Home / Hukum / Kliennya Dituntut 18 Tahun, Kuasa Hukum Terdakwa Kasus Narkotika Minta Keringanan

Kliennya Dituntut 18 Tahun, Kuasa Hukum Terdakwa Kasus Narkotika Minta Keringanan

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Pascadituntut pidana penjara 18 tahun atas kasus narkotika, dua terdakwa I Gede Komang Darma Astika (34) dan I Nyoman Nata alias Koming Klaci (33) melalui kuasa hukumnya melakukan pembelaan.

Salah satu tim kuasa hukum terdakwa, Iswahyudi Edy P, dalam pembelaan yang dibacakan menyatakan bahwa selaku penasehat hukum pihaknya tidak sependapat baik atas dakwaan maupun tuntutan yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum dalam perkara ini dengan dakwaan dengan Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 Ayat (1) Undang-Undang RI  Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

Menurutnya, sepanjang di luar fakta penangkapan atas diri terdakwa I di halaman kantor JNE Jalan Danau Poso No. I A Sanur, Denpasar Selatan adalah sebagai dakwaan dan tuntutan yang yang tidak sah dengan alasan sebagai berikut.

Bahwa terdakwa I, Komang Astika mencabut keterangannya dalam BAP di depan persidangan dengan alasan adanya ancaman dan kekerasan.

Bahwa terjadinya peristiwa pidana dengan dugaan sebagaimana didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum adalah bermula adanya barang berupa paket yang dikirim dari Pontianak yang sebelumnya pada hari Rabo tanggal 23 Oktober 2019 pukul 15.30 WIB telah ditemukan oleh pihak Avsec di Ruang Kargo Bandara Internasional Supadio Pontianak.

Pada saat dilakukan pemeriksaan X-ray yang diketahui diduga barang terlarang kemudian dilakukan penelusuran hingga ke Bali dengan delivery control oleh beberapa petugas dari Ditserse Narkoba Kepolisian Kalimantan Barat sampai di JNE Bali yang beralamat di Jalan Danau Poso No. I A Sanur, Denpasar Selatan.

Pada hari Kamis, 24 Oktober 2019 pukul 16.15 Wita terdakwa I, diamankan setelah keluar dari Kantor JNE dengan barang bukti berupa paket yang diduga berisi barang terlarang.

“Menurut pengakuan terdakwa I di depan persidangan, sebelum dilakukan BAP/pemeriksaan resmi oleh Penyidik di Kantor Ditserse Narkoba Kepolisian Daerah Kalimantan Barat, semasih di Bali sempat dibawa ke suatu tempat hotel di bilangan jalan Sedap Malam untuk diintrogasi awal,” kata kuasa hukum terdakwa.

“Di mana terdakwa I diancam dengan kekerasan dan mendapatkan perlakuan kekerasan secara fisik dalam keadaan wajah ditutup bantal, dipukuli pada beberapa bagian tubuh hingga sempat mengalami tulang rusuknya patah dengan perut ditodongkan pistol disertai ancaman akan ditembak bila tidak mau membantu petugas untuk mencari/menyebutkan siapa pemilik barang yang telah diambil dan siapa yang menyuruh mengambilnya,” bebernya.

Selain itu, terdakwa I juga dijanjukan akan dibantu diringankan hukumannya apabila bersedia mau menyebutkan nama pemlik dan nama yang menyuruhnya mengambil paket di JNE tersebut.

Akibat ancaman dan kekerasan yang dialami serta janji-janji petugas yang mengamankannya untuk membantu akan meringankan hukuman, terdakwa I, dengan terpaksa menyebut nama terdakwa II,  I Nyoman Nata alias Koming Klaci.

Astika kemudian disuruh menunjukkan keberadaan Koming Klaci, yang akhirnya ditangkap petugas saat ia berada di rumahnya Jalan Rajawali No. 14, Dauh Peken, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan, Jumat (25/10/ 2019).

Pascapenangkapan, kedua terdakwa dibawa ke Kantor Ditserse Narkoba Kepolisian Daerah Kalimantan Barat untuk dilakukan pemeriksaan resmi oleh penyidik.

Anehnya lanjut Iswahyudi, meski saat itu kedua terdakwa menolak didampingi pengacara saat diperiksa, namun dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tetap dicantumkan bahwa didampingi oleh pengacara.

“Sehingga hal itu dijadikan dasar mendakwa dan menuntut para terdakwa di depan persidangan ini,” jelasnya.

Selain itu sebut Iswahyudi, tidak adanya nomer telepon/sim card  nomer 0818 05321001 sebagai alat bukti dalam  berkas penyidikan perkara.
“Bahwa fakta yang terungkap dalam persidangan tidak ada alat bukti berupa nomer seluler 0818 05321001 yang dibuktikan tidak ada dalam daftar alat bukti yang disita, serta telah diakui dalam dakwaan nomer seluler 0818 05321001 sebagai barang  dalam pencarian,” bebernya.
Diungkapkan pula bahwa Koming Klaci merupakan penyandang Tuna Aksara sejak dari kecil karena tidak bersekolah, sehingga tidak dapat membaca dan menulis apalagi menulis dan mengirim layanan pesan singkat/SMS kepada Terdakwa I, Komang Astika.
Dengan demikian, selaku kuasa hukum terdakwa I dan II, pihaknya meminta kepada majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini agar dapat menyatakan bahwa dakwaan dan tuntutan Jaksa Penuntut Umum tidak sah.
“Dan demi hukum, kami memohon kepada yang mulia Majelis Hakim nantinya menjatuhkan putusan yang benar-benar adil berdasarkan kebenaran materiil yang terungkap di dalam persidangan,” pungkasnya. (K15)

Check Also

Diduga Cemarkan Nama Baik, Istri Zainal Tayeb dan Salah Satu Media Online Disomasi

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Diduga mencemarkan nama baik melalui media online, istri dari terdakwa Zainal Tayeb, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *