Home / Peristiwa / Nasional / Covid-19 dan Misa (Perayaan Ekaristi) Online

Covid-19 dan Misa (Perayaan Ekaristi) Online

Oleh: RD Stephanus Turibius Rahmat
(Dosen Unika Santu Paulus Ruteng)

PANDEMI Covid-19 yang menyerang dan merenggut ribuan jiwa manusia saat ini mau menunjukkan bahwa manusia modern memiliki batas-batas diri tertentu. Betapa tidak, virus ini telah menghentikan semua bentuk aktivitas manusia, aktivitas sosial, budaya, bahkan aktivitas keagamaan yang bersifat massal.

Ketika semua kesibukan dan rutinitas manusia dipaksa berhenti, mobilitas yang tinggi dipaksa untuk diam, kebisingan dan hiruk – pikuk dipaksa senyap, dan segala rutinitas keseharian diputus mata rantainya, komunio atau persekutuan dalam mengungkapkan iman kepercayaan dipaksa ditiadakan, kita, masyarakat modern, terlempar ke keterasingan yang mengerikan. Harus diakui bahwa masyarakat modern adalah masyarakat yang tenggelam dalam rutinitas keseharian yang padat, yang selalu bergerak, tak kenal diam.

Namun, saat ini, ketika Covid-19 memutuskan semua mata rantai rutinitas, kita seakan-akan didesak untuk menepi pada eksistensi dan terlempar kepada kesendirian. Kita tentu saja bisa memilih antara rasa takut atau kecemasan eksistensial. Rasa takut menuntut kita untuk memperhatikan semua instruksi pemerintah dan tenaga kesehatan agar terhindar dari paparan Covid-19.

Tetapi, manusia yang otentik bisa melampaui sekadar rasa takut menuju kepada kecemasan eksistensial. Dengan berhentinya roda kesibukan dan berkurangnya mobilitas manusia, kita diajak untuk pulang ke rumah eksistensi kita, merenungkan palung terdalam kehidupan kita. Di sana, di ruang percakapan dengan eksistensi, kita mungkin akan menemukan bahwa di samping segala bentuk idealisme kemajuan dan arogansi kemewahan yang memaksa kita untuk terus bergerak, bising, hiruk-pikuk, tenggelam dalam rutinitas dan jadwal yang serba padat, eksistensi kita sesungguhnya rapuh dan terbatas.

Oleh rasa takut, kita tentu melawan Covid-19. Tetapi, oleh kecemasan eksistensial, ancaman Covid-19 membuat kita sadar akan kerapuhan eksistensi kita masing-masing. Sebagai makhluk yang ber-Tuhan, kita juga merasa tidak memiliki daya atau kekuatan sendiri untuk melawan penyebaran virus ini.

Atas dasar itulah, peristiwa mewabahnya Covid-19 ini menjadi saat bagi kita, orang-orang beriman untuk kembali ke dalam keheningan diri sendiri dan sambil belajar dari peristiwa yang mencemaskan dan menakutkan ini. Kita belajar untuk mengalami kenyataan yang pahit dan tidak pernah terjadi dalam sejarah hidup kita sebagai warga Gereja bahwa pada masa darurat Covid-19 ini, kita terpaksa tidak merayakan misa, adorasi, salve, dan kegiatan kerohanian lainnya sebagai suatu persekutuan umat Allah Kristiani.

Kita harus merayakan misa online yang disiarkan secara langsung atau live streaming melalui media TV atau Youtube untuk keluarga-keluarga atau komunitas yang bisa dijangkau oleh askes internet. Perayaan misa online seperti ini tentu tidak menerima Komuni atau Hosti Kudus.

Namun, umat beriman ketika mengikuti misa online dapat mendaraskan doa Komuni Batin atau Komuni Kerinduan atau Spiritual. Ketika misa online ini digelar selama masa darurat virus corona ini terdapat pertanyaan dari kalangan umat, seperti mengapa misa harus dibuat secara online dan apa kekuatan misa online? Tulisan ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan ini.

Makna dan Kekuatan Misa Online

SEIRING meluasnya pandemi Covid-19, Gereja Katolik mondial, baik pimpinan Gereja universal yaitu Paus di Vatikan, maupun banyak Gereja lokal di berbagai Konferensi, memutuskan dan sudah mulai melakukan atau merayakan ibadah, salve, dan misa online melalui teknologi live streaming. Berkat kemajuan teknologi, dunia tetap terkoneksi, sehingga kita dapat berpartisipasi bersama dalam perayaan atau Ibadat Liturgi yang dibutuhkan.

Sebagai umat Katolik, kita juga patut bersyukur bahwa komunitas-komunitas Gereja tetap terkoneksi berkat kesatuan simbol dan tanda dalam ritus Liturgi, sehingga kita dengan mudah mengikuti dan memaknai suatu perayaan misa live streaming dari Gereja Katolik di seluruh dunia.

Misa online dilakukan ketika kita sedang berada dalam situasi khusus, bukan situasi biasa atau normal. Ciri khusus yang dimaksud, selain terkait bahaya pandemi Covid-19, juga faktor teknis, yaitu bahwa pelaksanaan misa online sangat bergantung pada ketersediaan jaringan internet dan sarana digital yang dimiliki. Namun situasi khusus juga dapat dimengerti dengan kasus yang relevan dengan Gereja Indonesia.

Dengan pandemi ini, banyak dari kita mulai menyadari adanya kehausan akan pelayanan misa di Gereja. Situasi khusus ini, mendorong tumbuhnya rasa solidaritas dengan komunitas Gereja lokal lainnya, supaya tetap melaksanakan misa secara live streaming. Keputusan menyikapi pandemi Covid-19 ini diambil berdasarkan Dekrit dari Kongregasi Suci untuk Ibadah Ilahi dan Tata Tertib Sakramen Nomor Prot.153/ 20, bahwa “dalam kurun waktu Covid-19, tahun ini perayaan misa di Gereja bersama umat ditiadakan”.

Perayaan-perayaan ini dilakukan secara online dari gereja-gereja dan umat mengikutinya dari rumah masing-masing. Misa online ini menjadi jalan bagi Gereja untuk mendukung upaya pemerintah yang melarang berkumpul dan menjaga jarak dengan orang lain demi mencegah penyebarluasan Covid-19.

Para Uskup dan umat Kristiani seluruh dunia, lebih khusus di Indonesia, berkomitmen untuk menerapkan social distancing dan physical distancing atau pembatasan sosial atau jaga jarak yang ditetapkan oleh pemerintah. Salah satunya adalah selama masa darurat Covid-19 perlu menghindari pengumpulan massa atau umat dalam perayaan-perayaan resmi Gereja di setiap Gereja. Komitmen Gereja Katolik dilaksanakan dalam bentuk misa online secara live streaming.

Misa online tentu mempunyai makna dan kekuatan tersendiri bagi umat beriman yang merayakannya. Pastor Andreas Atawolo OFM, Dosen Teologi Dogmatik di STF Driyarkara, Jakarta, dalam artikelnya berjudul “Misa Online Banyak Maknanya” (https://andreatawolo.id/2020) menjelaskan bahwa dalam misa online ini, umat beriman pada prinsipnya “berpartisipasi” dan “bukan sekadar menonton”.

Partisipasi yang dimaksud ialah adanya Imam Katolik merayakan misa yang disiarkan secara live, dan di saat yang sama umat berpartisipasi melalui media digital, tentu sejauh dapat dijangkau. Hal ini umumnya terjadi di kota-kota yang bisa dijangkau oleh jaringan internet. Frase “di saat yang sama” mau menegaskan bahwa orang berpartisipasi ketika perayaan misa itu berlangsung, bukan menonton sebuah film atau video tentang perayaan misa.

Jadi, secara spiritual atau secara batin, umat Katolik terlibat dalam perayaan misa yang dipimpin oleh seorang Imam Katolik secara online. Umat beriman bukan hadir sebagai orang yang menonton perayaan misa, tetapi seluruh dirinya terlibat secara spiritual atau batiniah dalam perayaan tersebut.

Sama halnya, ketika seseorang yang sakit serius atau terhambat oleh alasan lain, tidak mendapat pelayanan misa di Gereja, tetapi dapat mengikuti dengan niat hati, seluruh siaran langsung perayaan misa dari Basilika Santo Petrus di Vatikan. Orang ini bukan sekadar menonton, tetapi berpartisipasi secara spiritual dalam misa.

Tentu muncul pertanyaan lanjutan, apakah misa online itu sah? Tentu sah dalam konteks situasi khusus yang kita hadapi saat ini, masa darurat Covid-19, dimana kita semua wajib untuk menghindari semua bentuk kerumunan masa. Walaupun kerinduan kita untuk menerima Tubuh Kristus dalam rupa Hosti Kudus tidak terjadi.

Namun, kekurangan ini tidak perlu menjadi alasan untuk meremehkan makna misa online. Kekurangan ini menjadi kesempatan bagi kita untuk berdoa mengundang Tuhan hadir dalam hati kita. Sebab, communio (persekutuan) tanpa menerima Hosti, menjadi saat bagi segenap Umat Katolik untuk sadar bahwa makna simbol “tubuh dan darah” itu terbatas, namun kasih Tuhan tidak dibatasi oleh simbol. Kita memang makhluk yang  terbatas, namun dikasihi Tuhan tanpa batas ruang dan waktu. Persekutuan Gereja Umat Allah yang merayakan Ekaristi tidak melulu badani atau kehadiran secara fisik di Gereja, tetapi juga spiritual atau batin.

Pada saat merayakan misa online ini, umat tidak menerima Hosti Kudus. Umat menerima komuni kerinduan, secara batin atau spiritual. Komuni spiritual, atau komuni batin merupakan keinginan mendalam setiap umat beriman untuk bersatu dengan Yesus Kristus dalam Ekaristi Kudus sebagai tanggapan akan keinginan Tuhan sendiri atas persatuan tersebut.

Hal itu terungkap dalam doa komuni batin yang sudah disiapkan khusus. Artinya, sebelum melakukan komuni spiritual, umat yang hadir misa online harus mempersiapkan diri. Dalam komuni spiritual itu, umat beriman diajak untuk berdoa dan mengundang Tuhan hadir secara rohani ke dalam hati setiap umat.

Atas dasar itulah, umat yang mengikuti misa online wajib mengikuti panduan seperti mempersiapkan diri dengan baik (mandi terlebih dahulu dan memakai pakaian yang sopan dan pantas, membuat persiapan diri layaknya mengikuti misa di gereja); menyiapkan tempat yang pantas, misalnya ruang tamu, ruang keluarga, ruang doa (sebaiknya tidak mengikuti misa online di atas tempat tidur atau di kamar mandi); jika memungkinkan, siapkan salib dan lilin untuk mendukung suasana doa; menyiapkan hati untuk mengikuti misa; mengikuti misa dengan fokus, khusuk, dan berdoa sepenuh hati; membuat Tanda Salib, baik di awal dan akhir misa; mengikuti misa dengan duduk, tidak perlu berdiri atau berlutut; pada saat memasuki penerimaan Komuni Kudus, silahkan mendoakan doa komuni spiritual yang sudah disiapkan dengan sepenuh hati.

Jika demikian, maka misa online tetap memiliki makna dan kekuatan spiritual bagi umat beriman yang mengikutinya.

Misa Online: Menghidupkan Doa Keluarga

SEBUAH catatan Video Animasi yang dikeluarkan oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Agung beberapa waktu yang lalu, menarik untuk direnungkan tentang kenyataan misa online di mana umat terlibat secara spiritual di rumah. Kenyataan saat ini, Gereja menjadi kosong dan tinggal Imam yang merayakan Ekaristi:

Apakah saat ini Gereja bubar atau bahkan Gereja menjadi semakin banyak? Pintu Gereja ditutup hari Minggu, iblis bertepuk tangan, sorak-sorai, sepertinya dia telah menang atas Gereja. Sesaat kemudian, iblis kaget karena dia melihat altar gereja sudah berpindah ke rumah setiap umat. Kedengaran di rumah-rumah ada misa online. Kebiasaan iblis adalah menyerang di beberapa tempat di mana orang berkumpul untuk misa atau beribadah. Kini, iblis bingung karena Gereja mengalami multiplikasi atau lebih banyak dari biasanya. Di semua area pertahanan iblis, terdengar pujian, penyembahan, firman Tuhan dan doa. Iblis jadi bingung, ada apa lagi ini?

Gereja bukan bangunan. Ternyata, iblis tidak paham kalau Gereja itu bukan gedung atau tempat berkumpul. Gereja itu adalah umat Allah atau persekutuan orang yang yakin dan percaya pada Tuhan. Gereja tidak akan punah. Alam maut pun tidak akan mampu menghancurkan Gereja.

Peristiwa virus ini terjadi saat kita berada dalam minggu-minggu Prapaskah, ketika kita merayakan Pekan Suci, saat kita mengingat dan merenungkan kematian Tuhan Yesus di kayu salib. Iblis mengira bahwa kalau kematian Tuhan Yesus di kayu salib adalah kemenangan pada pihaknya. Namun justru terbalik, karena kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus adalah kemenangan atas dosa dan maut yang menyelamatkan umat manusia.

Jadi, sebenarnya dengan merayakan misa secara online, umat terdorong untuk semakin berdoa, menyanyikan pujian dan penyembahan di mana-mana, teristimewa di rumah. Sebab, keluarga juga sering disebut ecclesia domestika (Gereja Rumah Tangga). Gereja yang sesungguhnya itu ada di rumah-rumah, di tengah keluarga, ketika umat beriman merayakan imannya dengan sungguh.

Dengan demikian, meskipun tidak terdapat kontak secara indrawi antarumat maupun antara umat dan Imam selebran yang memimpin misa, mereka semua tetap bersatu karena satu iman dalam Kristus. Mereka bersatu secara batiniah dan spiritual. Sebab, pusat atau sentral Perayaan Ekaristi adalah Yesus Kristus sebagai Penyelamat.

Sebagai contoh, antara Paus Fransiskus yang merayakan Ekaristi di Vatikan dan seorang umat di pedalaman Manggarai  terdapat sebuah ikatan batin secara spiritual karena keduanya bersatu dalam Gereja Katolik yang Satu, Kudus, Umum, dan Apostolik.

Oleh karena itu, penting untuk diketahui bahwa ‘communio spiritual’ bukan hal yang tiba-tiba muncul karena situasi khusus seperti sekarang ini, tetapi ini juga menjadi kekuatan Gereja Katolik. Ada communio spiritual antara Paus sebagai Uskup Roma dengan umat Katolik se-dunia. Ada ikatan batin yang menghidupkan dan saling meneguhkan dan menguatkan. Dimensi ini justru melekat pada makna Ekaristi.

Sejak mengatakan ‘Ini Tubuh-Ku, ambillah dan makanlah’, ‘Inilah Darah-Ku, ambillah dan minumlah’, lalu berkata: ‘Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku’ (Bdk. 1Kor 11: 23-26, Luk 22: 15-20, Mrk 14: 22-25, Mat 26: 26-29), Yesus sendiri telah meletakkan dengan kokoh dasar spiritual bagi persekutuan Gereja dalam Perayaan Ekaristi. Situasi khusus sekarang ini justru membuka kesadaran kita bahwa communio spiritual itu justru menjadi akar dari seluruh hidup Gereja.

Ketika jemaat awal mengalami situasi khusus, yaitu dikejar-dikejar, ingatan mereka akan kata-kata dan pesan Yesus pada Perjamuan Akhir itulah yang menjadi dasar ikatan batin mereka. Ekaristi Gereja, baru menjadi meriah seiring perkembangan Liturgi, tetapi fondasinya ialah Kristus kepala Gereja. Dengan demikian, communio spiritual berkaitan dengan ikatan batin dalam keluarga atau komunitas kita sebagai anggota Umat Allah.

Mengikuti misa secara live streaming bersama anggota keluarga atau komunitas kecil menjadi sebuah kesempatan untuk merasakan kedekatan, seperti pengalaman jemaat-jemaat awal. Dalam situasi khusus ini, kita tentu tidak perlu mengharapkan sebuah perayaan meriah yang melibatkan banyak petugas. Kiranya cukup saja beberapa petugas yang semuanya berada di dekat Imam, yang tanpa kesulitan dapat melakukan tugas rangkap. Sedangkan, umat lain yang mengikuti dari rumah atau komunitas dapat berpartisipasi dengan hening. Dengan demikian, communio spiritual mendapat tempat utama, dan tidak diganggu hasrat ingin berpartisipasi aktif.

Situasi saat ini membuka kesempatan bagi kita untuk memaknai Ekaristi tidak hanya pada ritus-ritus atau simbol-simbol belaka. Tindakan dan kata-kata Yesus pada Perjamuan Akhir bukan drama bagi para Murid. Di banyak kesempatan, Yesus telah mewujudkan pelayanan dan pemberian diri. Jadi, Yesus tidak memisahkan ritus yang Dia buat pada Perjamuan Akhir dengan sikap konkret-Nya sehari-hari kepada sesama.

Perayaan Ekaristi tidak selesai sebagai ritual di altar, melainkan mengalir sebagai “Ekaristi dunia” lewat cara hidup. Dalam Ekaristi, kita memohon perubahan sikap atau transformasi hidup kita kepada ibu semesta.

Berhadapan dengan invasi Covid-19 saat ini, sebagai umat Tuhan, kita harus bersatu dalam doa. Kita perlu membuang semua bentuk ego individu seperti sikap tidak peduli, tidak percaya, lalai/ lengah, tidak menganggap serius semua yang terjadi saat ini. Kita harus bergandengan tangan dengan pemerintah untuk melawan penyebaran virus Covid-19 di setiap kota sampai di ujung desa.

Misa online menjadi salah satu jalan bagi gereja untuk menghindari kerumunan umat. Kita percaya bahwa Tuhan hadir di setiap rumah atau tempat tinggal kita. Tuhan Yesus akan membentengi dan meluputkan seluruh Gereja, jika iman kita tetap teguh dan menjadikan rumah kita sebagai menara atau rumah doa setiap keluarga. Jika demikian, maka, semua roh ketakutan, kekuatiran diganti dengan roh damai sejahtera, suka cita, ketenangan dan kekuatan. Tinggikan dan besarkanlah Tuhan Yesus. Tuhan pasti akan bangkit di setiap rumah orang-orang yang percaya pada-Nya jika kita jadikan rumah sebagai tempat berdoa.

Misa online menyadarkan setiap keluarga Katolik untuk menghidupkan kembali kebiasaan doa di rumah masing-masing, yang mungkin selama ini sudah pudar atau bahkan hilang. Oleh karena itu, selama masa darurat Covid-19 ini, tinggal di rumah, berdoa dan merayakan misa online dari rumah secara secara live streaming. Inilah cara atau jalan bagi kita, umat beriman untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus corona.

Kita pasti bisa melawan virus ini jika kita patuh dan setia melaksanakan instruksi pemerintah dan arahan Gereja. Kita mempunyai tugas untuk menjaga kehidupan yang sangat berharga ini.

Presiden Ghana, Nana Addo Dankwa Akufo-Addo, dengan sangat lantang berbicara soal Covid-19 yakni perekonomian suatu negara bisa dihidupkan kembali jika mati karena pengaruh Covid-19. Akan tetapi, jika manusia mati karena Covid-19, tidak bisa dihidupkan kembali. Sebelum terlambat, mari kita berusaha menjaga hidup yang sangat berharga ini dengan merayakan iman kita di tengah keluarga masing-masing. ***

Check Also

Rencana Bali Dibuka Bagi Wisman, Jamaruli Manihuruk: Petugas Imigrasi Selalu Siap di Lapangan

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Pemerintah berencana membuka pintu bagi kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) ke Indonesia. Sebagai …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *