Home / Peristiwa / Nasional / Berkurban Tanpa Covid-19

Berkurban Tanpa Covid-19

Oleh: RD Stephanus Turibius Rahmat
(Dosen Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng)

PADA hari Jumat, 31 Juli 2020, umat Islam di seluruh dunia merayakan Lebaran Idul Adha. Idul Adha merupakan salah satu hari besar terpenting bagi umat Islam di seluruh dunia. Hari Raya Idul Adha bagi umat Islam dirayakan dalam konteks menyambut momen istimewa dengan menjalankan Salat Id, yang dilanjutkan dengan ritual ibadah lainnya, yakni menyembelih hewan kurban sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.

Perayaan kali ini dirayakan di tengah dunia dan bangsa Indonesia dilanda bahaya pandemi Covid-19. Pandemi ini telah menyebabkan kehidupan manusia berada dalam krisis global. Pandemi Covid-19 telah membatasi ruang gerak umat beragama untuk mengekspresikan imannya. Sebab, kegiatan keagamaan juga menjadi kesempatan bagi setiap orang beriman untuk berkumpul bersama merayakan imannya.

Tidak berbeda jauh dengan hari-hari besar agama lainnya, perayaan Idul Adha lazimnya kerap identik dengan berkumpulnya massa dalam suatu kawasan untuk beribadah, bertemu muka, bertegur sapa, dan berbagi. Kondisi sosial yang sama, pasti berlangsung pula pada Hari Raya Idul Adha 1441 H tahun ini. Di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir ini, konsentrasi massa semacam itu menimbulkan kerentanan akan bahaya penularan virus yang belum ada vaksin atau obatnya itu.

Atas dasar itulah, pemerintah selalu menghimbau untuk menghindari pengumpulan massa dalam jumlah yang banyak selama masa darurat Covid-19 ini. Cara ini dinilai efektif untuk memutuskan mata rantai penularan virus.

Dalam rangka menyongsong perayaan Lebaran Idul Adha tahun ini, Editorial Media Indonesia, pada hari Sabtu, 25 Juli 2020 mengangkat tema “Berkurban Tanpa Covid-19” (https://mediaindonesia.com/editorials/). Media Indonesia menulis bahwa dalam kaitan dengan upaya menghentikan penyebaran Covid-19, kita harus mengapresiasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang telah menerbitkan Fatwa MUI Nomor 36 Tahun 2020 Tentang Salat Idul Adha dan Penyembelihan Hewan Kurban saat Wabah Covid-19.

Dalam fatwa tersebut, MUI mendorong agar pelaksanaan Salat Idul Adha mengikuti fatwa-fatwa sebelumnya, yakni Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Ibadah di Saat Wabah Pandemi Covid-19 dan Nomor 28 Tahun 2020 Tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Salat Idul Fitri saat Pandemi Covid-19. Dalam fatwa itu, MUI hanya mengizinkan salat Idul Adha dirayakan dan dilaksanakan di tanah lapang, masjid, musola, atau tempat lain di kawasan yang telah terkendali dan diyakini tidak terdapat penularan Covid-19.

Walaupun demikian, pelaksanaan ibadat harus tetap mengindahkan protokol kesehatan. Arahan MUI dalam fatwa tersebut bertujuan untuk mendorong umat Islam di zona penyebaran Covid-19 supaya tetap memperhatikan protokol kesehatan dengan melaksanakan salat Idul Adha di rumah saja, baik berjemaah maupun sendirian (munfarid). Hal ini tentu sama seperti ketika pelaksanaan salat Idul Fitri beberapa waktu yang lalu, MUI mendorong agar semua umat Islam menaati sepenuhnya imbauan atau arahan terkait dengan pelaksanaan Salat Idul Adha.

Lebih lanjut, dalam bedah editorial tersebut disampaikan bahwa di luar prosesi Salat Idul Adha, setidaknya terdapat dua critical point yang harus dicermati dan diantisipasi karena dapat meningkatkan potensi penularan virus.

Pertama, biasanya perayaan Idul Adha menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mudik ke kampung halaman. Perihal mudik, MUI sekali lagi mengingatkan warga agar menahan diri dan mengurungkan niat pulang ke kampung halaman. Mudik, suka tidak suka, cenderung meningkatkan pula potensi penularan virus, baik saat perjalanan menuju kampung halaman, selama berada di kampung, maupun ketika kembali dari perjalanan mudik.

Kedua, saat penyembelihan hewan kurban, yang lazimnya membuat warga berkumpul. Terkait dengan prosesi penyembelihan hewan kurban yang cenderung menarik warga berkumpul, MUI mendorong panitia kurban mengindahkan benar protokol kesehatan sesuai Surat Edaran Kementerian Pertanian Nomor 8 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Kurban dalam Situasi Wabah Bencana Nonalam Covid-19.

Selain berpatokan pada surat edaran tersebut, panitia kurban dihimbau dan bahkan didorong untuk meniadakan acara pembagian jatah hewan kurban secara tatap muka. Kegiatan tersebut sebaiknya dilakukan tanpa ada kerumunan warga, baik yang datang untuk sekadar menonton maupun yang berniat mengantre jatah kurban. Alangkah bijak dan eloknya jika jatah hewan kurban diantarkan saja ke rumah-rumah warga yang berhak menerimanya.

Sama seperti saat Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha kali ini juga berlangsung tatkala kurva penambahan kasus Covid-19 belum juga melandai, bahkan semakin melonjak. Kita semua tentu tidak ingin di hari besar tersebut berlangsung pula momentum penularan virus.

Kedua critical point ini penting untuk diperhatikan dan dilaksanakan, sebab dengan cara seperti itu umat Islam mau berkurban untuk tidak mudik, tidak berkumpul dan meniadakan acara pembagian jatah hewan kurban secara tatap muka. Dengan menjalankan kedua hal ini, umat Islam sebenarnya telah berkurban tanpa Covid-19. Artinya, umat Islam seluruh dunia, khususnya di Indonesia, telah berkurban untuk tidak melakukan sesuatu yang lazim dan penting dilaksanakan pada saat perayaan Idul Adha demi menghentikan penularan Covid-19.

Hal ini tentu tidak mengurangi multidimensi makna perayaan Idul Adha. Substansi perayaan Idul Adha sebagai salah satu perayaan penting bagi umat Islam tetap ada, bahkan semakin diperkuat walaupun dirayakan dengan cara seperti ini.

Bagi umat Islam, Perayaan Idul Adha juga menjadi momen solidaritas saling berbagi dengan sesama. Sebab, umat Islam meyakini bahwa berkurban mengajarkan sifat berbagi, memupuk rasa empati, meningkatkan ketaqwaan, rezeki berlimpah, dan sudah pasti mendapat banyak pahala.

Solidaritas Saling Berbagi

SITUASI krisis akibat pandemi Covid-19 mengajak setiap manusia untuk memiliki sikap kepedulian sosial. Dalam situasi krisis ini, umat Islam melalui perayaan Idul Adha diajak untuk memperkuat semangat berkurban dan berbagi. Dalam konteks inilah, Hari Raya Kurban atau Lebaran Idul Adha yang dirayakan umat Islam ini merupakan ibadah rohani yang mengandung multi makna.

Penulis teringat akan acara bedah Editorial Media Indonesia pada tanggal 12 Agustus 2019, tahun lalu, yang bertajuk “Solidaritas Saling Berbagi”. Pada acara ini dipertegas lagi multidimensional Lebaran Idul Adha. Dalam acara tersebut dikutip pesan Presiden RI, Bapak Ir Joko Widodo bahwa “momen Idul Adha dapat meningkatkan kesalehan sosial di antara sesama masyarakat. Kesalehan sosial harus dibangun di atas landasan yang kokoh, yaitu solidaritas sosial melalui mekanisme saling berbagi”.

Perayaan Idul Adha tentu tidak hanya berdimensi vertikal, yakni hubungan antara manusia dan Sang Pencipta, melainkan juga berdimensi horizontal, yakni momen untuk memperkuat hubungan yang harmonis antarsesama manusia. Dalam dimensi vertikal, ibadah kurban mengajarkan umat Islam untuk memiliki sifat patuh, tunduk, dan berserah diri atas apa yang menjadi perintah Allah SWT. Kepatuhan dan ketaatan seperti ini telah ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim As pada saat diperintahkan untuk menyembelih anaknya, Ismail. Namun, atas kuasa-Nya, korban sembelihan tersebut diubah menjadi seekor domba.

Lebaran Idul Adha menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk meneladani sikap Ibrahim dan Ismail sebagai wujud kepatuhan dan ketaatan dalam rangka meningkatkan derajat ketaqwaan sebagai hamba Allah Sang Pencipta. Ketaqwaan dalam berkurban merupakan kunci kepasrahan dan totalitas pengabdian umat Islam sebagai hamba Allah.

Dalam dimensi horizontal, ibadah kurban mengajarkan umat Islam untuk memiliki kepekaan atau kepedulian sosial (solidaritas sosial) yang tinggi terhadap sesama. Ajakan untuk memiliki semangat saling berbagi ini menjadi suatu keharusan (conditio sine qua non) terutama pada saat ini, ketika masih banyak orang yang terkategori sebagai penduduk miskin (the haves nots). Jutaan penduduk Indonesia yang hidup dalam kemiskinan, sehingga membutuhkan bantuan atau pertolongan dari sesama yang memiliki kelebihan dalam hidupnya (the haves).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2019 sebesar 9,22%, menurun 0,44% dari September 2018. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, jika dilihat dari jumlahnya, penduduk miskin pada September 2019 sebesar 24,79 juta dari yang sebelumnya 25,67 juta orang.

Meskipun secara total kemiskinan menurun, masih banyak persoalan yang dihadapi, salah satunya adalah masih tingginya disparitas kemiskinan antara  kota dan desa. Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2019 sebesar 6,56% dari yang sebelumnya 6,89% atau turun 0,33%. Sementara penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2019 sebesar 12,60% turun dari sebelumnya 13,10% atau 0,50%.

Selain itu, penurunan angka kemiskinan diikuti dengan berubahnya garis kemiskinan yang menjadi Rp 440.538 per kapita dari sebelumnya sebesar Rp 425.250 per kapita pada Maret 2019 (https://nasional.kontan.co.id/news/bps). Kelompok penduduk yang terkategori miskin ini benar-benar berada pada posisi paling bawah dalam strata ekonomi masyarakat Indonesia.

Momentum Hari Raya Kurban yang dirayakan ini menjadi saat penuh rahmat bagi umat Islam untuk menunjukkan sikap bela rasa (compassion), empati, dan kasih sayang kepada masyarakat yang berkekurangan dalam hidupnya. Perayaan Idul Adha harus ditempatkan dalam konteks solidaritas saling berbagi kepada sesama.

Hari Raya Kurban menjadi kesempatan berbagi kegembiraan bagi masyarakat yang hidupnya berkecukupan atau memiliki rezeki yang lebih. Daging hewan kurban yang disembelih dan dibagikan kepada umat yang membutuhkan merupakan manifestasi atas sikap peduli (care) kepada sesama. Seseorang akan peduli jika memiliki concern (perhatian yang besar), affection (kasih), acknowledgement (pengakuan), relationship (hubungan), respect (rasa hormat) dan enthusiasm (antusias).

Idul Adha mesti dirayakan sebagai momen untuk menumbuhkan sikap positif yakni mengimplentasikan nilai-nilai cinta kasih, keikhlasan, dan persaudaraan dalam hidup bersama dengan yang lain. Semangat seperti ini perlu dibangun karena fakta menunjukkan bahwa kebersamaan kita sebagai anak bangsa sedang diuji oleh kepentingan kelompok tertentu yang cenderung anarkis dan intoleran.

Ikatan emosional antara kita semakin renggang karena perbedaan pilihan politik dan kepentingan. Kebersamaan kita sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat dan bersatu sedang ditantang oleh kelompok-kelompok tertentu yang menghendaki ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, suka menyebarkan berita bohong (hoax), ujaran kebencian (hate speech).

Masyarakat kita suka mengedepankan sikap memusuhi, menjatuhkan, tidak peduli, egois, dan hedonis. Kenyataan ini, secara perlahan membuat kita saling curiga, tidak percaya satu sama lain serta menghilangkan semangat solidaritas.

Momentum kurban harus bertolak dari semangat keikhlasan untuk menghilangkan perseteruan dan menumbuhkan kebersamaan yang solid sebagai sesama warga bangsa Indonesia. Pada titik inilah, dimensi horizontal perayaan kurban menemukan konteksnya yakni menumbuhkan sikap solidaritas saling berbagi dengan sesama. Saling berbagi di atas landasan kemanusiaan ini sejatinya tanpa mengenal sekat suku, agama, ras, dan budaya.

Selamat merayakan Hari Raya Idul Adha bagi segenap umat Islam di tanah air dalam spirit berkurban tanpa Covid-19. Mari memperkuat solidaritas saling berbagai terutama di tengah menguatnya krisis global akibat pandemi Covid-19.***

Check Also

Presiden Jokowi: Infrastruktur di Labuan Bajo Sudah Lengkap, Saatnya Promosi Besar-besaran

Labuan Bajo (KitaIndonesia.Com) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan infrastruktur di Labuan Bajo sudah lengkap. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *