Home / Hukum / Dokter Reisa: Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan Meningkat Selama Pandemi Covid-19
Duta Adaptasi Kebiasaan Baru Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, dr Reisa Broto Asmoro. (istimewa)

Dokter Reisa: Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan Meningkat Selama Pandemi Covid-19

Jakarta (KitaIndonesia.Com) – Kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia dilaporkan meningkat selama pandemi Covid-19. Kekerasan berbasis gender ini perlu disikapi dengan serius mengingat kebutuhan korban menjadi dilematis.

Hal ini diungkapkan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, dr Reisa Broto Asmoro, di Media Center Gugus Tugas Nasional, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Jumat (10/7/2020).

“Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak P2TP2A dan Komnas Perempuan mencatat peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan sebesar 75% sejak pandemi Covid-19,” ucapnya.

Dikatakan, kekerasan berbasis gender dapat terjadi di wilayah pribadi seperti di dalam rumah tangga, dan di wilayah publik seperti di tempat kerja atau di tempat umum. Selain itu, kekerasan juga bisa terjadi dalam situasi normal ataupun situasi sulit, seperti bencana dan konflik.

“Korban seharusnya tidak dibiarkan sendirian menghadapi kekerasan dan harus tetap mendapatkan bantuan dari pihak lain, meskipun dalam kondisi pandemi ini,” ujar Reisa.

Dilematika pemenuhan kebutuhan bantuan terhadap korban saat ini, imbuhnya, mengharuskan kecermatan petugas atau pendamping terkait situasi dan kondisi penularan Covid-19 pada saat memberikan bantuan. Oleh karenanya, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) bersama United Nations Fund for Population (UNFPA) menetapkan protokol penanganan kasus kekerasan berbasis gender yang dapat digunakan sebagai protokol bersama dalam penanganan kekerasan.

BACA JUGA:   Bandara dan Pelabuhan di Labuan Bajo Tetap Dibuka, Lockdown Gagal Diberlakukan

“Hal ini ditujukan agar korban dan lembaga penyedia layanan tetap bisa memberikan penanganan kasus dengan merujuk pada protokol tersebut,” jelasnya.

Reisa menambah, terdapat beberapa panduan yang dapat dilakukan oleh korban kekerasan berbasis gender untuk mendapatkan bantuan.

“Pertama, korban bisa melapor ke pemerintah setempat. Di Jakarta misalnya, tersedia layanan call center untuk melayani pengaduan kekerasan,” tuturnya.

Kemudian, Reisa juga mengingatkan bahwa pelayanan bantuan bagi korban kekerasan berbasis gender tetap dibuka dengan mengutamakan protokol kesehatan.

“Misalnya dengan cara pencatatan semua dokumen dan penanganan korban kekerasan dilakukan secara online oleh petugas,” urainya.

Korban kekerasan, lanjut dia, dapat meminta bantuan dari orang terpercaya yang mampu memberikan dukungan, baik secara psikologis dan medis, serta sebisa mungkin membantu ke luar dari situasi yang dapat menyebabkan kekerasan tersebut kembali terulang. Selanjutnya bagi masyarakat yang bukan sebagai korban, dapat membantu dengan bersuara serta memastikan diri untuk berkata ‘tidak!’ terhadap kekerasan dalam bentuk apapun.

Terakhir, Reisa mengimbau untuk tetap memberikan dukungan terhadap korban melalui kelompok-kelompok anti kekerasan berbasis gender sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintah untuk memotong rantai kekerasan.

“Mari, peduli dan lindungi mereka, karena itu artinya, melindungi diri kita dan bangsa,” pungkas Reisa. (KI-33)

Check Also

PGN Minta Aparat Panggil Tokoh Demo Tolak Rapid dan Swab Test

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Aksi demo menolak rapid test dan swab oleh sejumlah warga di Lapangan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *