Home / Peristiwa / Nasional / Jadikan Covid-19 Tameng PHK, Parta Kecam Manajemen Hotel Sofitel dan Fairmont
Anggota Komisi VI DPR RI I Nyoman Parta saat menerima perwakilan pekerja yang diancam PHK dari Hotel Sofitel Nusa Dua dan Hotel Fairmont Sanur Beach. (istimewa)

Jadikan Covid-19 Tameng PHK, Parta Kecam Manajemen Hotel Sofitel dan Fairmont

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Banyak perusahaan dan hotel di Bali yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap pekerjanya secara masif. Celakanya, pandemi Covid-19 yang dijadikan tameng oleh perusahaan untuk memuluskan kebijakan tersebut.

Kondisi ini menuai kecaman keras dari anggota Komisi VI DPR RI I Nyoman Parta. Politikus PDI Perjuangan asal Guwang, Gianyar ini menilai, praktik yang dilakukan oleh perusahaan ini tidak benar, bahkan sangat tidak manusiawi.

“Praktik-praktik yang dilakukan oleh perusahaan itu sudah tidak benar. Itu tidak manusiawi. Apalagi mereka menjadikan Covid-19 sebagai alasan untuk melakukan PHK seenaknya. Bahkan ada beberapa perusahaan yang memaksa karyawannya untuk menandatangani surat pengunduran diri,” kecam Parta, di Denpasar, Senin (24/8/2020).

Mantan Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bali ini pun mencontohkan apa yang dilakukan oleh Hotel Sofitel Nusa Dua dan Hotel Fairmont Sanur Beach. Dalam surat PHK yang dikeluarkan kedua hotel itu, tidak dicantumkan alasan mendasar melakukan PHK terhadap para pekerja. Perusahaan hanya mencantumkan alasan ‘situasi sulit’.

“Ironisnya, surat PHK hanya dikirim via WhatsApp, tanpa ada pembicaraan dan alasan. Ini kan sudah jelas melanggar aturan. Ini sewenang – wenang. Padahal, para pekerja sudah bersedia untuk dipotong gaji, bahkan bersedia dirumahkan tanpa gaji,” tandas Parta, yang ditemui usai menerima perwakilan pekerja yang diancam PHK dari Hotel Sofitel Nusa Dua dan Hotel Fairmont Sanur Beach. Para karyawan ini dipimpin oleh Dewa Rai Budi, dari Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM).

Ia menilai, ada upaya terselubung untuk mengganti pekerja permanen atau senior, dan digantikan dengan pekerja baru. Perusahaan melakukan hal itu agar pengeluaran lebih murah saat pariwisata sudah bangkit kembali setelah pandemi Covid-19 berlalu.

“Ini sama dengan tidak menghargai prestasi pekerja yang membangun perusahaan dari nol dan tidak menempatkan prinsip dari hubungan industrial, bahwa pekerja adalah aset perusahaan. Situasi pandemi seperti sekarang seharusnya memupuk rasa kemanusiaan, karena pekerja telah ikut serta dalam membesarkan perusahaan,” ucapnya.

“Yang lebih memprihatinkan, para pekerja yang di-PHK sepihak ini walaupun belum ada kesepakatan, BPJS Ketenagakerjaan-nya langsung disetop. Ini menyebabkan para pekerja tidak mendapatkan BLT dari pemerintah pusat, karena syarat mendapatkan BLT dari Kementerian Tenaga Kerja bagi pekerja yang upahnya di bawah Rp 5 juta harus dengan BPJS Ketenagakerjaan aktif. Kasihan mereka,” imbuh Parta.

Ia menambahkan, terjadinya PHK di banyak perusahaan di Bali, bahkan telah mengabaikan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor: 4195/ IV/ DISNAKERESDM Tentang Perlindungan Pekerja/ Buruh dan Keberlangsungan Usaha Dampak Covid-19.

“Saya meminta gubernur, bupati dan wali kota se-Bali agar lebih tegas dalam menyikapi makin derasnya PHK di perusahaan. Padahal, pariwisata sudah mulai ada tanda-tanda kebangkitan kembali,” pungkas Parta. (KI-01)

Check Also

PON Papua, Togar Situmorang: Perkuat Fungsi Intelijen Antisipasi Ancaman KKB

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Pekan Olahraga Nasional (PON) XX akan berlangsung di Papua, tanggal 2 sampai …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *