Home / Figur / Hakim Agung Supandi di Mata Hermawi Taslim: Sosok Penegak Hukum Berintegritas
Advokat senior Hermawi Franziskus Taslim (kiri) dan Prof Dr Supandi, SH, MHum (kanan). (istimewa)

Hakim Agung Supandi di Mata Hermawi Taslim: Sosok Penegak Hukum Berintegritas

Jakarta (KitaIndonesia.Com) – Suatu pagi pada tahun 1958, Ngadimun memacu sepeda ontelnya menembus kabut subuh yang menusuk tulang. Saat itu, ia mengantar salah seorang anaknya untuk mendaftar di Sekolah Rakyat (SR) di Desa Saentis, sebuah kawasan perkebunan di daerah Tembung, Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut).

Ngadimun tidak sadar, dalam perjalanan tersebut ada seorang bocah tanpa alas kaki yang mengikutinya, berlari kecil tanpa alas kaki. Bocah itu adalah Supandi.

Setibanya di Gedung SR-2, Ngadimun membimbing sang anak untuk mendaftar. Pada saat yang hampir bersamaan, bocah Supandi juga tiba dan berbelok ke Gedung SR-1, di sebelahnya. Di Desa Saentis kala itu memang ada dua SR, yang lokasinya bersebelahan.

Bocah Supandi kemudian menembus kerumunan orang tua yang pagi itu ingin mendaftarkan anak mereka. Untuk masuk SR, syaratnya harus berusia 7 tahun, yang ditandai dengan ukuran tangan yang dilingkarkan hingga menyentuh telinga.

Ternyata Supandi kecil tangannya tidak mencapai telinga. Maklum, usianya memang masih 6 tahun.

Namun Pak Paiman, kepala sekolah saat itu, melihat sesuatu yang lain dalam diri sang bocah. Ia pun menyuruh Supandi kecil menghitung 1 sampai 10. Ternyata, bocah Supandi dengan lancar menghitung 1 sampai 25.

Singkat cerita, pagi itu adalah episode awal kehidupan bocah Supandi, menjadi murid termuda di seantero SR Desa Saentis.

Kecerdasannya tak terbantahkan, ketika dalam perjalanan selanjutnya, Supandi menjadi salah seorang benteng keadilan di negeri ini. Prof Dr Supandi, SH, MHum, menjadi Hakim Agung dan menjadi guru besar ilmu hukum, serta duduk sebagai Ketua Kamar Tata Usaha Negara Mahkamah Agung hingga saat ini.

Banyak yang mengagumi sosok yang satu ini. Ia dipandang sebagai sosok teladan, sekaligus satu dari sedikit penegak hukum yang berintegritas.

Pandangan ini salah satunya datang dari advokat senior Hermawi Franziskus Taslim. Di mata Ketua Umum Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (Forkoma PMKRI) itu, Supandi adalah sosok yang nyaris sempurna sekaligus teladan dan kebanggaan almamater, Fakultas Hukum – USU.

“Prof Supandi menjadi patron bagi kita-kita yang menekuni profesi penegak hukum,” kata Hermawi Taslim, usai mengikuti sebuah diskusi kecil Buku Biografi Supandi “Bocah Kebun dari Deli” yang ditulis oleh wartawan senior Irawan Santoso.

Supandi di mata Hermawi Taslim, merupakan sosok hakim yang berintegritas tinggi. Hal itu sebagaimana tercermin dalam biografinya yang tidak pernah malu melakoni berbagai kerja sampingan yang halal, demi mengapai kesejahteraan keluarganya.

“Mulai dari beternak itik, ayam, hingga berkebun, semua ia lakoni demi menjaga kehormatan dan martabat profesinya sebagai seorang hakim,” tandas Hermawi Taslim.

Perjalanan panjang, terjal dan penuh liku seorang bocah Supandi, demikian Hermawi Taslim, mengingatkan semua bahwa di Republik ini, ‘setiap anak bangsa bisa menjadi apa saja, asal tekun, taqwa dan kerja keras mengejar takdir’.

Bagi Hermawi Taslim, Supandi adalah sebuah ‘amazing’, dari seorang bocah kebun, cucu seorang kuli kontrak (Supirah) yang diculik dari tanah Jawa dalam usia belia 14 tahun dibawa ke tanah Deli, dalam sistem imperialis yang sangat menindas saat itu.

Hakim Agung kelahiran 17 September 1952 itu sejak SR, menempuh pendidikan dengan berjalan kaki dan bersepeda berpuluh-puluh kilometer setiap hari.

“Toh pada akhirnya, ia bisa menjadi punggawa hukum yang terhormat di negeri ini,” ujar Hermawi Taslim.

Di mata Hermawi Taslim, biografi ini sarat dengan pesan moral tentang bagaimana seorang anak bangsa berjuang menjaga integritas profesi dan martabatnya.

“Poin penting lain yang patut dicatat adalah ketekunan seorang Supandi yang ikut menjadi pioner pembaharuan Mahkamah Agung khususnya ketika beliau menjadi Kapusdiklat Teknis Peradilan Mahkamah Agung yang pertama. Dia lah yang meletakan dasar-dasar pembaharuan Mahkamah Agung yang sangat terasa manfaatnya di era digital sekarang ini,” pungkas Hermawi Taslim. (KI-33)

Check Also

Laksmi Shari dari Bali Terpilih Sebagai Puteri Indonesia 2022

KitaIndonesia.Com – Laksmi Shari De Neefe Suardana terpilih sebagai Puteri Indonesia 2022 setelah menyisihkan puluhan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *