Home / Opini / KEMENPAR SEGERA EVALUASI DIREKSI BOP LBJ-FLORES

KEMENPAR SEGERA EVALUASI DIREKSI BOP LBJ-FLORES

Oleh:
Yosef Sampurna Nggarang

BADAN Otorita Pariwisata Labuan Bajo-Flores (BOP LBJ-Flores) sudah memasuki usia satu tahun. Dalam usia yang memasuki satu tahun ini, BOP LBJ-Flores kalau diibaratkan dengan manusia, maka dia adalah ‘bayi’ yang merangkak dan sekarang sudah bisa berdiri dan tentu akan bisa jalan.

Sejak direksi dilantik per 15 Januari 2019, pertumbuhan ‘bayi’ ini cukup cepat. Maklum, asupan ‘gizinya’ tak biasa. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) misalnya, sudah menganggarkan Rp 10 Miliar untuk tahun 2019 dan Rp 115 Miliar untuk tahun 2020. Angka ini dalam rinciannya, meliputi anggaran bidang pemasaran, industri/kelembagaan (UMKM), destinasi, anggaran gaji lima direksi (Direktur Utama, Direktur Pemasaran, Direktur Industri/ Lembaga, Direktur Keuangan, Direktur Destinasi, juga beberapa kepala divisi, staf dan operasional).

Asupan angka di atas memang masih kecil nilainya, untuk sebuah badan yang dilahirkan langsung oleh Presiden Joko Widodo. Namun kita lihat niat dari seorang presiden, melahirkan BOP LBJ-Flores melalui Perpres Nomor 32 Tahun 2018 pada April 2018. Toh, dengan dasar Perpres ini, (pariwisata) Labuan Bajo-Flores (11 kabupaten di Flores, NTT) sah ditangani oleh sebuah badan, yang dinamakan BOP LBJ-Flores.

Badan ini mengelola pariwisata, pariwisata yang kelak menjadi industri pariwisata. Mengapa industri pariwisata? Karena industri inilah yang sangat menjajikan ke depan.

Dia menghasilkan kurang lebih tujuh lapangan kerja: bisnis penerbangan (tiket), tenaga kerja potter di bandara, bisnis rental mobil/ ojek motor, bisnis rumah makan mulai dari kelas warteg sampai restoran, bisnis penginapan mulai dari kelas home stay sampai hotel berbintang lima, resort, sektor jasa keuangan/ perbankan (orang bangun rumah, hotel hampir pasti kredit di bank), transportasi laut (bisnis kapal, ABK, koki dan guide), sektor yang besar adalah UMKM. Jadi inilah komponen lapangan kerja dari industri pariwisata.

Kita ketahui semua, selama ini negara kita bergantung pada komoditi: 1) Oil (harga jatuh); 2) Pam Oil (harga jatuh); 3) Batubara (harga jatuh); 4) Gas (?).

Sekali lagi, kita sekarang bergantung pada industri pariwisata. Tidak hanya kita, negara-negara timur tengah yang raja minyak, Brunei Darusalam, desain investasinya juga beralih ke sektor pariwisata. Negara Qatar, yang raja gas, juga melirik investasi di sektor pariwisata (real estate/ hotel).

Sektor pariwisata memang sangat menjanjikan dan sedikit kurang beresiko bila terjadi krisis. Nilai investasi dalam sektor ini juga tidak terlalu besar, boleh dibilang terjangkau dibandingkan investasi dalam sektor lain.

Lalu, apa yang menjamin bahwa ke depan industri pariwisata ini yang banyak menghasilkan pundi-pundi pendapatan? Singkatnya, pariwisata bisa berjalan kalau tidak ada masalah. Di sini menitikberatkan ke faktor kepemimpinan sebagai pembuat kebijakan. Kalau kepemimpinannya tidak punya visi atau katakanlah punya visi namun tidak punya strategi dan salah menentukan personel untuk menjalankan visi strategi yang diletakkan tadi, maka industri pariwisata itu akan berjalan di tempat.

Pariwisata sebagai industri nomor satu adalah visi Presiden Jokowi. Dalam konteks pariwisata Labuan Bajo-Flores, bukan main-main presiden juga sudah dua kali melakukan kunjungan kerja ke Labuan Bajo. Bahkan, mungkin akan datang lagi dalam agenda peletakan batu pertama dermaga peti kemas bulan Januari 2020 ini. Sungguh ini perhatian yang sangat luar biasa demi mewujudkan visi tadi.

Kembali ke BOP LBJ-Flores

DENGAN usia yang sudah memasuki satu tahun, muncul pertanyaan, apa yang sudah dilakukan oleh Direksi BOP-LBJ Flores ini? Apa rencana kerja? Apa target dari perencanaan? Dan, apa saja pencapaiannya?

Sejauh ini, publik hanya mendengar BOP LBJ-Flores berbicara terkait wisata halal yang kemudian mendapat penolakan di masyarakat, juga sosialisasi analisis dampak lingkungan (AMDAL) terkait lahan 400 ha.

Dalam wacana wisata halal, yang kemudian menjadi gaduh dan kontroversi, sang Dirut BOP LBJ-Flores Shana Fatima di-nonaktif-kan beberapa bulan atau ditarik ke Kemenpar. Ditarik ke Kemenpar, hanya untuk menjaga suasana yang sudah gaduh di Labuan Bajo. Sebab Shana sebenarnya tetap beraktivitas di pusat, sambil memperhatikan ‘suasana’ di Labuan Bajo.

Yang terbaru, ada sosialisasi Amdal terkait lahan 400 ha. Kok begitu cepat sosialisasi Amdal-nya tanpa diterangkan terlebih dahulu apa master plan dari Direksi BOP khususnya Direktur Destinasi BOP LBJ l-Flores dan dari kementerian atau lembaga, terkait pembangunan di lahan 400 ha?

Sosialisasi tanpa menjelaskan apa master plannya, adalah sebuah lompatan yang tidak saja keliru tapi juga ceroboh. Publik memahami, yang namanya sosialisasi Amdal berarti ada objek pembangunan. Apa yang mau dibangun, di mana lokasi yang mau dibangun? Tentu itu semua harus matang dalam kajian, baru disosialisasikan untuk mendengar masukan dari para stakeholder.

Terkait pertanyaan soal master plan di atas, Direktur Destinasi menjelaskan, “belum memiliki master plan terpadu. Bahwa saat ini master plan itu sedang disusun di bawah koordinasi Bappenas,” jelas Hery Nabit, sebagaimana dikutip Pos Kupang, edisi Selasa (12/11/2019).

Mudah-mudahan penjelasan Hery Nabit di atas jujur, bahwa “belum memiliki master plan pariwisata terpadu dan sedang disusun di bawah koordinasi Bappenas”. Hanya, publik juga punya pertanyaan, kok lama dan belum memiliki master plan terpadu? Mudah-mudahan bukan karena ada “hitungan kepentingan” dari para direksi dan orang di pusat, soal lahan 400 ha ini? Semoga tidak!

BACA JUGA:   Manggarai Barat Menjemput Industri Pariwisata

Padahal publik berharap, paling tidak satu tahun ini, BOP LBJ-Flores menghasilkan satu kajian terkait pembangunan pariwisata di LBJ-Flores. Atau satu dari sekian Direksi BOP itu menghasilkan suatu kinerja, misalnya bagian industri/ UMKM. UMKM apa di LBJ-Flores yang selama ini pendampingan atau pelatihannya oleh BOP? Lalu, mau ditempatkan atau dipasarkan di mana UMKM yang sudah dilatih itu?

Juga publik berharap, persoalan sampah yang ‘menganggu’ dan mencoreng Labuan Bajo sebagai daerah pariwisata dan sudah menjadi masalah bertahun-tahun, BOP dan Pemda bisa mengatasinya?

Pertanyaan di atas sangat berkaitan erat dengan megahnya bangunan Marina dan hotel di Puncak Waringin dan disusul bangunan megah lainnya nanti. Bangunan yang megah itu, tentu nantinya juga menghasilkan sampah.

BOP juga mestinya sudah punya plan atau rencana, UMKM lokal apa yang mau dipasarkan di bangunan itu? Jangan sampai bangunan megah itu diisi oleh pemodal-pemodal besar. Kalau demikian jadinya, publik pesimis dengan para Direksi BOP ini. Jadi suara protes meminta Presiden agar copot Direktur Utama BOP LBJ Shana Fatima tahun lalu oleh kelompok masyarakat di Labuan Bajo maupun warga diaspora harus, dilihat kembali. Perlu dipertimbangkan dan mendengar suara publik untuk menjamin bahwa BOP LBJ-Flores bukan sekadar hanya nama, tapi nyata membawa perubahan.

Apa Capaian BOP LBJ-Flores Satu Tahun Ini?

SEJAUH ini, publik belum mendengar, bahwa ada produk dari BOP untuk menjadi role model pariwisata di LBJ-Flores. Yang kedengaran oleh publik justru narasi dari sang Direktur Utama, soal wisata halal, terkait lahan 400 ha dan mendatangkan artis Hollywood Leonardo Dicaprio.

Narasi itu untuk mewujudkan agenda pariwisata LBJ-Flores sebagai kelas wisata super premium. Meskipun para direksi belum menjelaskan secara singkat dan sederhana ke publik terkait “pembaptisan” pariwisata Labuan Bajo sebagai kelas super premium.

Para direksi harus respon atas banyak pertanyaan terkait lahan 400 ha itu, mau diapakan. Dan dalam label Labuan Bajo sebagai pariwisata super premium, apakah lahan seluas itu mau dijadikan pariwisata super premium semua? Sejauh ini, belum ada penjelasan dan publik masih terus menunggu.

Dalam menunggu jawaban itu, baru-baru ini publik dikejutkan dengan mundurnya dua direksi BOP LBJ-Flores: Jarot Trisunu (Direktur Industri Pariwisata/Kelembagaan), Sutanto Werry (Direktur Pemasaran Pariwisata). Soal mundurnya dua direksi ini, juga belum jelas apa alasannya?

Saya pun berusaha mencari tahu, dari sumber yang saya dapat yang tidak mau disebutkan namanya, disebutkan bahwa sudah lama mereka mau mundur dengan beberapa alasan: bahwa belum ada master plan terpadu padahal sudah satu tahun. Soal lain, karena manajemen BOP ‘terkesan’ sporadis. Penjelasannya, kalau manajemen bagus, yang pasti master plan sudah selesai, tentu para direksi sudah bekerja dengan master plan yang sudah ada.

Dengan penjelasan di atas, apakah BOP LBJ-Flores ke depan berjalan sesuai dengan harapan publik, bahwa badan ini menjadi role model pembangunan pariwisata? Tentu tidak terwujud harapan itu, kalau manajemen atau Direksi BOP seperti sekarang ini.

Kementrian Pariwisata, jangan sampai tidak melihat ada masalah dalam manajemen BOP LBJ-Flores. Mundurnya dua Direksi BOP adalah sebuah masalah, yang berkaitan dengan manajemen BOP. Juga keluhan dari awak media lokal yang terkesan sang Dirut BOP menjaga jarak dengan para wartawan, begitu juga dengan kelompok LSM dan masyarakat yang kritis, bagaimana hubungan, apakah ada jarak juga?

Sekarang waktunya yang tepat Menteri Pariwisata dan Menko Maritim untuk mengevaluasi manajemen Direksi BOP-LBJ. Evaluasi itu titik starnya adalah memanggil semua direksi, baik yang aktif maupun yang non aktif, duduk bersama terkait apa yang sebenarnya yang terjadi di BOP LBJ-Flores ini? Duduk bersama ini penting untuk menemukan soal dan menemukan jalan ke luar.

Sekali lagi, sekarang saatnya Direksi BOP LBJ-Flores dievaluasi. Kemenpar harus memanggil semua direksi yang sudah menjabat satu tahun. Evaluasi untuk melihat, apakah personel Direksi BOP LBJ-Flores ini bisa mewujudkan visi Presiden Jokowi, bahwa pariwisata sebagai industri nomor satu?

Dengan banyak soal di atas, rasanya Kementrian Pariwisata akan segera menemukan nakhoda (personel) baru untuk mewujudkan visi presiden. Nakhoda baru itu bukan berlatar belakang pengusaha seperti Shana Fatima, yang tentu saja bisa terjadi conflict of interest. Sehingga tidak ada lagi pertanyaan BOP ini hadir untuk publik atau untuk siapa?

Dengan begitu, BOP LBJ-Flores sebagai ‘bayi’, dia baru merangkak. Sekarang berumur satu tahun tentu sudah bisa jalan. Kelak, dia terus tumbuh dan bisa lari mengejar ‘saudara tuanya’, Bali.

*Penulis adalah Ketua Himpunan Pemuda Mahasiswa Manggarai Barat- Jakarta (HIPMMABAR-JAKARTA) dan Sekjen Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *