Home / Nusantara / Gonjang-ganjing Geothermal Wae Sano, Bupati Mabar: Sulit Dihentikan
Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dula saat menerima aspirasi para aktivis PMKRI Cabang Ruteng. (kitaindonesia.com/itho umar)

Gonjang-ganjing Geothermal Wae Sano, Bupati Mabar: Sulit Dihentikan

Labuan Bajo (KitaIndonesia.Com) – Bupati Manggarai Barat (Mabar) Agustinus Ch Dula menegaskan, rencana pembangunan geothermal atau energi panas bumi di Wae Sano, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sulit dihentikan. Dula memastikan bahwa megaproyek yang akan dikerjakan oleh PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu akan jalan terus.

“Yang jelas (geothermal) ini program pusat, bukan Manggarai Barat. Sehingga saya mau hentikan pembangunan ini, sulit,” kata Dula, saat menerima perwakilan massa aksi tolak Geothermal Wae Sano, di Ruang Kerja Bupati, di Labuan Bajo, Senin (2/3/2020).

Ia menambahkan, selain karena program pusat, pihaknya tidak memiliki alasan untuk menghentikan program tersebut karena dimaksudkan untuk memanfaatkan panas bumi. Artinya, kehadiran Geothermal Wae Sano diyakini akan memberikan manfaat dan menguntungkan negara, khususnya masyarakat Manggarai Barat.

Yang perlu diingat, demikian Dula, pemerintah sudah menetapkan Pulau Flores sebagai pulau panas bumi. Pemerintah melihat bahwa panas bumi Flores ini akan bermanfaat untuk Indonesia.

“Untuk itu, tidak perlu menolak. Jangan dulu lihat Indonesia-nya, lihat dulu lokal, lihat Manggarai Barat, lihat NTT, lihat Flores,” tandas Dula, yang juga Ketua DPD PAN Kabupaten Manggarai Barat ini.

Ia bahkan menegaskan, pembangunan Geothermal Wae Sano tidak akan merusak lingkungan atau alam. Pembangunan tersebut tidak seperti tambang.

“Saya melihat pembangunan ini, yang paling pertama, tidak merusak lingkungan. Tidak seperti tambang. Saya terkenal sebagai salah satu bupati yang paling menolak tambang. Sehingga kalau ada masyarakat yang mengganggap itu tambang, saya pasti tolak,” ujar bupati Manggarai Barat dua periode itu.

Dula juga mengingatkan, betapa pentingnya energi panas bumi di masa depan. Apalagi ke depan, BBM akan semakin sulit.

“Jadi, berbahagialah kita di Indonesia yang masih memiliki panas bumi, masih memiliki alam yang bisa digunakan untuk daya listrik. Kalau potensi ini ada, kenapa tidak dioptimalkan?” kata Dula.

Diketahui, Geothermal Wae Sano ini merupakan salah satu dari 37 geothermal yang ada dalam program pemerintah pusat melalui BUMN. Hanya saja belum mulai digarap, megaproyek ini sudah mendapatkan banyak penolakan.

Penolakan seperti dilakukan oleh para aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ruteng, yang langsung menyampaikan aspirasinya kepada Bupati Manggarai Barat dan DPRD Kabupaten Manggarai Barat.

“Sejak awal, proyek geothermal yang dikerjakan oleh PT SMI ini mendapat penolakan dari masyarakat. PT SMI tidak obyektif dalam menganalisis dan mengkaji dampak negatif dari proyek Geothermal Wae Sano,” kata Ketua PMKRI Ruteng Ignasius Padur, dalam orasinya di depan Kantor Bupati Manggarai Barat.

Menurut dia, sejak awal PT SMI berjanji bahwa masyarakat akan dievakuasi. Namun kemudian PT SMI dengan gampangnya mengatakan bahwa tidak akan ada evakuasi.

Ia juga menyebut, proyek geothermal tersebut justru akan membuat konflik sosial di Wae Sano. Sebab dalam proyek ini, ada masyarakat yang setuju dan ada yang menolak.

“Ini pasti akan menimbulkan konflik sosial antara masyarakat pro dan kontra. Masyarakat dan pemerintah. Itu pasti terjadi. Karena itu, pemerintah Kabupaten Manggarai Barat harus menghentikan rencana pengembangan proyek Geothermal Wae Sano,” tandas Padur. (KI21)

Check Also

Ajak Masyarakat Vaksin dan Jaga Imun, Togar Situmorang: Jangan Remehkan Virus Corona!

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Hampir dua tahun dunia dirundung bencana wabah virus corona. Virus yang berasal …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *