Home / Peristiwa / Dihantam Hoaks Daur Ulang, STIKOM Bali Pertimbangkan Upaya Hukum
Pembina Yayasan Widya Dharma Shanti Denpasar Prof Dr I Made Bandem, saat menyampaikan klarifikasi dan pernyataan sikap terkait hoaks yang beredar beberapa hari terakhir. (kitaindonesia.com/san edison)

Dihantam Hoaks Daur Ulang, STIKOM Bali Pertimbangkan Upaya Hukum

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Beberapa hari terakhir, ITB STIKOM Bali dihantam hoaks. Lembaga pendidikan tinggi ini dikaitkan dengan ISIS, karena memiliki kendaraan bermotor roda empat bernomor polisi 1515. Tak hanya itu, Rektor ITB STIKOM Bali Dr Dadang Hermawan, juga dikait-kaitkan lantaran posisinya sebagai ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Bali.

Gerah dengan informasi bohong yang beredar luas di masyarakat melalui media sosial ini, para petinggi ITB STIKOM Bali langsung “turun gunung” memberikan klarifikasi, di Denpasar, Selasa (3/12/2019). Klarifikasi dilakukan langsung oleh Rektor ITB STIKOM Bali Dr Dadang Hermawan.

Hadir pula pada kesempatan tersebut Ketua Yayasan Widya Dharma Shanti Denpasar Drs Ida Bagus Dharmadiaksa, MSi, Ak, Pembina Yayasan Prof Dr I Made Bandem, Pengawas Yayasan Ir Nyoman Swastika serta Wakil Ketua Yayasan Marlowe Bandem.

Dalam klarifikasi yang disampaikan di hadapan wartawan tersebut, pihak ITB STIKOM Bali memastikan bahwa apa yang beredar di media sosial beberapa waktu terakhir adalah hoaks yang didaur ulang. Sebab isi dalam kontain yang beredar, tak beda jauh dengan yang terjadi sebelumnya.

“Sebenarnya hoaks yang beredar merupakan pengulangan apa yang pernah terjadi di tahun 2015 lalu,” jelas Rektor ITB STIKOM Bali Dr Dadang Hermawan. “Ketika itu, persoalan ini sudah diklarifikasi dan tuntas,” imbuhnya.

Ia pun menyayangkan ketika hoaks ini kembali beredar beberapa hari belakangan ini, terutama di Facebook dan WhatsApp Group. Pihaknya pun sedang mengkaji hal ini dan selanjutnya mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum.

Hal tak jauh berbeda dilontarkan Ketua Yayasan Yayasan Widya Dharma Shanti Denpasar Drs Ida Bagus Dharmadiaksa, MSi, Ak. Bahkan dengan nada keras, Bagus Dharmadiaksa mengatakan bahwa jika pada hoaks episode pertama pihaknya bisa bersabar, maka kali ini kesabaran itu sudah hilang.

Pihaknya akan mengambil langkah hukum sesuai dengan perundangan yang berlaku, untuk menyikapi informasi sesat yang merugikan ITB STIKOM Bali tersebut. Apalagi, konten hoaks ini diproduksi ulang, dan sangat mendiskreditkan ITB STIKOM Bali.

“Kalau Prof Bandem mungkin bisa bersabar. Tapi saya dalam hal ini, akan mengambil sikap melakukan upaya hukum, karena ini menyangkut keberadaan lembaga pendidikan ITB-STIKOM,” tandasnya.

Selanjutnya, Wakil Ketua Yayasan Widya Dharma Shanti Denpasar Marlowe Bandem membeberkan kronologis hoaks daur ulang bertajuk “Masyarakat Bali vs STIKOM Bali” tersebut. Menurut dia, tim forensik digital ITB STIKOM Bali telah melakukan penelusuran terkait beredarnya informasi bohong tersebut.

“Konten hoaks ini bersumber dari sebuah postingan lama tertanggal 28 November 2015 di Facebook, yang bertajuk ‘Masyarakat Bali vs STIKOM Bali Scorenya 4:0’ yang dishare/dibagikan kembali oleh sebuah akun pada Jumat, 29 November 2019, pada Pukul 12:11 PM,” jelas Marlowe.

Selanjutnya, kata dia, postingan tersebut juga dishare oleh setidaknya 18 akun Facebook sepanjang tanggal 29 November sampai 1 Desember 2019. Bahkan satu akun membagi ulang postingan lama tersebut sebanyak dua kali. Selain itu, ada postingan yang dibagikan secara khusus ke berbagai grup Facebook yang berkaitan dengan komunitas atau ikatan kekeluargaan Semeton Bali.

Tak hanya itu, sebab konten lama itu juga dibagikan via WhatsApp. Teks dari postingan lama didaur ulang dengan di-copy dan di-paste dengan pencantuman sebuah nama dan nomor telepon genggam. Konten lama yang didaur ulang ini selanjutnya diteruskan melalui WhatsApp dan secara khusus menargetkan sharing kepada grup-grup WhatsApp yang beranggotakan komunitas atau warga Bali.

“Tanpa mengecek kebenaran konten, dan tanpa berusaha mengonfirmasi kebenarannya secara resmi ke ITB STIKOM Bali, konten hoaks bermuatan SARA yang telah dikemas ulang tersebut ramai dishare di WhatsApp,” ujar Marlowe.

“Pertanyaannya kemudian dan ini juga ditanyakan oleh banyak pihak adalah kenapa memosting ulang konten lama dari 28 November 2015 dan menyamarkannya seolah-olah konten baru? Permasalahan tahun 2015 yang dikaitan dengan Saudara Dadang Hermawan dan STIKOM Bali sudah tuntas setelah adanya klarifikasi dari yang bersangkutan, dan hal tersebut telah diterima dengan lega oleh publik luas,” imbuhnya.

Menurut dia, hoaks ini tak hanya membuat perasaan tak enak dan berdampak kerugian kepada Tri Dharma Perguruan Tinggi ITB STIKOM Bali. Yang tak kalah penting, hoaks dan ujaran kebencian ini meresahkan dan berpotensi memecah-belah kerukunan, kepercayaan, dan kedamaian di Bali dan bahkan Indonesia.

Setelah klarifikasi ini, pihaknya mengajak para pemangku kepentingan, pimpinan lembaga pemerintahan, pimpinan perguruan tinggi, tokoh masyarakat, media massa, dan pihak aparat penegak hukum, untuk berdialog dan mengkaji permasalahan ini agar tak terulang kembali di masa mendatang.

“ITB STIKOM Bali akan bekerja sama dan meminta bantuan secara resmi dari pihak kepolisian untuk menganalisa motif dari hoaks bermuatan SARA ini. Bilamana ditemukan unsur-unsur kesengajaan untuk mendiskreditkan dan merugikan ITB STIKOM Bali secara moral maupun material, ITB STIKOM Bali akan berkoordinasi dengan mitra LBH untuk menempuh jalur hukum,” pungkas Marlowe. (KI4)

Check Also

Patung Gajah Mada dan Kebo Iwo Hadir di Jantung Kota Tabanan Bali

Tabanan (KitaIndonesia.Com) – Dua patung sosok legendaris sejarah nusantara Patih Gajah Mada dan Kebo Iwa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *