Home / Politik / 76 Kelian Subak Diajak Tinggalkan Sistem Tanam Mundur
Keterangan: Mesra kembali. Anak Agung Bagus Adhi Mahendra Putra turun ke lumpur bersama Plt. Ketua DPD 1Golkar Bali, Gde Sumarjaya Linggih alias Demer dalam Karya Bhakti Soksi XI Gerakan Peduli Pertanian, Jembrana. (Istimewa)

76 Kelian Subak Diajak Tinggalkan Sistem Tanam Mundur

Jembrana (KitaIndonesia.Com)– Bale Subak Pangkung Jajung Kelurahan Baler Bale Agung menjadi saksi revolusi di bidang pertanian Bali. Senin, baru-baru ini, 76 kelian subak Bumi Makepung diajak meninggalkan sistem tanam padi mundur alias nandur. Sebagai gantinya, para ketua petani yang rata-rata berusia di atas 50 tahun itu diajak menanam padi maju ke depan. Menariknya, dengan metode ini waktu menanam yang dibutuhkan oleh seorang petani hanya sehari untuk luas sawah 1 hektar. Hal yang sebelumnya mustahil ini terwujud berkat bantuan transplater, yakni mesin otomatis penanam benih padi yang dihibahkan Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) Indonesia.

SOKSI memilih Jembrana untuk menerapkan teknologi pertanian lain seperti Seed Drill (mesin otomatis penanam berbagai jenis benih), Combine Harvester (alat pemanen padi yang dapat memotong buliran tanaman yang berdiri, merontokkan, dan langsung membersihkan gabah sambil berjalan di lahan sawah), Cultivator (mesin pengolahan tanah sekunder), Rotavator (mesin untuk mengolah tanah sebelum benih ditanam), dan sejenisnya karena memiliki luas lahan yang memadai. Lebih dari itu, Jembrana menjadi pilot project lantaran fakta miris; generasi muda Bumi Makepung tidak mau lagi ke sawah.

“Melaib nganginang. Sube sing nyak ke carik. Karena ten wenten melanjutkan, rencananya niki sampun. Alat yang sedang digalakkan niki. (Pergi ke Denpasar dan Badung. Sudah tidak mau ke sawah. Karena tidak ada yang melanjutkan rencananya saya menggunakan teknologi yang sedang digalakkan ini). Jelas orang-orang lokal yang bertani hilang beberapa tahun lagi,” ucap Nengah Suga, Kelian Subak Jelinjing Budeng, Jembrana.

Kepada radarbali.id, Suga mengaku biaya yang dihabiskannya untuk lahan sawah seluas 1 hektar sebesar Rp 7 juta rupiah. Kalau panen, pasti untung. “Panen sekarang per are di atas Rp 300 ribu. Rp 30 juta potong Rp 7 juta. Kan ada keuntungan. Maan lah bedik (dapatlah sedikit) per 90 hari,” ujarnya sembari menyebut banyaknya panen per tahun sangat bergantung ketersediaan air. “Kemarau panjang ne pidan cepok gen panen atiban (kemarau panjang yang dulu cuma sekali panen dalam setahun). Kalau pakai sumur bor biayanya besar,” terangnya.

Menariknya, disinggung terkait sumbangan alat pertanian dari SOKSI, Suga mengaku secara pribadi tidak akan membuat anaknya mau ke sawah. “Sing tolihe. Yen dundun makeliudan. Pang sing uyut, kalian sube. (Tidak dilihat. Kalau dibangunkan dari tidur malas-malasan. Agar tidak ribut ya saya tinggalkan saja),” tandas pria 70 tahun itu. Suga menyebut fakta ditinggalkannya dunia pertanian oleh generasi muda, khususnya Jembrana tersebut merupakan pekerjaan rumah serius pemerintah. Pasalnya, makanan pokok masyarakat Bali masih beras.

Merespons hal tersebut, Ketua SOKSI Provinsi Bali, Anak Agung Bagus Adhi Mahendra Putra tak mau ikut larut dalam kesedihan petani Jembrana. Dengan optimis politisi kelahiran Badung, 14 Februari 1970 itu menegaskan bahwa pertanian di Jembrana akan maju bisa sistem nandur segera ditinggalkan. “Bagaimana pertanian kita bisa maju kalau nanam saja sudah mundur? Oleh karena itu, sejak 2010 saya menggerakkan petani dengan pola menanam maju. Awalnya, tentu petani tentu bingung. Mereka khawatir benih yang ditanam terinjak. Ternyata dengan transplater sesuatu yang sebelumnya mustahil jadi nyata,” ungkap legislator senior Partai Golkar yang kini duduk di Komisi IV DPR RI.

Gus Adhi- Anak Agung Bagus Adhi Mahendra Putra- juga tak mau spesimis dengan masa depan pertanian Jembrana. Buktinya, Taruna Tani Jembrana yang merupakan binaan SOKSI Provinsi Bali telah menciptakan alat pertanian bernama kuku macan. Berguna untuk membasmi gulma atau tumbuhan pengganggu padi. “Pertanian merupakan kata kunci kesejahteraan masyarakat; kata kunci kewibawaan negara; dan kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat,” jelasnya.

Untuk menyelamatkan estafet pertanian Bali, Gus Adhi menjelaskan SOKSI akan menggalakkan tiga langkah maju, yakni penggunaan teknologi pertanian dengan sistem SRI (System of Rice Intensification); mekanisasi pertanian untuk menekan cost atau biaya, mempercepat proses penanaman, dan mengurangi kematian benih; dan pemakaian pupuk organik dari olahan limbah sampah bernama Bio Konversi. “Hal ini bisa meningkatkan kesejahteraan petani, mutu panen, dan kesehatan jasmani, rohani, dan ekonomi petani,” tandasnya sambil menyebut mesin SRI yang sudah dibagikan di Bali berjumlah 275 unit. (KI6)

Check Also

Resmi Berlabuh di Partai Golkar, Nyoman Tirtawan: Kembali ke Kawitan

Denpasar (KitaIndonesia.Com) – Nyoman Tirtawan akhirnya memilih berlabuh ke Partai Golkar, setelah dipecat oleh Partai …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *