Politik

Julie Laiskodat Apresiasi Kehadiran Politician Academy di NTT

LABUAN BAJO TERKINI – Anggota Fraksi NasDem DPR RI Julie Sutrisno Laiskodat, mengapresiasi kehadiran Lembaga Konsultan Politik Politician Academy di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Apresiasi disampaikan Julie Laiskodat, saat hadir dalam Diskusi Publik “Trend dan Tantangan Pemilu Serentak 2024” yang diselenggarakan oleh Politician Academy Branch NTT 1 di Aula Jontom, Bajawa, Flores, NTT, Kamis 25 November 2021.

Menurut istri Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat ini, apa yang dilakukan oleh Politician Academy terutama melalui upaya memperkuat literasi politik, baik kepada para calon pemimpin maupun kepada masyarakat, patut diapresiasi.

“Di sini melalui lembaga ini, saya baru mendengar banyak pengetahuan politik yang penting, termasuk tentang pentingnya literasi politik,” kata Julie Laiskodat, dalam acara yang dihadiri oleh Pimpinan Daerah, DPRD, KPUD, Bawaslu, perwakilan tokoh masyarakat, politisi dan kaum milenial ini.

Sementara itu Executive Director Politician Academy Bonggas Adhi Chandra, yang tampil sebagai salah satu narasumber dalam diskusi publik ini, kembali mengupas fenomena menarik tumbangnya mayoritas petahana dalam kontestasi politik di NTT.

Dari data, kata dia, pada Pileg 2019 lalu hanya 25 orang dari total 65 anggota DPRD Provinsi NTT yang sukses mempertahankan kursinya. Sisanya tumbang.

Kondisi tak jauh berbeda di DPRD Kabupaten/ Kota di NTT. Persentase kemenangan legislator petahana di kabupaten dan kota rata-rata 45 persen, dengan paling kecil di Kabupaten Ende dan Malaka 36 persen serta tertinggi di Kabupaten Kupang 70 persen.

Untuk Pilkada, demikian Bonggas Adhi Chandra, pada Pilkada Serentak 2017 dari total 3 Pilkada, semuanya dimenangkan oleh petahana.

Selanjutnya pada Pilkada Serentak 2018, dari total 10 Pilkada dan 10 petahana ikut bertarung, hanya dua petahana yang memenangkan pertarungan.

Adapun pada Pilkada 2020, dari total 9 Pilkada dengan 8 petahana yang bertarung, 7 di antaranya yang tumbang. Hanya di Sabu Raijua yang petahananya menang, itu pun setelah pemungutan suara ulang.

Dalam analisis Politician Academy, demikian Bonggas Adhi Chandra, ada lima (5) faktor utama yang membuat para petahana di NTT gagal dalam kontestasi politik.

Pertama, petahana tidak mampu menjalankan janji kampanye. Kedua, petahana gagal membawa kemajuan bagi daerah.

“Ada banyak indikator majunya satu daerah. Seperti pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan, tingkat pengangguran dan IPM. Bisa jadi indikator tersebut rata-rata di bawah, sehingga membuat kepercayaan pemilih kepada petahana menjadi turun,” ucapnya.

Ketiga, petahana tidak pandai mengkomunikasikan pencapaian selama periode kepemimpinan.

“Bisa juga petahana gagal, padahal ada kemajuan dan perbaikan. Mereka gagal karena tidak bagus mengomunikasikan kemajuannya dengan masyarakat. Masyarakat jadi tidak tahu ada kemajuan. Jadi di sini, manajemen komunikasinya penting sekali,” ujar Doktor lulusan University of Queensland, Australia ini.

Keempat, penantang atau kompetitor lebih menarik. Kelima, rakyat NTT sudah cerdas dalam memilih pemimpin.

“Salah satu ciri masyarakat yang cerdas dalam memimpin, kalau petahana gagal membawa perubahan, ya say good bye, tinggalkan,” pungkas Bonggas Adhi Chandra, yang juga lulusan Magister (S2) Uppsala University, Swedia, ini. (KI-01)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button