Home / Sains & Tekno / Hati-Hati Memposting Foto atau Video di Medsos Jika Ada Orang Lain di Dalamnya
Ilustrasi Sosmed (Ist)

Hati-Hati Memposting Foto atau Video di Medsos Jika Ada Orang Lain di Dalamnya

Tabanan (KitaIndonesia.Com)– Salah satu yang harus diwaspadai terkait postingan di media sosial atau medsos adalah soal pelanggaran hak cipta. Kita harus berhati-hati dalam merekam dan mempublikasikan video yang terkait orang lain tanpa izin karena bisa terkena pelanggaran hak cipta.

Hal itu dikatakan oleh Rizky Rahmawati Pasaribu, SH, LL.M Advokat dan Managing Partner Law Office Amali & Associates dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Tabanan, Bali Senin 20 September 2021.

Rizky mencontohkan jika kita lagi pergi ke sebuah konser lalu kemudian kita rekam berniat posting di YouTube. “Nah saat mau posting kita harus memastikan apa kita mempunyai izin untuk memposting video tersebut atau tidak karena masalahnya dalam pertunjukan tersebut ada hak-hak dari orang lain yang masuk ke dalam video kita tersebut,” jelas Rizky dalam webinar yang dipandu oleh Claudia Lengkey ini.

Jika ada orang-orang yang tidak berkenan maka kita bisa terkena denda pembayaran ganti kerugian atau terkena kasus pidana. Untuk itulah ia mengimbau masyarakat agar lebih bijak dan menambah pemahamannya mengenai hukum digital agar dapat mengetahui hak-hak dan kewajiban.

Pemahaman ini juga haus terus diupayakan agar kita terhindar dari permasalahan hukum. “Bijak menggunakan media sosial ini paling penting seperti menggunakan FB, Instagram, Twitter dan mengakses portal-portal berita,” imbuhnya.

Ia juga menyinggung soal bahaya lain dunia digital adalah banyaknya penyebaran hoax. Sehingga kita harus paham sebenarnya interaksi secara online tidak beda dengan interaksi secara langsung. Tentu ada batasan-batasan tertentu sehingga harus bijak berinteraksi melalui media sosial,

Rizky juga menyitir soal Pasal 27-30 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Menurutnya, pada pasal-pasal tersebut merupakan bentuk-bentuk pelanggaran yang paling sering terjadi di masyarakat. Seperti diketahui, Pasal 27 UU ITE menyatakan perbuatan yang dilarang seperti pendistribusian, transmisi dan perbuatan yang menyebabkan dapat diaksesnya muatan melanggar keasusilaan, perjudian, pencemaran nama baik dan pengancaman.

Kemudian, Pasal 28 mengatur pelarangan penyebaran berita bohong dan menyesatkan sehingga merugikan konsumen dalam transaksi elektronik. Pasal 29 mengatur pelarangan ancaman kekerasan dan menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi. Lalu Pasal 30 mengatur pelarangan pengaksesan komputer atau sistem elektronik tanpa izin maupun secara paksa.

Selain Rizky juga hadir pembicara lainnya yaitu M.Dedi Gunawan, Operation & Legal Division Head, I Gede Agus Wiryawan, S.P.d, Guru SMA N 1 Penebel dan Ari Lesmana sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (KI7)

 

Check Also

Pentingnya Menjaga Rekam Jejak Digital Positif

Mataram (KitaIndonesia.Com)– Hampir seluruh aspek kehidupan manusia saat ini terpengaruh oleh teknologi digital. Majunya teknologi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *