Home / Hukum / Indonesia Darurat Narkoba, Togar Situmorang: Hukuman Mati Beri Efek Jera
Advokat senior Togar Situmorang, SH, MH, MAP. (istimewa)

Indonesia Darurat Narkoba, Togar Situmorang: Hukuman Mati Beri Efek Jera

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Advokat senior yang juga pengamat kebijakan publik Togar Situmorang, SH, MH, MAP, mengatakan, peredaran narkotika di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Indonesia saat ini bahkan berstatus darurat narkoba.

Status ini tak berlebihan, kata dia, mengingat Indonesia sudah menjadi pasar penjualan narkoba. Keuntungan yang sangat menggiurkan, ditambah dengan permintaan yang tinggi, membuat peredaran narkoba di Indonesia semakin meningkat. Demikian halnya dengan Pulau Bali yang merupakan destinasi pariwisata internasional, peredaran gelap narkotika semakin menjadi – jadi.

Kondisi ini, demikian Togar Situmorang, membutuhkan peran serta seluruh lapisan masyarakat dalam memeranginya. Masyarakat wajib membantu kepolisian dalam upaya melawan narkoba.

“Peredaran narkotika ini bukan sebatas tanggung jawab aparatur kepolisian saja, tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama. Masyarakat harus berperan aktif ikut membantu pemberantasan dan peredaran gelap narkotika,” kata Togar Situmorang, di Denpasar, Selasa (21/7/2020).

Ia menyebut, peran seluruh komponen masyarakat sangat penting, mengingat dampak narkoba justru lebih dahsyat bahkan melebihi terorisme. Pengaruh narkoba bisa menghancurkan bangsa.

“Ini merupakan kejahatan luar biasa sehingga penanganannya harus secara luar biasa juga,” tandas Togar Situmorang, yang juga Ketua Hukum RS dr Moedjito Dwidjosiswojo Jombang, Jawa Timur ini.

Melihat bahaya peredaran gelap narkotika di kalangan masyarakat sudah sangat memprihatinkan, imbuhnya, maka sebaiknya usulan hukuman berat bahkan hukuman mati perlu didukung. Apabila para bandar narkotika sudah dinyatakan bersalah dan putusan Pengadilan sudah memiliki kekuatan hukum tetap, demikian Togar Situmorang, akan lebih bagus jika mereka dikirim ke Nusa Kambangan.

“Dalam Undang-Undang Narkotika jelas diatur soal sanksi pidana seumur hidup bahkan hukuman mati bagi para bandar narkoba. Dengan diterapkannya hukuman mati, tentu bisa menimbulkan rasa takut bagi para pengedar dan para bandar narkoba. Ini semacam memberikan efek jera,” tandas Togar Situmorang, yang masuk dalam Tim 9 Investigasi Komnaspan RI.

Pada kesempatan yang sama, Togar Situmorang menyinggung upaya pemberantasan narkoba di Kota Denpasar. Apalagi di bawah kepemimpinan Kapolresta Denpasar Kombes Pol Jansen Avitus Panjaitan, Satuan Reserse Narkoba Polresta Denpasar berhasil mengamankan 16 pelaku dengan 14 kasus narkoba dalam dua minggu di bulan Juli 2020.

Adapun barang bukti yang berhasil diamankan masing-masing adalah sabu 85,77 gram, ekstasi 9 butir, ganja 432,39 gram dan tembakau sintetis 3,44 gram. Barang bukti tersebut didapatkan dari hasil pengembangan polisi terhadap para pelaku, baik yang berperan sebagai bandar maupun pemakai.

“Kita tentu mengapresiasi kinerja Polresta Denpasar, yang telah mengamankan 16 pelaku, masing-masing 14 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Ini bukti kerja keras tanpa henti Kasat Narkoba Polresta Denpasar Kompol Mikael Hutabarat bersama jajaran,” ujar Togar Situmorang.

Meski banyak yang ditangkap, ia tetap mengingatkan masyarakat bahwa para bandar narkoba lainnya masih berkeliaran. Karena itu, masyarakat harus mewaspadai motif hingga modus operandi para bandar yang semakin canggih dalam menjerat masyarakat.

“Modus operandi terbaru yang digunakan oleh para bandar adalah menggunakan sosial media, baik itu whatsapp, messenger, instagram dan media sosial lainnya. Selain itu, metode yang digunakan oleh para bandar nakotika adalah menggunakan sistem tempel,” tutur advokat yang dijuluki Panglima Hukum ini.

Siasat para bandar narkotika, kata dia, tidak boleh dianggap enteng. Sebab biasanya, mereka mengawali dengan bujukan, tawaran dari teman sebaya. Umumnya karena didorong rasa ingin tahu atau ingin mencoba, akhirnya mereka yang sama sekali tidak mengenal narkoba ikut terjerat.

Apabila sudah terjerat, maka selanjutnya adalah hanya memakai sekali, lalu beberapa kali dan akhirnya menjadi ketergantungan terhadap narkoba. Saat kondisi ketergantungan para pemakai ini tinggi, para bandar memanfaatkan situasi tersebut.

“Jadi kerugian yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan narkoba bagi individu dan masyarakat secara ekonomi, sangat besar. Untuk pengobatan kepada para penyalahgunaan narkoba saja memerlukan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi biaya rehabilitasi sosial untuk reintegrasi sosial,” kata Ketua Pengurus Kota Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (Pengkot POSSI) Kota Denpasar ini.

Melihat kerugian dan dampak buruk dari permasalahan ini, diperlukan upaya yang terintergrasi dan sinergis. Ini sangat penting, dalam rangka memproteksi masyarakat terhadap bahaya penyalahgunaan narkoba, baik secara individu maupun kelompok.

“Jadi, perlu wujud nyata komitmen¬† bersama bagi seluruh elemen masyarakat bangsa dan negara untuk memberikan proteksi terhadap individu dan masyarakat dari bahaya penyalahgunaan narkoba,” pungkas Founder dan CEO Firma Hukum di Law Firm Togar Situmorang yang beralamat di Jalan Tukad Citarum Nomor 5A Renon, Denpasar (pusat), dan Cabang Denpasar di Jalan Gatot Subroto Timur Nomor 22 Kesiman, Denpasar serta Cabang Jakarta di Gedung Piccadilly Room 1003-1004, Jalan Kemang Selatan Raya Nomor 99, Jakarta Selatan, ini. (KI-01)

Check Also

Kasus Tanah di Labuan Bajo, Sampurna Nggarang Apresiasi Kinerja Kejati NTT

Labuan Bajo (KitaIndonesia.Com) – Sekretaris Jenderal Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR) Yosef Sampurna Nggarang, mengapresiasi kinerja …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *