Home / Peristiwa / Nasional / Buka Even Sampingan Perdana G20 di Labuan Bajo, Wapres Bicara Soal Krisis Air Global
Wapres Ma'ruf Amin (lima dari kiri) saat membuka acara The 2nd Asia International Water Week (AIWW) di Labuan Bajo, Senin 14 Maret 2022. (instagram/@kyai_marufamin)

Buka Even Sampingan Perdana G20 di Labuan Bajo, Wapres Bicara Soal Krisis Air Global

KitaIndonesia.Com – Wakil Presiden (Wapres) RI Ma’ruf Amin membuka secara resmi acara The 2nd Asia International Water Week (AIWW) yang diselenggarakan oleh The Asia Water Council bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin 14 Maret 2022.

AIWW yang dijadwalkan berlangsung Senin 14 Maret sampai Rabu 16 Maret 2022 ini merupakan agenda perdana kegiatan sampingan G20 di Labuan Bajo.

Kurang lebih 12 kegiatan sampingan yang akan digelar di Labuan Bajo. Setiap kegiatan dengan tema yang berbeda-beda, dan berlangsung sampai September 2022.

Khusus AIWW ini, digelar untuk mengatasi urgensi pemecahan masalah air, mencari peluang potensial proyek air, memperkuat kemitraan publik-swasta serta mempercepat aksi air secara global.

Itu sebabnya saat membuka kegiatan ini, Wapres Ma’ruf Amin secara khusus berbicara tentang krisis air global. Menurut dia, saat ini di banyak wilayah di dunia sedang mengalami krisis air.

Krisis air ini perlu mendapat perhatian serius komunitas global. Salah satunya adalah dengan memberikan perhatian khusus pada isu air, terutama menyangkut ketersediaan air bersih.

“Saya mengajak perhatian dan kerja sama dari komunitas global agar memperhatikan isu air, khususnya terkait ketersediaan air bersih,” ucapnya.

Wapres mengatakan, sebagian besar bumi memang berisi air. Bahkan hampir 71 persennya. Namun demikian, hanya 13 persen di antaranya berupa air tawar yang bisa dimanfaatkan.

“Permasalahan air memang mendasar dan krusial untuk kehidupan,” tegas Wapres, dalam konferensi AIWW dengan tema ‘Sustainable, Clean, and Sufficient Water for All’ ini.

Pada kesempatan tersebut, Wapres pun menyebut salah satu pemicu krisis air global, yakni pertambahan penduduk dan pembangunan yang secara otomatis meningkatkan konsumsi air bersih.

“Dampak dari situasi ini adalah terjadinya kesenjangan antara ketersediaan air dan kebutuhan air. Hal tersebut menyebabkan krisis air yang serius di banyak wilayah di dunia,” jelas Ma’ruf Amin.

Wapres bahkan merujuk hasil penelitian, di mana setengah dari populasi dunia diperkirakan mengalami kelangkaan air atau water scarcity pada tahun 2025.

“Sementara pada 2030, sekitar 700 juta orang dapat mengungsi karena kelangkaan air,” bebernya.

Ia menambahkan, terus meningkatnya konsumsi air bersih selama pandemi Covid-19, turut berdampak pada ketersediaan air bersih.

Bahkan studi terbaru Indonesia Water Institute, konsumsi air bersih selama pandemi Covid-19 pada akhir 2020  meningkat tiga kali lipat ketimbang sebelum pandemi. Total konsumsi air rumah tangga, mencapai 900 hingga 1.400 liter per hari.

“Penelitian di beberapa negara juga menunjukkan tren serupa. Hal ini menunjukkan kebutuhan ketersediaan air bersih sebagai sarana untuk mendukung perilaku higienis, menjadi tantangan tersendiri di tengah pandemi,” papar Wapres.

Pada kesempatan yang sama, Wapres juga menyinggung soal keterkaitan antara air bersih dan sanitasi dengan kemiskinan di Indonesia. Ia menyebut, banyak daerah miskin di Indonesia karena minimnya ketersediaan air bersih dan sanitasi. Padahal, kedua hal ini dapat mengurangi tingkat kemiskinan.

“Bagi kita di Indonesia (ketersediaan air) menjadi masalah karena kita memang memerlukan air dan mengatasi stunting (tengkes) juga perlu ketersedaiaan air,” ucapnya.

“Air dan sanitasi dapat mengurangi kemiskinan. Daerah-daerah miskin itu sangat kurang air dan sanitasi,” imbuh Ma’ruf Amin.

Penyediaan air bersih, demikian Wapres, juga menjadi salah satu program pemerintah untuk mencapai SDM unggul.

“Karena SDM unggul juga sangat terkait dengan kesehatan, dan kesehatan terkait dengan air. Jadi, air itu sumber kehidupan dan sumber pembangunan ekonomi, terutama pertanian,” tandasnya.

Itu juga sebabnya, lanjut Wapres, Indonesia membangun berbagai bendungan dengan membangun lebih dari 60 bendungan dan 1.000 embung.

“Masih akan terus dibangun. Kita harapkan dari forum ini akan lahir gagasan-gagasan besar dan strategis untuk mengatasi kekurangan air,” kata Ma’ruf Amin.

Ia menambahkan, rendahnya akses terhadap infrastruktur dasar yang meliputi air bersih, sanitasi, dan listrik, akan sangat berkorelasi pada penanganan tiga permasalahan yang saat ini menjadi fokus kerja pemerintah Indonesia.

Ketiganya adalah penghapusan kemiskinan ekstrem, pembangunan SDM unggul, dan penurunan angka tengkes.

Ketiadaan air bersih di suatu wilayah, disebutnya menandai kemiskinan dan ketimpangan. Sebab di wilayah-wilayah miskin ekstrem, umumnya minim akses terhadap air bersih.

Dari 35 kabupaten di Indonesia dengan kemiskinan ekstrem pada 2021, seluruhnya ditandai dengan fakta adanya penduduk yang tidak memiliki akses air minum layak. Angkanya berkisar antara 4,48—97,21 persen. (KI-01)

Check Also

Laksmi Shari dari Bali Terpilih Sebagai Puteri Indonesia 2022

KitaIndonesia.Com – Laksmi Shari De Neefe Suardana terpilih sebagai Puteri Indonesia 2022 setelah menyisihkan puluhan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *