Home / Peristiwa / Nasional / Di Hadapan Menteri BUMN, Duet Parta – Demer Perjuangkan Nasib 360 Security Bandara di Bali
Nyoman Parta (kanan) dan Gde Sumarjaya Linggih alias Demer (kiri) saat berdiskusi dengan Menteri BUMN Erick Thohir (tengah) usai Raker. (istimewa)

Di Hadapan Menteri BUMN, Duet Parta – Demer Perjuangkan Nasib 360 Security Bandara di Bali

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Dua wakil rakyat Bali di Senayan, masing-masing Nyoman Parta dan Gde Sumarjaya Linggih alias Demer, kompak memperjuangkan nasib 360 security avsec Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, yang terancam dipecat.

Politisi PDI Perjuangan dan Partai Golkar itu menyampaikan langsung polemik seputar security avsec ini di hadapan Menteri BUMN Erick Thohir, dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi VI DPR RI dengan Kementerian BUMN.

“Kami berdua, saya dan Pak Gde Sumarjaya Linggih, telah menampaikan persoalan security avsec Airport I Gusti Ngurah Rai, langsung dalam Raker dengan Kementerian BUMN, yang dihadiri oleh Menteri BUMN Erick Tohir beserta Wakil Menteri I Pahala Nugra M dan Wakil Menteri II Kartika Wirjoatmodjo,” kata Nyoman Parta, dalam keterangan tertulisnya, Kamis 2 Desember 2021.

Menurut Nyoman Parta, Menteri BUMN merespons baik hal ini. Bahkan dipastikan bahwa selama 6 bulan ke depan, tidak ada rasionalisasi security avsec.

“Rasionalisasi security avsec akan ditunda selama 6 bulan, menunggu perkembangan pariwisata Bali, dan kelancaran kegiatan rangkaian G-20 di Bali,” ujar Nyoman Parta.

“Jadi untuk 6 bulan ke depan, security avsec bisa bekerja seperti biasa, tidak ada yang diberhentikan. Astungkara, pariwisata Bali segera bangkit sehingga tidak perlu ada rasionalisasi atau pengurangan personil security avsec,” imbuhnya.

Sebelumnya, perwakilan security avsec mendatangi Rumah Aspirasi Nyoman Parta, Minggu 21 November 2021 lalu. Mereka mengadukan keresahan karena terancam kehilangan pekerjaan akibat kontrak kerja yang tidak dilanjutkan oleh PT Angkasa Pura Supports (APS), anak perusahaan PT Angkasa Pura 1.

Pengaduan tersebut dilakukan setelah mereka mendapat Surat Edaran (SE) dari PT Angkasa Pura 1 sebagai pemberi kerja. Surat Edaran tersebut berisi syarat kembali bekerja di APS. Salah satunya tidak bertato dan bertindik.

“Kami tidak akan diperpanjang kontrak karena ada rasionalisasi dari perusahaan kami. Cara untuk melakukan rasionalisasi ini diadakan seleksi ulang,” jelas Agus Amik Santosa, salah satu perwakilan pekerja.

“Di situ ada tiga kriteria. Tidak boleh bertato, bertindik dan batas umurnya 45 tahun. Otomatis, semua ini gugur, sehingga timbul keresahan dari teman-teman. Apalagi ada yang kerjanya sudah lama,” urainya.

Dari total 360 security yang terancam kehilangan pekerjaan tersebut, ada yang sudah bekerja 13 hingga 20 tahun. Di antara mereka, sudah pernah bertato dan pernah bertindik saat sebelum menjadi security avsec dan selama ini tidak ada masalah.

Sementara itu Stakeholder Relation Manager Angkasa Pura I (Persero) Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Taufan Yudhistira, meluruskan bahasa pemecatan terhadap security avsec yang bertato dan bertindik. Menurut dia, penggunaan istilah pemecatan tidak benar.

Yang benar, menurut dia, para pekerja itu sudah habis masa kontraknya pada 31 Desember 2021 nanti. Hal itu tidak hanya terjadi pada security avsec, namun di semua lini.

“Kalau pemecatan tidak, mereka memang kontraknya habis di 31 Desember 2021. Terus 1 Januari kontrak baru. Kontrak baru mereka harus seleksi ulang. Kenapa seleksi ulang? Karena jumlah SDM kami bandingkan dengan kebutuhan operasional juga kondisi perusahaan. Mau m tidak mau harus ada seleksi ulang,” ujar Taufan Yudhistira. (KI-01)

Check Also

Laksmi Shari dari Bali Terpilih Sebagai Puteri Indonesia 2022

KitaIndonesia.Com – Laksmi Shari De Neefe Suardana terpilih sebagai Puteri Indonesia 2022 setelah menyisihkan puluhan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *