Home / Politik / DPRD Bali Gelar Pecaruan Dhurga Maya

DPRD Bali Gelar Pecaruan Dhurga Maya

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Upacara Pecaruan Dhurga Maya digelar di Gedung DPRD Provinsi Bali, Senin (28/10/2019). Upacara tingkat utama ini di-puput Ida Sri Bagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pemayun dari Griya Kedatuan Kawista, Tabanan.

Upacara yang dihadiri Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati dan seluruh anggota Dewan ini digelar untuk menetralisir energi negatif yang ada di seputar lingkungan gedung DPRD Bali. Selain pecaruan, juga dilangsungkan tabuh rah di Halaman Gedung Dewan.

“Mecaru Dhurga Maya dijalankan karena sejak gedung DPRD dibangun belum pernah ada upacara sebesar ini. Gedung ini merupakan panggung publik, dan sering terjadi interaksi antara masyarakat dengan anggota Dewan. Tentunya ada hal-hal tertentu yang tidak bagus, baik disengaja maupun tidak,” papar Ketua DPRD Provinsi Bali Nyoman Adi Wiryatama, di sela-sela upacara tersebut.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi selama itu, demikian politikus asal Tabanan ini, menjadi terakulumasi sekian lama dan akan mempengaruhi tempat dan orang yang tinggal di dalam Gedung DPRD. Energi negatif itu, menurut dia, yang hendak dinetralisir (somya) dengan upacara Dhurga Maya.

“Ini sesuai petunjuk Ida Bagawan. Harapannya agar anggota Dewan yang baru bisa berpikir jernih, tidak emosi, dan sesuai dengan cita-cita bersama,” jelas Adi Wiryatama.

Disinggung upacara ini tidak dilangsungkan bersamaan dengan piodalan pura setempat agar efisien, ia menegaskan, tidak selalu efisiensi sebuah upacara yadnya diukur dengan irit biaya. Yang menjadi pertimbangan adalah petunjuk dari Ida Bagawan, yang menyebut Senin sebagai hari baik untuk nyomia butha kala karena bertepatan dengan tilem (bulan mati).

“Kami setuju dan percaya bahwa apa petunjuk Ida Bagawan pasti sudah ada hitung-hitungan sastra agamanya,” ujar mantan bupati Tabanan dua periode ini.

Soal adanya tabuh rah atau sabungan ayam usai upacara, Adi Wiryatama menjelaskan, hal tersebut merupakan bagian dari tradisi butha yadnya. Sesuai tradisi, setiap pecaruan pasti ada tabuh rah, yang tujuannya agar ada darah ayam menetes.

“Darahnya itu untuk menenangkan butha kala. Sudah tradisi itu, kami tidak mau ke luar dari itu,” pungkas Adi Wiryatama. (KI4)

Check Also

Resmi Berlabuh di Partai Golkar, Nyoman Tirtawan: Kembali ke Kawitan

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Nyoman Tirtawan akhirnya memilih berlabuh ke Partai Golkar, setelah dipecat oleh Partai …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *