Home / Pariwisata / Gaduh Wisata Ramah Muslim, Togar Situmorang: Bali dan Toba Sudah Moslem Friendly

Gaduh Wisata Ramah Muslim, Togar Situmorang: Bali dan Toba Sudah Moslem Friendly

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Konsep wisata halal, kembali gaduh. Kali ini, pemicunya adalah lontaran Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Wishnutama, yang konon intinya adalah menyulap objek pariwisata Danau Toba dan Bali menjadi wisata ramah Muslim.

Pernyataan Menparekraf ini, memicu beragam reaksi, terutama dari Bali. Bahkan Gubernur Bali Wayan Koster, menyarankan Wishnutama untuk mempelajari dan memahami terlebih dahulu mengenai kebijakan pembangunan kepariwisataan yang sudah jalan selama ini. Sehingga tidak terlontar celetukan-celetukan yang sifatnya kontra produktif.

Para pelaku pariwisata di Bali pun, tak kalah geramnya setelah membaca statemen Wishnutama ini. Sementara pengamat kebijakan publik Togar Situmorang, SH, MH, MAP, menyarankan agar ada baiknya Menparekraf fokus pada pengembangan kepariwisataan untuk Bali yang menyumbang devisa sangat besar kepada negara.

Togar Situmorang yang juga advokat senior ini berpandangan, toleransi umat beragama sesungguhnya sudah menjadi daya dukung tersendiri bagi wisawatawan mancanegara. Khusus Bali dan Danau Toba sebagai destinasi wisata dunia, menurut advokat yang dijuluki Panglima Hukum ini, pada dasarnya mengusung pariwisata budaya lokal dengan daya tarik seperti adat istiadat dan beragam kesenian tradisi lainnya.

“Masyarakat Bali dan Toba merupakan mayoritas beragama non Muslim, namun tetap sepenuhnya mengakomodir agama lain termasuk Islam. Sehingga branding pariwisata budaya Bali dan Toba tidak perlu diubah menjadi wisata halal bersyariah,” ujar Togar Situmorang, di Denpasar, Selasa (12/11/2019).

Advokat yang menerima penghargaan Indonesia Most Leading Award 2019 dan terpilih sebagai The Most Leading Lawyer In Satisfactory Performance Of The Year ini sependapat dengan pernyataan Gubernur Koster mengenai wisata halal bersyariah agar “jangan ganggu konsep wisata Bali karena pariwisata Bali mengandalkan kekayaan adat dan budaya termasuk keramahan kepada semua turis di dalamnya”.

“Para wisatawan datang ke Bali, baik dari dalam maupun luar negeri, disambut dengan baik tanpa melihat apa daerah asalnya, apa agamanya, dan lain sebagainya,” tandas Togar Situmorang, yang juga Ketua Pengcab POSSI Denpasar dan Dewan Penasehat Forum Bela Negara Provinsi Bali, ini.

Ia lalu mencontohkan Raja Salman yang pernah berlibur ke Bali dan bahkan memperpanjang beberapa hari liburannya. Raja Salman tidak pernah melontarkan keluhan bahwa Bali tidak ramah bagi Muslim.

“Karena Raja Salman datang ke Bali bukan mencari pariwisata halal, melainkan mencari Bali sebagai destinasi wisata,” tegas Managing Partner Law Office Togar Situmorang & Associates yang beralamat di Jalan Tukad Citarum Nomor 5A Renon, Denpasar dan Jalan Gatot Subroto Timur Nomor 22 Denpasar ini.

Selama di Bali, imbuhnya, Raja Salman membutuhkan hal-hal yang tidak bertentangan dengan keyakinannya sebagai seorang Muslim. Seperti makanan yang halal, tempat ibadah, dan produk-produk halal lainnya semua didapat di Pulau Dewata.

“Karena sejatinya Bali mengembangkan pariwisata berbasis budaya, keramahannya untuk semua umat manusia, bahkan semua makhluk, sesuai ajaran ‘Tri Hita Karana’ memuliakan sesama manusia, alam dan Tuhan. Jadi jelas, pariwisata Bali sudah pasti Moslem friendly juga,” tutur Togar Situmorang.

Bahkan dalam konteks pengembangan pariwisata, lanjutnya, Bali mengeluarkan Perda Nomor 2 Tahun 2012 yang isinya merupakan sari-sari kearifan lokal Bali yang telah dibangun ratusan tahun dan tidak pernah ada wacana pariwisata Bali bersifat diskriminatif pada golongan wisatawan tertentu.

Hanya saja, demikian Ketua Komite Hukum RSU dr Moedjito Dwidjosiswojo Jombang, Jawa Timur, ini regulasi wisata harus dilakukan dengan konsisten. Misalnya terkait jam tutup bar, harus tepat waktu. Tidak ada yang sampai pagi. Pengawasan terkait minuman alkohol dan peredaran narkoba harus juga konsisten, sehingga tidak ada bule mabuk berkelahi dan merasa istimewa perlakuannya.

“Seperti kata Kapolda Bali Irjen Petrus Reinhard Golose, yang memastikan tidak akan tebang pilih menindak para bule-bule pembuat onar di Pulau Dewata,” tandas Togar Situmorang, yang menerima penghargaan Best Winners – Indonesia Business Development Award.

Ia pun menghimbau kepada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di bawah pimpinan Wishnutama, untuk mendengar dan menyerap lebih banyak lagi tentang nilai-nilai budaya Bali. Selain itu, menyandingkannya dengan prinsip-prinsip bernegara yang berdasarkan Pancasila, dan menjaga budaya nusantara yang bhineka ini secara baik.

“Jadi sebaiknya Menparekraf fokus pada pengembangan kepariwisataan untuk Bali yang menyumbang devisa sangat besar kepada Negara,” ujar Togar Situmorang.

Mengenai Danau Toba, Togar Situmorang yang terdaftar dalam penghargaan Indonesia 50 Best Lawyer Award 2019 ini juga menjelaskan filsafat Batak “Dalihan Natolu” yaitu sebagai landasan bersosial dan bermasyarakat di daerah itu.

“Somba marhula-hula, manat mardongan tubu dan elek marboru. Tempat status sosial, lakukan yang menjadi hak dan kewajibanmu,” pungkas Togar Situmorang, yang masuk daftar 100 Advokat Hebat versi Majalah Property&Bank ini. (KI4)

Check Also

Ketua PHRI Badung Minta Pelaku Pariwisata Dukung Kebijakan Pemerintah dalam Penanggulangan Covid

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Pandemi Covid-19 yang berlangsung kurang lebih 1,5 tahun telah memporak-porandakan kondisi pariwisata …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *