Home / Peristiwa / Nasional / Anang Hermansyah Berharap Gubernur Bali Buka ‘Gerbang’ Pentas Bagi Musisi
Anang Hermansyah. (istimewa)

Anang Hermansyah Berharap Gubernur Bali Buka ‘Gerbang’ Pentas Bagi Musisi

Jakarta (KitaIndonesia.Com) – Musikus ternama Anang Hermansyah, sangat mengapresiasi perhatian publik pada nasib musisi di tengah pandemi Covid-19.

Mantan anggota DPR RI itu juga berterima kasih atas adanya dorongan publik agar pemerintah daerah mulai membuka ‘gerbang’ pentas bagi musisi, khususnya di daerah-daerah yang menjadikan pariwisata sebagai andalan seperti di Bali.

“Ya, seperti Bali sebagaimana dorongan yang mencuat, saya pikir baik juga jika bisa mulai dibuka ‘gerbang’ pentas bagi para musisi,” kata Anang Hermansyah, di Jakarta, Sabtu 2 Oktober 2021.

Sebagai mantan wakil rakyat di Senayan pada periode 2014-2019, Anang Hermansyah memang dikenal kerap memperjuangkan aspirasi seniman nasional di parlemen.

“Ya bagaimana pun, aspirasi publik harus didengar. Saya kira, baik juga jika Pak Gubernur Bali memberi perhatian serius pada nasib musisi di daerahnya,” tutur Anang Hermansyah.

“Kan ketika, misalnya, konser sudah mulai bisa digelar di sana (Bali, red), maka yang tertolong bukan hanya nasib musisi semata tapi lebih luas lagi. Ini akan membangkitkan kembali gairah pariwisata di Bali sehingga meningkatkan pendapatan daerah. Muaranya ya, kesejahteraan rakyat kita di Bali,” imbuh suami Ashanty itu.

Meski begitu, lanjut Anang Hermansyah, pemerintah Provinsi Bali tentu lebih mengetahui apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan untuk menjaga ekonomi Bali secara umum tetap survive bahkan bangkit.

“Saya percaya kearifan Gubernur dalam mengambil kebijakan. Aspirasi publik, semoga juga didengar,” tandasnya.

“Satu hal yang harus menjadi kunci, jika Gubernur pada akhirnya membuka ‘gerbang’ konser bagi musisi di Bali, maka pelaksana harus memastikan Prokes tetap diterapkan optimal dan menjamin gelaran acara tak menimbulkan klaster baru Covid-19,” imbuh Anang Hermansyah.

Sebelumnya, Peneliti Toma Maritime, Clive Huwae dalam pernyataan tertulisnya sebagaimana dikutip di Jakarta, Jumat 1 Oktober 2021, mengungkapkan mirisnya nasib pekerja seni utamanya musisi lokal di Bali.

Clive menyebut, sejak Instruksi Mendagri Nomor 1/ 2020 dan Nomor 42/ 2021 mulai berlaku, seluruh even-even off air – on air di Bali termasuk penampilan band reguler cafe harus terhenti.

Sebelum kebijakan itu, demikian Clive, pendapatan musisi lokal di Bali bisa mencapai sekitar 500.000 ribu rupiah sampai dengan 1.000.000 juta rupiah per bulannya dari hasil tampil rutin di tempat hiburan, atau yang biasa dikenal dengan istilah ‘reguler’.

Musisi lokal Bali juga bisa mendapat penghasilan sekitar Rp3.000.000 sampai dengan Rp6.000.000 untuk sekali tampil dalam acara perkawinan.

“Kini pendapatan itu berangsur hilang sejak adanya regulasi PSBB dan PPKM. Pada akhirnya, ada beberapa musisi lokal yang terjun ke jalan, seperti ke warung makan dan di traffic light, supaya untuk bisa bertahan hidup saja,” ujar Clive.

Kondisi musisi lokal Bali kian parah karena banyak yang tidak tersentuh bantuan pemerintah.

“Akhirnya, harus bertahan sendiri atas kondisi dan regulasi yang tidak pernah diprediksi akan menggerus pemasukan para musisi lokal,” ucapnya.

“Kebanyakan musisi lokal di Bali sering dapat bantuan dari pemilik restoran, bar ataupun cafe dan penikmat musik saja,” imbuh Clive.

Terkait hal ini, Co-Founder Toma Maritime Rima Baskoro menyatakan, strategi pemerintah melakukan pembatasan jelas telah mengakibatkan penurunan pemasukan bagi pengusaha di bidang hiburan, termasuk tempat – tempat yang biasa mengadakan live music dan diisi oleh artis-artis lokal.

Bali, demikian Rima, merupakan provinsi maritim yang secara langsung menjadi objek kebijakan PPKM yang tertuang dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 1 tahun 2021 dan Nomor 42 tahun 2021.

Menurut dia, pembukaan ‘gerbang’ pelaksanaan acara besar seperti konser maupun resepsi perkawinan yang akan dilakukan pemerintah akan membawa secercah harapan.

“Tapi, tetap ada harapan agar setidaknya regulasi tentang PPKM dapat juga mempertimbangkan kondisi geografis provinsi maritim yang sebagian besar merupakan ruang terbuka dan berbeda dengan kota metropolitan seperti Jakarta,” tandasnya.

“Ada harapan besar agar pemerintah bisa mengizinkan penampilan regular para musisi Bali di restoran, bar, cafe ataupun tempat hiburan terbuka di pinggir pantai misalnya,” pungkas Rima. (KI-33)

Check Also

Presiden Jokowi: Infrastruktur di Labuan Bajo Sudah Lengkap, Saatnya Promosi Besar-besaran

Labuan Bajo (KitaIndonesia.Com) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan infrastruktur di Labuan Bajo sudah lengkap. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *