah Borneo. Salah satunya akibat kerusakan ekologi.

“Banjir terjadi tidak hanya karena satu faktor, tapi ada banyak faktor. Apalagi banjir saat ini sangat parah,” kata Ketua PC KMHDI Banjarbaru, Kadek Aditya Prayoga, melalui keterangan resminya di Banjarmasin, Senin (18/1/2021).

Kadek Prayoga menyampaikan hal tersebut dalam rapat bersama PC KMHDI se-Kalsel. Menurut dia, banjir kali ini terhitung lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Banjir memang sering terjadi tiap tahunnya di beberapa daerah di Kalimantan Selatan. Tetapi tahun ini yang paling berat dan besar dampaknya,” ujarnya.

Dampak yang didapatkan ini, lanjut Kadek Prayoga, bisa berkaitan dengan pembukaan lahan secara besar-besaran di wilayah Kalsel. Luas lahan perkebunan sawit di Kalsel mencapai 64.632 hektar.

Untuk jumlah perusahaan sawit, pada Pekan Rawa Nasional bertema Rawa Lumbung Pangan Menghadapi Perubahan Iklim 2011, tercatat 19 perusahaan yang akan menggarap perkebunan sawit di lahan rawa Kalsel dengan luas lahan mencapai 201.813 hektar,” ujar Kadek Prayoga.

Sementara I Gede Andre Gunawan, Ketua PC KMHDI Banjarmasin, menyebut, di tengah keprihatinan akibat pandemi Covid-19, masyarakat Kalsel kini semakin tak berdaya akibat bencana banjir yang melanda wilayah ini. Ia pun berharap, pemerintah tidak hanya fokus pada eksplorasi hasil alam Kalimantan, namun juga peduli saat terjadi musibah seperti saat ini.

Andre Gunawan menyebut, Kalsel memang sedang menghadapi situasi yang rumit. Tidak hanya pembukaan lahan, namun juga pertambangan.

Ia menjelaskan, Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) mencatat terdapat 4.290 Izin Usaha Pertambangan (IUP) atau sekitar 49,2 persen dari seluruh Indonesia pada 27 September 2020. Rata-rata kenaikan ekspor batu bara ke China mencapai sekitar 13,3% per tahun.

Dengan melihat tren tersebut, apalagi usai ditandatanganinya kesepakatan pembelian batu bara dari perusahaan di China, maka pihak China optimistis tahun ini ekspor batu bara Indonesia ke China bisa mencapai 200 juta ton. Hal ini, menurut Andre Gunawan, akan berpotensi terjadinya eksploitasi secara besar-besaran terhadap batu bara di Kalsel.

“Memang saat ini mengeluh dan saling menyalahkan tidak akan menyelesaikan masalah. Tetapi kita juga perlu menengok sejenak, kenapa bencana banjir ini terjadi sampai separah ini. Saatnya pemerintah juga bisa cepat tanggap sekarang. Hal ini juga bisa menjadi pukulan keras bagi pemerintah, untuk bekerja keras ke depan agar sebisa mungkin bencana seperti ini tidak terjadi lagi dengan melakukan pencegahan dini,” tegas Andre Gunawan.

Di sisi lain, Banjarmasin merupakan kota seribu sungai. Hanya saja, banyak masyarakat yang tidak sadar akan kebersihan lingkungan sungai. Buktinya, tidak sedikit bangunan yang didirikan di sepanjang bantaran sungai yang membuat sungai menjadi menyempit dan laju air sungai berkurang.

Hal ini diperparah dengan kebiasaan masyarakatnya yang masih saja membuang sampah ke sungai,” tutur Andre Gunawan.

Dari berbagai pandangan ini, KMHDI se-Kalsel berpandangan bahwa banjir awal tahun 2021 ini adalah banjir terparah selama 5 tahun terakhir. Menurut KMHDI, penyebab bencana banjir yang terjadi di beberapa wilayah di Kalimantan Selatan saat ini tidak hanya karena curah hujan yang tinggi. Namun salah satu penyebab utamanya adalah rusaknya ekologi di tanah Borneo. (KI-15)

Check Also

Ajak Masyarakat Vaksin dan Jaga Imun, Togar Situmorang: Jangan Remehkan Virus Corona!

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Hampir dua tahun dunia dirundung bencana wabah virus corona. Virus yang berasal …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *