Home / Hukum / Hakim Makin Aneh, Sidang Gugatan FBS Diwarnai Perdebatan Panas

Hakim Makin Aneh, Sidang Gugatan FBS Diwarnai Perdebatan Panas

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Sidang kasus gugatan mendiang Frans Bambang Siswanto (FBS) dilanjutkan di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Senin (21/10). Dalam agenda sidang kali ini, terjadi perdebatan sengit dan panas.

Hal ini dipicu langkah hakim yang cenderung ingin melanjutkan sidang, tanpa melibatkan penggugat yaitu ahli waris almarhum FBS. Sidang dipimpin oleh Majelis Hakim Dewa Budi Watsara, dihadiri kuasa hukum ahli waris FBS Willing Learned; pengacara tergugat IMS, Wayan ‘Tang’ Adimawan; serta pengacara penggugat intervensi Hotel Mulia, Haris Nasution.

Agenda sidang kali ini adalah Penyerahan Jawaban atau Tanggapan kepada Penggugat Intervensi Hotel Mulia. Sidang menjadi panas dan memicu perdebatan sengit, ketika hakim tidak memberikan kesempatan kepada penggugat melalui kuasa hukumnya, Willing.

Hakim bahkan mempersilakan kepada kuasa hukum ahli waris FBS untuk tidak mengikuti sidang, dengan alasan hakim bahwa penggugat sudah menarik diri.

“Kan sudah saya tetapkan jika penggugat gugur karena ahli waris tidak mau melanjutkan perkara. Tapi untuk penggugat intervensi (Hotel Mulia), perkaranya tetap kami lanjutkan,” tegas Hakim Dewa Budi.

Kuasa hukum FBS lalu mempertanyakan soal kelanjutan perkara. Pasalnya, FBS merupakan penggugat untuk tergugat IMS dan Hotel Mulia merupakan penggugat intervensi. Karena menurut dia, jika gugatan awal dari FBS digugurkan, tentu penggugat intervensi dalam hal ini Hotel Mulia, juga harus digugurkan gugatannya. Namun pendapat ini kembali dibantah majelis hakim.

“Itu kan pendapat Anda. Pendapat majelis hakim, perkara untuk penggugat intervensi akan tetap dilanjutkan,” tandas Hakim Dewa Budi.

Kondisi ini membuat perdebatan semakin panas. Bahkan Willing kemudian membeberkan sikap – sikapnya. Di antaranya, menyatakan bahwa, ketika ahli waris penggugat ini mencabut gugatan, mesti seluruh sidang dihentikan.

Ia lalu mengutip kembali dalam Yurisprudensi MA Nomor 431K/ Sip/ 1973 tanggal 9 Mei 1974, yang menyatakan pada pokoknya bahwa ‘Dengan meninggalnya penggugat asli dan tidak adanya persetujuan dari semua ahli warisnya untuk melanjutkan gugatan semula, maka gugatan harus dinyatakan gugur’.

“Yang kami maksud, gugatan kami cabut. Persidangan dihentikan, lantaran ahli waris memilih mencabut gugatan karena kondisi berduka. Bukan malah kami cabut gugatan dikabulkan, kemudian sidang dilanjutkan untuk penggugat intervensi (Hotel Mulia),” teriak Willing, yang membuat suasana sidang tambah panas.

Selain itu, imbuhnya, ketika gugatan dicabut oleh ahli waris dikabulkan, kemudian sidang dilanjutkan dengan penggugat intervensi Hotel Mulia, akan menjadi sangat janggal sidang ini. Sebab, perkara penggugat intervensi Hotel Mulia dan rekonvensi oleh tergugat IMS berada dalam satu nomor perkara.

“kami tegas menentang langkah persidangan ini,” ujar Willing.

Perdebatan akhirnya tambah sengit, hingga hakim akhirnya melanjutkan sidang Penyerahan Jawaban atau Tanggapan kepada Penggugat Intervensi Hotel Mulia. Namun pihak ahli waris mesti mau melanjutkan sidang atas gugatan sebelumnya. Dan dalam sidang kali ini, bisa memberikan tanggapan kepada Hotel Mulia.

“Silahkan masuk lagi, ajukan kuasa baru dari ahli waris untuk melanjutkan perkara ini,” kata Hakim Dewa Budi.

Usai sidang, Willing mengatakan bahwa ahli waris akhirnya bisa menyerahkan tanggapan atas penggugat intervensi Hotel Mulia. Dan ahli waris akhirnya bersedia melanjutkan sidang, lantaran ketika mencabut gugatan malah sidang akan dilanjutkan tanpa penggugat.

“Kami istilahnya sudah memilih untuk mencabut gugatan. Dengan alasan jelas, keluarga sedang berduka tidak mau berpolemik, namun situasi membuat kami harus lanjut. Karena sidang mau dilanjutkan tanpa pengugat, padahal jelas tidak sesuai dengan Yurisprudensi MA No. 431K/Sip/1973 tanggal 9 Mei 1974,” tegasnya.

“Tentu dengan posisi kami mesti lanjut, kami akan berjuang maksimal, untuk terungkapnya kebenaran,” pungkas Willing.

Sebelumnya kasus ini disoroti oleh ahli perdata dan praktisi hukum. Para ahli dan praktisi menyebut, ketika ahli waris memilih tidak melanjutkan gugatan, seharusnya hakim mengabulkan untuk menghentikan sidang kasus ini.

Kasus ini berawal dengan kasus pidana, atas laporan FBS terhadap IMS terkait keterangan palsu terhadap surat otentik (Sertifikat) yang berada di Hotel Mulia. FBS kemudian melaporkan IMS ke Polda Bali.

Selanjutnya berdasarkan putusan PN Denpasar Nomor 1333/ Pid.B/ 2018/ PN Dps tanggal 25 Februari 2019, IMS divonis 4 tahun. IMS kemudian banding di Pengadilan Tinggi (PT). Di PT, berdasarkan Putusan PT Denpasar Nomor 15/ Pid/ 2019/ PT Dps tanggal 24 April 2019, ditingkatkan hukumannya menjadi 6 tahun.

Setelah bersalah secara pidana, FBS melanjutkan gugatan secara perdata. Namun sebelum kasus ini selesai disidangkan, FBS ternyata meninggal dunia. Akhirnya ahli waris FBS melalui pengacaranya Willing Learned, berkeinginan mencabut gugatan.

Lantaran keluarga masih dalam kesedihan mendalam atas berpulangnya FBS, diajukanlah permohonan pencabutan/ pengguguran perkara ke majelis hakim pada 1 Oktober 2019 lalu. Keinginan ahli waris berdasarkan Yurisprudensi MA Nomor 431K/ Sip/1973 tanggal 9 Mei 1974.

Hanya saja, hakim menolak permohonan itu pada 15 Oktober 2019. Hakim beralasan, Tergugat IMS dan Penggugat Intervensi pihak Hotel Mulia menolak keinginan ahli waris pada tanggal 8 Oktober 2019, dan juga sudah ada jawaban dari pihak Tergugat dan ada Penggugat Intervensi dari Hotel Mulia, dengan mengacu pada ketentuan Pasal 271 Rv.

Padahal Pasal 271 Rv, menurut pengacara ahli waris FBS, hanya berlaku saat Penggugat asli masih hidup. Sedangkan bila Penggugat asli telah meninggal dunia, maka yang berlaku ketentuan Yurisprudensi MA Nomor 431K/ Sip/ 1973 tanggal 9 Mei 1974. (KI4)

Check Also

Klien dalam Tekanan, PBH Panglima Hukum Berharap Surat Perdamaian Jadi Pertimbangan Hakim

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Pengadilan Negeri (PN) Denpasar menggelar sidang dengan terdakwa suami (Terdakwa 1) dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *