Home / Hukum / Ahli Waris FBS Cabut Gugatan, Majelis Hakim Tetap Lanjutkan Sidang
Ketut Westra

Ahli Waris FBS Cabut Gugatan, Majelis Hakim Tetap Lanjutkan Sidang

Denpasar (KitaIndonesia.Com)– Kasus terkait mendiang Frans Bambang Siswanto (FBS) yang melayangkan gugatan ke IMS dan penggugat intervensi Hotel Mulia, menarik perhatian. Pasalnya, ketika FBS meninggal dunia, ahli waris sesungguhnya tidak mau melanjutkan kasus tersebut.

Namun di sisi lain, PN Denpasar malah terkesan “ngotot” ingin menyidangkan kasus ini. Kondisi ini memunculkan sejumlah spekulasi, apalagi ada kesan Majelis Hakim tetap melanjutkan sidang atas kasus yang gugatannya sudah dicabut ahli waris tersebut.

Bahkan beberapa ahli hukum, juga menilai ada yang aneh dengan kondisi ini. Ahli Hukum Perdata Dr Ketut Westra SH, MH, misalnya, menjelaskan bahwa perkara perdata beda dengan perkara pidana. Perkara perdata, menurut dia berkaitan antara orang perorangan.

“Beda antara pidana dan perdata. Perdata itu mengacu pada orang perorangan,” papar akademisi Universitas Udayana ini, di Denpasar, Minggu (20/10).

Dalam perkara perdata, imbuhnya, apabila penggugat meninggal dunia, maka gugatan akan dilanjutkan ahli warisnya. Kelanjutan gugatan ini juga akan ditentukan oleh ahli waris. Sebab ahli waris memiliki kewenangan untuk melanjutkan atau menghentikan perkara.

“Dalam perdata, boleh ahli warisnya melanjutkan gugatannya. Namun sangat boleh juga ahli warisnya mencabut atau menghentikan gugatannya,” ujar Westra.

Dikatakan, ketika ahli waris ingin mencabut gugatan, maka semestinya majelis hakim mengabulkannya. Begitu pula sebaliknya, jika ahli waris menghendaki kasus itu dilanjutkan.

“Kalau memang ahli waris mencabut, majelis bisa mengabulkan. Intinya dalam perdata, ahli waris boleh meneruskan atau mencabut (gugatan),” beber Westra.

Hal tak jauh berbeda dilontarkan oleh praktisi hukum Carlie Usfunan. Menurut putra dari Prof Yohanes Usfunan ini, ahli waris bisa meneruskan dan mencabut gugatan, apabila penggugat meninggal dunia.

“Jika pihak ahli waris mencabut gugatan, malah tidak dikabulkan, berarti kasusnya menjadi aneh. Ada apa ini?” tanya Carlie Usfunan.

Tak hanya itu, menurut dia, dalam Yurisprudensi MA Nomor 431K/ Sip/1973 tanggal 9 Mei 1974, menyatakan pada pokoknya bahwa ‘Dengan meninggalnya penggugat asli dan tidak adanya persetujuan dari semua ahli warisnya untuk melanjutkan gugatan semula, maka gugatan harus dinyatakan gugur’.

“Jadi jelas disebutkan, jika ahli waris tidak setuju untuk melanjutkan gugatan semua, maka gugatan seharusnya dinyatakan gugur,” tandas Carlie Usfunan.

Carlie Usfunan

Namun mengacu pada ketentuan Pasal 271 Rv, yang pada pokoknya menyatakan ‘Gugatan dapat dicabut sebelum ada jawaban dari tergugat, bila telah ada jawaban dari tergugat maka harus ada persetujuan tergugat’.

“Namun Pasal 271 Rv hanya berlaku saat penggugat asli masih hidup. Sedangkan bila telah meninggal dunia, maka yang berlaku ketentuan Yurisprudensi MA Nomor 431K/ Sip/1973 tanggal 9 Mei 1974. Yaitu gugur ketika ahli waris tidak bersedia melanjutkan gugatan,” urai Carlie Usfunan.

Apalagi dalam kasus FBS, lanjutnya, jelas – jelas dari informasi yang berkembang, pihak ahli waris sudah memutuskan gugatan atas kasus ini dicabut. Tetapi anehnya, sidang malah dilanjutkan.

“Saya dengar jelas, ahli waris sudah mencabut gugatan. Namun kenapa malah majelis memutuskan melanjutkan sidang? Ini anehnya,” tutur Carlie Usfunan.

Diketahui, kasus ini berawal dengan kasus pidana, atas laporan FBS terhadap IMS terkait keterangan palsu terhadap surat otentik (Sertifikat) yang berada di Hotel Mulia. FBS kemudian melaporkan IMS ke Polda Bali.

Selanjutnya berdasarkan putusan PN Denpasar Nomor 1333/ Pid.B/ 2018/ PN Dps tanggal 25 Februari 2019, IMS divonis 4 tahun. IMS kemudian banding di Pengadilan Tinggi (PT). Di PT, berdasarkan Putusan PT Denpasar Nomor 15/ Pid/ 2019/ PT Dps tanggal 24 April 2019, ditingkatkan hukumannya menjadi 6 tahun.

Setelah bersalah secara pidana, FBS melanjutkan gugatan secara perdata. Namun sebelum kasus ini selesai disidangkan, FBS ternyata meninggal dunia. Akhirnya ahli waris FBS melalui pengacaranya Willing Learned, berkeinginan mencabut gugatan.

Lantaran keluarga masih dalam kesedihan mendalam atas berpulangnya FBS, diajukanlah permohonan pencabutan/ pengguguran perkara ke majelis hakim pada 1 Oktober 2019 lalu. Keinginan ahli waris berdasarkan Yurisprudensi MA Nomor 431K/ Sip/1973 tanggal 9 Mei 1974.

Hanya saja, hakim menolak permohonan itu pada 15 Oktober 2019. Hakim beralasan, Tergugat IMS dan Penggugat Intervensi pihak Hotel Mulia menolak keinginan ahli waris pada tanggal 8 Oktober 2019, dan juga sudah ada jawaban dari pihak Tergugat dan ada Penggugat Intervensi dari Hotel Mulia, dengan mengacu pada ketentuan Pasal 271 Rv.

Padahal Pasal 271 Rv, menurut pengacara ahli waris FBS, hanya berlaku saat Penggugat asli masih hidup. Sedangkan bila Penggugat asli telah meninggal dunia, maka yang berlaku ketentuan Yurisprudensi MA Nomor 431K/ Sip/ 1973 tanggal 9 Mei 1974. (KI4)

Check Also

Togar Situmorang Siap Kawal Korban Kasus Penganiayaan di Lumintang

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Peristiwa pengeroyokan terjadi di sekitar Lumintang, Kota Denpasar, Bali. Pengeroyokan diduga dilakukan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *