Home / Peristiwa / Nasional / Belajar Dari Covid-19

Belajar Dari Covid-19

Oleh: RD Stephanus Turibius Rahmat
(Dosen Unika Indonesia Santu Paulus Ruteng)

JUDUL tulisan ini merupakan tema perayaan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2020. Perayaan Hardiknas tahun ini berlangsung di tengah merebaknya pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Pandemi Covid-19 yang menyerang dan merenggut ribuan jiwa manusia saat ini, mau menunjukkan bahwa manusia modern memiliki batas-batas diri tertentu. Betapa tidak, virus ini telah menghentikan semua bentuk aktivitas manusia yang bersifat individu maupun massal, baik itu aktivitas sosial, budaya, agama, dan aktivitas pendidikan.

Ketika semua kesibukan dan rutinitas manusia dipaksa berhenti, mobilitas yang tinggi dipaksa untuk diam, kebisingan dan hiruk – pikuk dipaksa senyap, dan segala rutinitas keseharian diputus mata rantainya, aktivitas pendidikan terpaksa dilakukan secara online.

Kita, masyarakat modern seperti sedang terlempar ke keterasingan yang mengerikan. Kita harus mengakui bahwa masyarakat modern adalah suatu komunitas masyarakat yang tenggelam dalam rutinitas keseharian yang padat, selalu bergerak, tidak kenal diam. Namun, saat ini, ketika Covid-19 memutuskan semua mata rantai rutinitas, kita seakan-akan didesak untuk menepi pada eksistensi dan terlempar kepada kesendirian.

Kita tentu saja bisa memilih antara rasa takut atau kecemasan eksistensial. Rasa takut menuntut kita untuk memperhatikan semua instruksi pemerintah dan tenaga kesehatan agar terhindar dari paparan Covid-19. Tetapi, manusia yang otentik bisa melampaui sekadar rasa takut menuju kepada kecemasan eksistensial.

Dengan berhentinya roda kesibukan dan berkurangnya mobilitas manusia, semua aktivitas dilakukan dari rumah, kita diajak untuk pulang ke rumah eksistensi kita, merenungkan inti terdalam kehidupan ini. Di sana, di ruang percakapan dengan eksistensi, kita mungkin akan menemukan bahwa di samping segala bentuk idealisme kemajuan dan arogansi kemewahan yang memaksa kita untuk terus bergerak, bising, hiruk-pikuk, tenggelam dalam rutinitas dan jadwal yang serba padat, eksistensi kita sesungguhnya rapuh dan terbatas.

Oleh rasa takut, kita tentu melawan Covid-19. Tetapi, oleh kecemasan eksistensial, ancaman Covid-19 membuat kita sadar akan kerapuhan eksistensi kita sebagai manusia. Kita sebagai manusia tentu berada pada dua kenyataan ini. Di satu pihak, kita menyadari keterbatasan sebagai manusia. Oleh karena itu, kita perlu mendengar dan melaksanakan semua bentuk instruksi atau himbauan yang mengatasi keterbatasan kita sebagai manusia berhadapan dengan Covid-19.

Serentak dengan itu, kita sebenarnya karena didorong oleh rasa takut, mau berusaha untuk melawan penyebaran Covid-19 dengan diam di rumah, bekerja dari rumah, berdoa dari rumah, dan belajar dari rumah. Atas dasar itulah, lembaga pemerintah, swasta, dan lain-lain, sejak pemberlakukan masa darurat Covid-19 telah memutuskan untuk melakukan semua aktivitas dari rumah.

Hardiknas di Tengah Pandemi Covid-19

LEMBAGA pendidikan yang merasakan dampak langsung dari pandemi Covid-19 ini telah berusaha untuk terlibat dalam upaya untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus ini. Semua aktivitas pendidikan dilaksanakan dari rumah seperti belajar dari rumah (study from home) dan kegiatan-kegiatan lainnya yang terkait dengan pendidikan juga berlangsung secara online.

Dalam konteks inilah, maka perayaan Hardiknas tahun 2020 tidak dirayakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Perayaan ini dilaksanakan dengan mengikuti protokol kesehatan yang berlaku di tengah krisis Covid-19. Perayaan yang berlangsung di tengah pandemi Covid-19 ini dilaksanakan secara online. Hal ini sudah ditetapkan dalam Pedoman Penyelenggaraan Hardiknas Tahun 2020 Nomor 42518/ MPK.A/ TU/ 2020 (https://www.kemdikbud.go.id/,2020). Pedoman Penyelenggaraan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2020 disusun dengan memperhatikan Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Coronavirus Disease 2019 dan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020 Tentang Penetapan Bencana Non-Alam Penyebaran Coronavirus Disease 2019 Sebagai Bencana Nasional.

Dalam pedoman tersebut, Kemendikbud mengumumkan tema Hardiknas 2020, yaitu “Belajar dari Covid-19”. Pada pedoman tersebut, Kemendikbud mengimbau setiap satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan, kantor instansi pusat dan daerah, serta perwakilan Republik Indonesia di luar negeri, untuk tidak mengadakan kegiatan atau aktivitas peringatan Hardiknas 2020 yang mengakibatkan berkumpulnya orang banyak pada suatu lokasi.

Kemendikbud juga meniadakan penyelenggaraan upacara bendera yang biasanya dilakukan satuan pendidikan, kantor Kementerian atau Lembaga atau Pemerintah Daerah, serta perwakilan pemerintah Republik Indonesia di luar negeri sebagai bentuk pencegahan penyebaran Covid-19. Kemendikbud tetap menyelenggarakan Upacara Bendera Peringatan Hardiknas Tahun 2020 pada tanggal 2 Mei 2020 Pukul 08.00 WIB, namun dilakukan secara terpusat, terbatas, dan memerhatikan protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19 yang telah ditetapkan pemerintah. Hal ini dilakukan tanpa mengurangi makna, semangat, dan hikmatnya acara Hardiknas.

Perayaan yang sama di tingkat instansi pusat, daerah, satuan pendidikan, serta kantor perwakilan Republik Indonesia di luar negeri dengan upacara bendera secara virtual. Masyarakat atau insan pendidikan tetap dapat memperingati dan memeriahkan Hardiknas Tahun 2020 dengan melakukan beragam aktivitas atau kegiatan kreatif yang menjaga dan membangkitkan semangat belajar di masa darurat Covid-19 dan mendorong pelibatan dan partisipasi publik, serta mematuhi protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19.

Perayaan dengan model seperti ini tentu dalam rangka mematuhi anjuran Bapak Presiden untuk melakukan pembatasan sosial dan jaga jarak (social and physical distancing) untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Belajar Dari Covid-19

PANDEMI Covid-19 telah membawa bencana atau krisis mondial karena telah mematikan semua sektor kehidupan manusia, terutama telah merenggut ratusan ribu jiwa manusia. Akan tetapi, krisis ini juga telah mengajarkan banyak hal positif untuk kita saat ini, termasuk dalam konteks pelaksanaan pendidikan. Lembaga pendidikan didorong supaya harus kreatif dan inovatif dalam mendesaian model pembelajaran yang relevan dengan situasi pandemi Covid-19.

Krisis yang telah merenggut begitu banyak nyawa manusia menjadi tantangan luar biasa bagi bangsa Indonesia dan seluruh dunia. Akan tetapi, krisis ini juga telah menjadi pembelajaran yang berharga untuk diterapkan saat ini dan pasca pandemi Covid-19 berakhir.

Pandemi ini telah menyadarkan para guru, orangtua, siswa, serta pemangku kepentingan yang bergerak pada bidang pendidikan untuk melakukan inovasi dalam pendidikan. Pada saat ini, para guru untuk pertama kalinya melakukan pembelajaran secara daring (virtual) atau online, menggunakan tools atau perangkat baru yang lebih efektif dan efisien. Transformasi model pembelajaran seperti ini menyadarkan kita bahwa sebenarnya pembelajaran bisa terjadi kapan dan di manapun, tanpa harus terikat pada kurikulum yang terkadang kaku dan ketat.

Hal yang sama juga terjadi pada orangtua. Para orangtua untuk pertama kalinya menyadari betapa sulitnya tugas guru. Betapa sulitnya tantangan untuk bisa mengajar anak secara efektif. Hal inilah yang menyebabkan para orangtua bersikap empati kepada guru yang mungkin sebelumnya sikap seperti ini tidak ada.

Kenyataan ini membuka cakrawala berpikir para guru, siswa, dan orangtua bahwa pendidikan itu bukan sesuatu yang hanya dapat terjadi di sekolah, tetapi juga dapat dilakukan di sentra pendidikan keluarga dan masyarakat. Artinya, pendidikan yang efektif itu membutuhkan kolaborasi yang efektif dari komponen utama pendidikan yaitu guru, siswa, orangtua, masyarakat, dan pemerintah. Kolaborasi seperti ini membuat proses pendidikan itu berjalan efektif serta mencapai tujuan yang optimal.

Selain itu, pandemi ini mendorong segenap masyarakat untuk belajar bahwa betapa pentingnya kesehatan, kebersihan, serta norma-norma kemanusiaan di dalam masyarakat. Pandemi ini juga telah melahirkan sikap empati dan solidaritas kemanusiaan di tengah masyarakat. Semua komponen masyarakat dari berbagai latar belakang budaya, agama dan sosial terlibat dalam upaya memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19 ini.

Pandemi ini telah mengobarkan semangat para petugas kesehatan (para dokter, perawat, dan lain-lain) dan para relawan untuk bekerja tanpa kenal lelah bahkan sampai mengorbankan nyawa. Nurani pekerja kemanusiaan ini selalu terjaga, entah kapanpun waktunya. Para pekerja ini bertahan di garis terdepan untuk merawat dengan penuh kasih pasien yang terpapar virus corona. Harapan akan kesembuhan dan kesehatan bagi para penderita berada pada pundak para pekerja kemanusiaan yang berhati tulus seluas samudera ini.

Hal-hal konstruktif seperti inilah yang harus dikembangkan terus selanjutnya. Solidaritas kemanusiaan ini bukan hanya di masa krisis ini, tetapi menjadi semangat hidup bersama pasca krisis ini berlalu. Belajar memang tidak selalu mudah, tetapi inilah saatnya setiap orang harus berkreasi dan berinovasi. Saat ini, kita perlu melakukan berbagai eksperimen yang konstuktif, efektif dan efisien.

Pandemi Covid-19 menjadi momentum berharga bagi kita untuk belajar mendengarkan apa yang baik dan berjuang untuk menjadi bangsa yang lebih baik di masa depan. Krisis yang dialami saat ini merupakan pengalaman yang sangat berarti untuk belajar mengantisipasi bencana-bencana lain yang terjadi di masa depan.

Belajar Menghadapi New Normal

SETELAH pandemi Covid-19, akan terjadi banyak perubahan dalam kehidupan manusia di dunia. Akan terjadi normalitas baru (new normal).

Terminologi new normal diciptakan Roger Mcnamee (2004), seorang investor teknologi paling sukses belakangan ini. Dalam karyanya berjudul ‘The New Normal: Great Oportunities in Time of Great Risk‘, dia menjelaskan lima belas aturan dalam berinvestasi agar dalam kondisi krisis tetap bertahan. Konsep new normal ini menunjukkan sebuah situasi pasca-krisis ekonomi (2007-2008) dan resesi global (2008-2012), yang di saat seperti itu harus ada kesediaan untuk menggunakan aturan yang baru dalam jangka waktu panjang.

Istilah new normal merujuk pada suatu situasi setelah masa sulit (krisis). Dia menyebutnya dengan tatanan baru, kebijakan baru, pola pikir baru, dan aktivitas baru.

Dalam konteks Covid-19, new normal (tatanan baru atau normal baru) menjadi suatu keniscayaan di Indonesia, baik pada aspek ekonomi untuk mencegah perekonomian yang semakin memburuk pasca diberlakukannya PSBB maupun pada aspek sosial untuk mempertahankan dan meningkatkan imunitas kesehatan dan tubuh.

Terdapat empat (4) hal penting untuk memahami new normal terkait Covid-19 dan pasca PSBB.

Pertama, new normal adalah kebijakan membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial dan kegiatan publik secara terbatas dengan menggunakan standar kesehatan yang sebelumnya tidak ada sebelum pandemi.

Kedua, new normal adalah upaya menyelamatkan hidup warga dan menjaga agar negara tetap bisa berdaya menjalankan fungsinya.

Ketiga, new normal adalah tahapan baru setelah kebijakan stay at home, study from home, atau work from home atau pembatasan sosial diberlakukan untuk mencegah penyebaran massif wabah virus corona. New normal berlaku bagi warga yang memerlukan aktivitas luar rumah sehingga dapat bekerja dengan menggunakan standar kesehatan yang ditetapkan. Dengan demikian, bukan sekadar bebas bergerombol atau keluyuran.

Keempat, new normal diberlakukan karena tidak mungkin warga terus menerus bersembunyi di rumah tanpa kepastian. Tidak mungkin seluruh aktivitas ekonomi berhenti tanpa kepastian yang menyebabkan kebangkrutan total, PHK massal dan kekacauan sosial. Inilah dasar pertimbangan pemberlakuan new normal ditengah pandemi Covid-19.

Kita harus mengakui bahwa dalam skala mikro, dampak pandemi Covid-19 telah menempatkan nilai sebuah keluarga semakin meningkat. Selain itu, hal yang menjadi normalitas baru adalah kemampuan untuk bisa beroperasi dari mana pun. Setelah pandemi akan terjadi perubahan besar pada dua sektor sosial, yaitu pendidikan dan kesehatan. Disinilah, peranan teknologi akan segera mendominasi kedua sektor tersebut.

Walaupun masih belum ideal dan optimal, kombinasi pembelajaran tatap muka dan pembelajaran jarak jauh memiliki potensi yang luar biasa untuk memajukan pendidikan nasional. Penggunaan teknologi pembelajaran dengan menerapkan digitalisasi dalam pendidikan nasional akan dapat menciptakan perubahan yang berdampak positif.

Walaupun demikian, peran guru sebagai pendidik tidak akan pernah tergantikan dengan teknologi secanggih dan inovasi sebesar apapun. Pada saat ini, guru dan orangtua dituntut supaya membiasakan diri dengan teknologi untuk mencari informasi dan berkomunikasi, ketika siswa harus belajar dari rumah. Para guru dan siswa harus menguasai teknologi untuk menunjang pembelajaran secara online. Pada era disrupsi teknologi yang semakin canggih, para guru dan siswa harus memiliki kemampuan untuk menguasai teknologi pembelajaran yang sangat bervariasi.

Dengan adanya kebijakan Work From Home (WFH), Study From Home (SFM), maka para guru dan siswa harus mampu menguasai teknologi pembelajaran secara digital sebagai media yang dibutuhkan saat pandemi Covid-19. Para guru dan siswa dapat menggunakan media online sebagai sarana penunjang pembelajaran dari rumah. Pembelajaran virtual seperti ini tidak mengurangi kualitas proses dan materi pembelajaran serta target pencapaian tujuan pembelajaran.

Para guru dan siswa dapat menggunakan berbagai media pembelajaran jarak jauh. Sarana yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran online antara lain e-learning, aplikasi zoom, google classroom, youtube, maupun media sosial whatsapp. Sarana-sarana ini dapat digunakan secara maksimal dalam melangsungkan pembelajaran seperti di kelas.

Dengan menggunakan fasilitas pembelajaran tersebut, para guru dan siswa secara tidak langsung memiliki kemampuan untuk menggunakan serta mengakses teknologi pembelajaran.

Setelah guru mampu menguasai berbagai sarana pembelajaran online, maka akan tercipta pemikiran mengenai model (pendekatan, strategi, metode, teknik dan taktik) pembelajaran lebih bervariasi yang belum pernah guru lakukan sebelumnya. Misalnya, guru membuat konten video kreatif sebagai bahan pengajaran. Dalam hal ini, guru lebih persuasif karena membuat para siswa semakin tertarik dengan materi yang diberikan oleh guru melalui video kreatif tersebut. Para siswa tentu akan terbantu untuk memahami apa yang dijelaskan oleh guru melalui video kreatif.

Dengan itu, penerapan model pembelajaran di rumah secara online dengan media yang menarik tidak membuat siswa merasa bosan untuk mengikuti pembelajaran. Para siswa juga dapat menyelesaikan tugas-tugas sekolah dengan menggunakan fasilitas teknologi online. Hal ini justru dapat mendorong para siswa untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan pengetahuan yang telah dimiliki. Para guru dapat mendesain suatu metode pembelajaran yang bervariasi, kreatif, dan inovatif yang membantu proses pelaksanaan pembelajaran secara online.

Pandemi Covid-19 juga dapat membuat orang tua lebih mudah untuk memonitoring atau mengawasi perkembangan belajar anak secara langsung ketika sedang belajar di rumah. Orang tua lebih mudah dalam membimbing dan mengawasi belajar anak di rumah. Hal ini akan menimbulkan komunikasi yang lebih intensif atau hubungan kedekatan yang lebih erat antara anak dan orangtua. Orangtua dapat membantu dan membimbing anak ketika anak menemukan kesulitan terkait materi pembelajaran yang diberikan guru.

Disinilah, orangtua sebenarnya berperan sebagai pendidik utama dan pertama untuk anak. Orangtua dapat memantau perkembangan kompetensi dan kemampuannya anaknya ketika terjadi kegiatan pembelajaran secara online di rumah. Pada saat inilah terjadi komunikasi yang semakin intens antara orang tua dengan anak.

Selain itu, orangtua dapat mengontrol atau mengawasi anak supaya menggunakan media handphone atau gadget hanya untuk kebutuhan belajar. Dengan itu, anak hanya memanfaatkan teknologi digital untuk hal-hal yang berguna untuk kepentingan belajar, seperti mengakses berbagai sumber pembelajaran yang ditugaskan guru. Anak akan menghindari penggunaan media untuk hal-hal yang kurang bermanfaat atau negatif.

Pandemi Covid-19 justru memperkuat peran serta atau partisipasi orangtua dalam proses pendidikan anak di rumah. Orangtua menjadi sadar bahwa tugas mendidik anak itu penting dilakukan di rumah, bukan hanya menjadi tugas para guru di sekolah. Orangtua bertanggungjawab terhadap perkembangan pendidikan anak.

Kita semua sedang berada dalam masa penuh tantangan menghadapi pandemi Covid-19. Kita tidak tahu kapan badai ini akan berlalu. Kita hanya bisa belajar dari Covid-19.

Pemerintah sendiri tengah mempersiapkan Indonesia memasuki fase new normal di tengah pandemi Covid-19. Masyarakat harus beradaptasi dengan menerapkan protokol kesehatan sebagai gaya hidup. New normal diberlakukan untuk kembali menggerakkan roda perekonomian dan sektor kehidupan lainnya yang selama ini stagnan karena kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Persiapan mental penting dilakukan untuk memasuki new normal. Hal ini bertujuan untuk mencegah diri dari stres karena beradaptasi dengan gaya hidup baru. Persiapan mental yang paling pertama dilakukan adalah menerima realitas bahwa perubahan sedang terjadi.  Kita semua yang telah mengalami pandemi Covid-19 diarahkan untuk mengikuti gerak perubahan tersebut dengan pola hidup yang baru.

Selain itu, hal yang dapat dilakukan adalah mencari informasi yang tepat mengenai perkembangan Covid-19, pastikan bahwa itu bukan berita bohong (hoaks). Sebab, hoaks akan mengganggu aspek psikologis seseorang. Orang akan merasa cemas, kuatir, stres dan bahkan depresi karena hoaks.

Persiapan mental juga dapat dilakukan lewat interaksi dengan teman atau keluarga untuk saling menguatkan, memberi suport secara psikologis supaya dapat menghadapi new normal dengan positif. Hal ini, secara psikologis dapat menguatkan dan meneguhkan satu sama lain. Emosi hati dan pikiran harus disinkron kalau situasi memang berubah.

Di sisi lain, new normal juga akan mengarah ke gaya hidup digitalisasi. Oleh sebab itu, setiap orang perlu melihat peluang ke depan untuk bisa bertahan di era new normal ini. Setiap pribadi harus menyiapkan diri supaya mengenal dan menggali potensi yang dimiliki untuk tetap bertahan hidup.

Pandemi Covid-19 mengajarkan kita supaya mampu bertransformasi dan beradaptasi dengan gaya atau tatanan hidup yang baru. Kita tidak bisa lagi hidup dengan cara hidup yang lama. Kita harus mengalami metamorfosis pola pikir, kebijakan, aktivitas dan cara hidup yang lebih relevan dengan tatanan hidup baru supaya dapat bertahan hidup di tengah pandemi Covid-19. ***

Check Also

Raffi Ahmad Pesta Usai Suntik Vaksin, Togar Situmorang: Bisa Jadi Bumerang Bagi Pemerintah

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Raffi Ahmad mendapat kesempatan disuntik vaksin Covid-19 perdana tanggal 13 Januari 2021 …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *